Kisah Dewasa – Nafsu Birahi Ibu Guruku

29 Juni 2010 pada 10:58 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebagai siswa sebuah SMU Swasta, aku bukanlah murid yang pintar tapi juga tidak bodoh-bodoh amat. Biasa-biasa saja. Tidak bisa dibanggakan. Yang bisa aku banggakan adalah wajahku yang ganteng dengan bentuk tubuh yang atletis. Tinggi jangkung dan berat yang seimbang. Dan paling aku banggakan adalah ukuran kemaluanku yang luar biasa besarnya, panjangnya 22 cm dengan diameter 5 cm. Membuat iri teman laki-lakiku.

Namaku Doni, cukup terkenal di sekolahku. Mungkin karena aku bandel dan sering berganti-ganti cewek. Banyak teman sekolahku yang pernah aku tiduri. Mereka tergila-gila setelah menikmati kontolku yang luar biasa dan tahan lama kalau bersetubuh.

Sore itu, setelah semua pelajaran selesai aku bergegas pulang kerumah. Semua buku-buku sudah kumasukkan kedalam tas. Kustart sepeda motorku menuju jalan raya. Tapi di tengah perjalanan aku baru ingat, pulpenku tertinggal di dalam kelas. Dengan tergesa-gesa aku balik lagi ke sekolahku. Setelah mengambil kembali pulpenku, aku berjalan lagi menuju parkir sepeda motorku. Untuk mencapai tempat parkir, aku harus melewati ruangan guru.

Ketika melewati ruangan guru-guru, aku mendengan suara mendesah-desah disertai rintihan-rintihan kecil. Aku penasaran dengan suara-suara itu. Aku mendekati pintu ruangan, suara-suara itu semakin keras. Aku semakin penasaran dibuatnya. Kubuka pintu ruangan, dengan berjalan mengendap-endap, aku mencari tahu darimana datangnya suara-suara itu. Begitu mendekati ruangan Bu siska, aku terkejut. Disana kulihat Bu Siska, guru bahasa Inggrisku yang telah setahun menjanda, sedang bercumbu dengan Pak Rio, guru olahragaku, dalam posisi berdiri.

Bibir mereka saling kecup. Lidah mereka saling sedot. Tangan Pak Rio meremas-remas pantat Bu Siska yang padat, sedangkan tangan Bu Siska melingkar dipinggang Pak Rio. Mereka yang sedang asik tak tahu akan kehadiranku. Aku mendekati arah mereka. Aku membungkukkan badan dan bersembunyi dibalik meja, mengintip mereka dari jarak yang sangat dekat.

Mereka menyudahi bercumbu, kemudian Pak Rio duduk dipinggir meja, kakinya menjuntai kelantai. Bu Sisca berdiri didepannya. Bu siska mendekati Pak Rio, dengan buasnya dia menarik celana panjang Pak Rio. Tak ketinggalan celana dalam Pak Rio juga diembatnya. Hingga Pak Rio setengah telanjang. Bu Siska menguru-urut kontol Pak Rio. Kontolnya yang tidak begitu besar, sedikit demi sedikit menegang. Bu Siska membungkukkan tubuhnya, hingga wajahnya pas diatas selangkangan Pak Rio. Kontol Pak Rio diciuminya.

“Isep.. sayang.. isep.. kontolku” suruh Pak Rio.

Bu Siska tersenyum mengangguk. Dia mulai menjilati kepala kontol Pak Rio. Terus turun kearah pangkalnya. Bu Siska sangat pintar memainkan lidahnya dikontol Pak Rio.

“Oohh.. enakk.. sayang.., truss.., truss”.

Pak Rio mengerang ketika Bu Siska mengulum kontolnya. Seluruh batang kontol Pak Rio masuk kemulutnya. Kontol Pak Rio maju mundur didalam mulut Bu Siska. Tangan Bu Siska mengurut-urut buah pelirnya. Pak Rio merasakan nikmat yang luar biasa. Matanya merem melek. Pantatnya diangkat-angkat. Aku sangat terangsang melihat pemandangan itu. Kuraba-raba kontolku yang menegang. Kubuka retsleting celanaku.Kukocok-kocok kontolku dengan tanganku. Birahiku memuncak. Ingin rasanya aku bergabung dengan mereka, tapi keinginan itu kutahan, menunggu saat yang tepat.

Lima belas menit berlalu, Pak Rio menarik dan menjambak kepala Bu Siska.

“Akhh.., akuu.. mauu.., ke.. keluar sayang” Pak Rio menjerit histeris.

“Keluarin aja sayang, aku ingin meminumnya” sahut Bu Siska.

Bu Siska tak mempedulikannya. Semakin cepat dikulumnya kontol Pak Rio dan tangan kanannya mengocok-ngocok pangkal kontol Pak Rio seirama kocokan mulutnya. Kontol Pak Rio berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

Dan crott! crott! crott! Pak Rio menumpahkan spermanya didalam mulut Bu Siska. Bu Siska meminum cairan sperma itu. Kontol Pak Rio terus dijilatinya, hingga seluruh sisa-sisa sperma Pak Rio bersih. Kontol Pak Rio kemudian mengecil didalam mulutnya.

Pak Rio yang sudah mencapai orgasme kemudian turun dari meja.

“Kamu puas sayang dengan serviceku” tanya Bu siska.

“Puas sekali, kamu pitar sayang” puji Pak Rio sambil tersenyum.

“Gantian sayang, sekarang giliranmu memberiku kepuasan” pinta Bu Siska.

Bu Siska melepaskan gaunnya, juga pakaian atasnya, hingga dia telanjang bulat. Astaga ternyata Bu Siska tak memakai apa-apa dibalik gaunnya. Aku dapat melihat dengan jelas lekuk tubuh mulusnya, putih bersih, ramping dan sexy dengan buah dada yang besar dan padat, juga bentuk memeknya yang indah dihiasi bulu-bulu yang dicukur tipis dan rapi.

Bu Siska kemudian naik keatas meja, kakinya diselonjorkan kelantai. Pak Rio mendekatinya. Memek Bu Siska diusap-usp dengan tangannya. Jari-jarinya dimasukkan, mencucuk-cucuk memek Bu Siska. Bu Siska menjerit nikmat.

“Isep sayang, isep memekku sayang” pinta Bu Siska menghiba.

Pak Rio menurunkan wajahnya mendekati selangkangan Bu Siska. Lidahnya dijulurkan kememek Bu Siska. Disibaknya bibir memek Bu Siska dengan lidahnya. Pak Rio mulai menjilati memek Bu Siska.

“Oohh.. truss.. sayang.., jilatin terus.., akhh” Bu Siska mendesah.

Pak Rio dengan lihainya memainkan lidahnya dibibir memek Bu Siska. Dihisapnya memek Bu Siska dari bagian luar kedalam. Memek Bu Siska yang merah dan basah dicucuk-cucuknya. Kelentitnya disedot-sedot dengan mulutnya.

“Oohh.., enakk.., truss.., truss.., sayang” jerit Bu Siska.

Hampir seluruh bagian memek Bu Siska dijilati Pak Rio. Tanpa sejengkalpun dilewatinya.

“Akkhh.., akuu.. mauu.. ke.. keluar.. sayang” erang Bu Siska.

Memeknya berkedut-kedut. Otot-otot memeknya menegang. Dijambaknya rambut Pak Rio, dibenamkannya keselangkangannya.

“A.. akuu.., keluarr.., sayang” Bu Siska menjerit histeris ketika mencapai orgasme. Memeknya sangat basah oleh cairan spermanya. Pak Rio menjilati memeknya hingga bersih.

“Kamu puas Sis?” tanya Pak Rio pendek.

“Belum! Entot aku sayang, aku ingin merasakan kontolmu” pinta Bu Siska.

“Maaf Sis! Aku tak bisa, aku harus pulang”.

“Nanti istriku curiga, aku pulang sore” sahut Pak Rio menolak.

“Kamu pengecut Rio! Dikasih enak aja takut!” kata Bu Siska jengkel.

Matanya meredup, memohon pada Pak Rio. Pak Rio tak mempedulikannya. Dia mengenakan celananya, kemudian berlalu meninggalkan Bu Siska yang menatapnya sambil memohon.

Ini kesempatanku! Pikirku dalam hati. Nafsu birahiku yang sudah memuncak melihat mereka saling isap, ingin disalurkan. Setelah Pak Rio berlalu, kudekati Bu Siska yang masih rebahan diatas meja. Kakinya menggantung ditepi meja. Dengan hati-hati aku berjalan mendekat. Kulepaskan baju seragamku, juga celanaku hingga aku telanjang bulat. Kontolku yang sudah menegang, mengacung dengan bebasnya. Sampai didepan selangkangan Bu siska, tanganku meraba-raba paha mulusnya. Rabaanku terus keatas kebibir memeknya. Dia melenguh. Kusibakkan bibir memeknya dengan tanganku. Kuusap-usap bulu memeknya. Kudekatkan mulutku keselangkangannya. Kujilati bibir memeknya dengan lidahku.

“Si.. siapa.., kamu” bentak Bu Siska ketika tahu memeknya kujilati.

“Tenang Bu! Saya Doni murid Ibu! Saya Ingin memberi Ibu kepuasan seperti Pak Rio” sahutku penuh nafsu.

Bu Siska tidak menyahut. Merasa mendapat angin segar. Aku semakin berani saja. Nafsu birahi Bu Siska yang belum tuntas oleh Pak Rio membuatnya menerima kehadiaranku.

Aku melanjutkan aktivitasku menjilati memek Bu Siska. Lubang memeknya kucucuk dengan lidahku. Kelentitnya kusedot-sedot.

“Oohh.., truss.. Don.., truss.. isep.. sayang” pintanya memohon.

Hampir setiap jengkal dari memek Bu siska kujilati. Bu Siska mengerang menahan nafsu birahinya. Kedua kakinya terangkat tinggi, menjepit kepalaku.

Lima belas menit berlalu aku menyudahi aktivitasku. Aku naik keatas meja. Aku berlutu diatas tubuhnya. Kontolku kuarahkan kemulutnya. Kepalanya tengadah. Mulut terbuka menyambut kehadiran kontolku yang tegang penuh.

“Wow! Gede sekali kontolmu!” katanya sedikit terkejut.

“Isep Bu! Isep kontolku!” pintaku.

Bu Siska mulai menjilati kepala kontolku, terus kepangkalnya. Pintar sekali dia memainkan lidahnya.

“Truss.. Buu.. teruss.., isepp” aku mengerang merasakan nikmat.

Bu Siska menghisap-isap kontolku. Kontolku keluar masuk didalam mulutnya yang penuh sesak.

“Akuu.. tak.., tahann.., sayang! Entot aku sayang” pintanya.

“Ya.., ya.. Buu” sahutku.

Aku turun dari meja, berdiri diantara kedua pahanya. Kugenggam kontolku, mendekati lubang memeknya. Bu Siska melebarkan kedua pahanya, menyambut kontolku. Sedikit demi sedikit kontolku memasuki lubang memeknya. Semakin lama semakin dalam. Hingga seluruhnya amblas dan terbenam. Memeknya penuh sesak oleh kontolku.

Aku mulai mengerakkan pantatku maju mundur. Klecot!Klecot! Suara kontolku ketika beradu dengan memeknya.

“Ooh.., nik.. matt.., sayang.., truss” Bu Siska mendesah.

Kuangkat kedua kakinya kebahuku. Aku dapat melihat dengan jelas kontolku yang bergerak-gerak maju mundur.

“Ooh.., Buu.., enakk.. banget.., memekmu.., hangat” desahku.

Sekitar tiga puluh menit aku menggenjotnya, kurasakan memeknya berkedut-kedut, otot-ototnya menegang.

“Akuu.., tak.. tahan.., Don, aku.. mau.. keluarr” jeritnya.

“Tahan.. Buu.., aku.. masih tegang” sahutku.

Dia bangun duduk dimeja memegang pinggangku erat-erat, mencakar punggungku.

“Akkhh.., akuu.. keluar” Bu Siska menjerit histeris.

Nafasnya memburu. Dan kurasakan memeknya sangat basah, Bu siska mencapai orgasmenya. Ibu guruku yang sudah berumur 37 tahun menggelepar merasakan nikmatnya kusetubuhi.

Aku yang masih belum keluar, tak mau rugi. Kucabut kontolku yang masih tegang. Kuarahkan kelubang anusnya. Kedua pahanya kupegang erat.

“Ja,.jangan.., Don” teriaknya ketika kepala kontolku menyentuh lubang anusnya.

Aku tak memperdulikannya. Kudorong pantatku hingga setengah batang kontolku masuk kelubang anusnya yang sempit.

“Aow! Sakitt.. cabutt.., Don.., aku.. sakitt.. jangan” teriaknya keras.

Kusodok terus hingga seluruh batang kontolku amblas. Kemudian dengan perlahan tapi pasti kugerakkan pantatku maju mundur.

Teriakan Bu Siska mengendor. Berganti dengan desahan-desahan dan rintihan kecil. Bu Siska sudah bisa menikmati sentuhan kontolku dianusnya.

“Jadi dicabut ngga Bu” candaku.

“Jangan sayang, enak banget” katanya sambil tersenyum.

Kusodok terus lubang anusnya, semakin lama semakin cepat. Bu Siska menjerit-jerit. Kata-kata kotor keluar dari mulutnya. Aku semakin mempercepat sodokanku ketika kurasakan akan mencapai orgasme.

“Buu.., akuu.. mauu.. ke.. keluarr” aku melolong panjang.

“Akhh.. akuu juga sayang” sahutnya.

Crott! Crott! Crott! Aku menumpahkan sperma yang sangat banyak dilubang anusnya. Kutarik kontolku. Kuminta dia turun dari meja untuk menjilati kontolku. Bu Siska menurutinya. Dia turun dari meja dan berlutut dihadapanku. Kontolku dikulumnya. Sisa-sisa spermaku dijilatinya sampai bersih.

“Kamu hebat Don, aku puas sekali” pujinya.

“Aku juga Bu” sahutku.

“Baru kali ini memekku dimasuki kontol yang sangat besar” katanya.

“Ibu mau khan terus menikmatinya” kataku.

“Tentu sayang” jawabnya sambil berdiri dan mengecup bibirku.

Kami beristirahat sehabis merengkuh kenikmatan. Kenikmatan selanjutnya kudapatkan dirumahnya. Bu Siska, guruku ternyata hyperseks. Dia kuat sekali ngentot. Satu malam bisa sampai empat kali. Selanjutnya Bu Siska menjadi salah satu koleksi cewek-cewek yang pernah kutiduri. Kapanpun aku mau, dia tak pernah menolaknya. Dan yang paling dia sukai adalah disodomi. Dia juga menyukai pesta seks.

TAMAT

Tags : cerita 17 tahun, cerita dewasa, tante telanjang, tante girang, foto telanjang, tante bugil,blog cerita dewasa,kumpulan cerita dewasa,cerita seru,gadis telanjang,foto telanjang tante girang,artis bugil,cewek telanjang,indo bugil,cewek bugil,gambar telanjang

Kisah Dewasa – Nafsu Birahi Tante Etty – 2

27 Juni 2010 pada 12:41 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Dari bagian 1

Dengan kedua tanganku kusibakkan bulu di vaginanya. Kulihat belahan vaginanya yang memerah mengkilat dan bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bau wanginya membuat sensari yang aneh. Tak pernah ada bau seperti ini yang pernah kukenal.

Dengan hidung kugesek-gesekkan belahan vagina Bu Etty sambil menikmati aromanya. Erangannya dan gelinjang tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah sekaligus menggairahkan. Kedua tangannya meremas-remas sendiri payudaranya.

“Aakhhk.. Eekh.. Nikmat sekali sayang. Terus sayang”.. Rintihnya.

Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit vaginanya, ada rasa asin. Lalu dari bawah sampai ke atas kujulurkan lidahku, menjilati belahan vaginanya. Begitu seterusnya naik turun sambil melihat reaksi Bu Etty.

“Akkhh.. Aachh.. Aakkhh..” Bu Etty terus merintih nikmat, tangannya mencari tanganku, meremas-remas jariku lalu membawanya ke payudaranya. Aku tahu dia ingin yang meremas payudaranya adalah tanganku. Begitu kulakukan terus, kedua tanganku meremas-remas payudaranyua, mulutku menjilati dan menghisap-hisap memeknya

“Aakkhh.. Sudah sayang.. Sudah.. Ayo sekarang sayang.. Ibu sudah tak tahan. Aakkhh.. Masukkan kontolmu sayang, masukkan ke vagina ibu.. Cepet sayang.. Oohh..” desahnya meraih kepalaku agar menghentikan jilatanku di vaginanya.

Tanpa harus mengulangi permintaannya langsung saja aku merangkak naik menindih tubuh Bu Etty. Bu Etty melebarkan pahanya dan penisku menuju vaginanya. Beberapa kali ku coba, memasukkan penisku dalam lobang memeknya namun selalu gagal. Tangan Bu Etty lalu menyambar penisku dan menuntunnya membimbing ke lobang memeknya.

“Yah.. Itu sayang.. Tekan sayang.. Tekan disitu.. Aacchh.. Ayo sayang.. Tarik dan tekan lagi.. Ibu tak tahan.. Oocchh.. Ackh.. Enak sekali kontolmu Andi.. Oocch..” Bu Etyy merintih kenikmatan ketika penisku ketekan seluruhnya ke lubang memeknya.

Batang penisku rasanya terjepit oleh dinding yang sangat lembut di dalam vagina Bu Etty dan kurasakan seperti berdenyut-denyut dan mnghisap-hisap, nikmat luar biasa karena ini yang pertama kali kurasakan. Bu Etty menggoyang-goyangkan pinggulnya. Setengah berputar-putar dan kadang naik turun. Penisku yang tertancap di vaginanya yang setengah becek dibuat seperti mainan yang membuat nikmat.

“Ayo.. Sayang.. Ayo.. Tekan terus sayang Ibu sudah tak tahan” rintih Bu Etty dengan mata setengah terpejam dan mulutnya yang setengah terbuka mendesah-desah dan kiat kuat juga menggoyang-goyangkan pinggulnya. Akupun terus mengimbangnya sampai tiba-tiba Bu Etty terdiam dan kedua tangannya merangkul leherku kuat-kuat dan dari mulutnya keluar desahan panjang.

“Aacckh.. Acckh.. Oohh.. Oohh..” dan bersamaan dengan rintih kepuasaannya diapun terkulai lemas, sedang diriku masih belum mencapai klimak.

“Ooh.. Sayangku.. Andi.. Maafkan ibu”

“Abis ibu nafsu sekali ngewe dengan kamu sayangku”

Aku hanya diam dan tersenyum.

“Kamu kuat sekali sayang.. Gantian sini ibu yang diatas kamu” tambahnya.

Akupun merubah posisi dimana sebelumnya Bu Etty melap dulu vaginanya dengan lap seadanya. Bu Etty sekarang menunggani tubuhku, perlahan dia mulai bergoyang dan kurasakan peniku terasa lebih masuk dalam lobang vaginanya.

Dengan posisi diatas tubuhku tampak sekali payudaranya lebih besar dan semakin menantang. Bu Etty berjongkok diatas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana penisku keluar masuk liang vaginanya. Yang terlihat penuh sesak, sampai bibis kemaluan itu terlihat penuh kencang.

“Oohh.. Enak bu.. Oohh.. Bu.. Bu kok bisa enak begini.. Oohh..”

Kedua payudanya seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh Bu Etty.

“Remees susu ibu sayang.. Oochh.. Yaah.. Pintar kamu Andi.. Oohh.. Ibu enggak percaya kamu bisa kuat begini. Oohh.. Pintar dan hebat kamu sayang.. Bikin ibu jadi ketagihan dengan kontolmu.. Oohh”

“Ooochh.. Andi sayang.. Ganjal kepalamu dengan bantal ini”

Bu Etty meraih bantal yang ada disamping kirinya dan memberikannya kepadaku.

“Maksud ibu supaya saya bisa.. Cruup.. Cruupp..” mulutku langsung menerkam puting payudaranya.

“Yaah sedot susu ibu lagi sayang.. Mm.. Yah begitu terus.. Yang kiri juga sayang.. Oohh.. Enak sekali sayang”

Bu Etty menundukkan badanya agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku. Decak pertemuan pangkal paha kami semakin terdengar seperti tetesan air, lubang memeknya juga semakin licin saja. Makin lama gerakan badan Bu Etty semakin cepat dan erangannya juga semakin kencang, hingga tiba-tiba dia berkata.

“Oohh.. Sayang.. Ibu sudah tak tahan”

“Tahan bu.. Tahan.. Andi juga sudah mau keluar”

Tangannya langsung mendekap kepalaku kedadanya, seakan-akan ia ingin agar buat dada tersebut masuk semua ke dalam mulutku.

“Ayo.. Andi.. Cepet.. Oohh .. Sedot yang kuat payudara ibu.. Ohh”

“Achh.. Ach.. Ibu keluar lagi sayang” tubuhnya langsung mengejang dan disaat tubuh itu terdiam kurasakan memeknya seperti menghisap-hisap dan memijit-mijit penisku dengan kuatnya. Aku yang juga sudah mau klimak semakin kuat memeluknya dan menyodokkan penisku semakin kuat.

Kupeluk dirinya kuat-kuat hingga akhirnya.. Croot.. Croot.. Croot.. Serr.. kurasakan kenikmatan yang tiada tara sampai badanku menjadi lemas sekali. Kami saling berpelukan mesra dan Bu Etty berbaring lemas di sebelahku.

“Andi.. Ibu kagum padamu dan benar juga perkiraan ibu”

“Kenapa?”

“Ternyata penismu dapat membuat ibu ketagihan selain besar juga kuat”

“Boleh ibu menikmati selama ibu tinggal disini”

“Boleh.. Siapa sih yang enggak mau diajak ama ibu, selain masih cantik, payudara ibu adalah yang terindah yang pernah saya lihat”

“Kamu tuh kecil-kecil sudah pintar ngerayu orang tua”

“Abis benar loh bu.. Emang saya suka netek sama ibu”, jawabku sambil mulutku menyerbu puting susunya.

“Kamu enggak capek ya.. Sayang” tangannya membelai kepalaku.

“Kalau buat itu tiada kata capek tuh.. Abis benar sih.. Ibu nafsuin” jawabku.

Akhinya kami beristirahat dan saling cerita. Dia berkata kalau suaminya sudah meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain disebabkan dirinya tidak bisa memberinya keturunan. Tiba-tiba telpon di ruang tamu berdering. Aku segera berlari untuk mengangkat telpon tersebut. Dari sana terdengar suara seorang wanita yang sudah tidak asing lagi bagiku yaitu Mamaku.

“Andi.. Ini Mama”

“Ya.. Ma.. Ada apa”

“Malam ini kamu jangan kemana-mana, jaga rumah dan ibu baru pulang besong malam”

“Beres deh.. Ma” jawabku.

“Oh.. Ya.. Bu Etty ada dirumah?” tanyanya.

“Ada Ma.. Mungkin sudah tidur kali”

“Ya sudah kalau ada apa-apa kamu telepon Mama”

Disaat aku sedang telepon dengan Mamaku kulihat Bu Etty menghampiriku dan memelukku dari belakang. Tangannya langsung menuju ke penisku membelainya dan mengocok-ngocoknya sedang lidahnya bermain-main di telingaku dan membuatku langsung terangsang.

“Aahh.. Sstt.. Sstt”

“Kenapa Andi?” tanya Mamaku di telepon.

“Enggak kok ma.. Kan Andi sambil makan bakso cuma kebanyakan cabenya nih jadi agak pedas” jawabku.

“Aahh.. E.. Enak.. Sstt..” ketika Bu Etty sudah tidak memelukku lagi tapi dia berjongkok di depanku dan mulai menghisap-hisap dan menjilat-jilat penisku yang mulai tegang. Lidahnya bermain-main di kepala penisku kemudian lidah itu berjalan menyusiri pangkalnya.

Aku sudah tak konsentrasi akan semua ini dan bicara dengan Mamakupun sudah tidak nyambung lagi. Maka kuputuskan bicara dengan Mamaku untuk pamit lewat telepon.

“Ma.. Sudah ya Andi sudah ngantuk nih”

“Ngantuk atau nonton TV?” Mamaku meledekku.

“Dua-duanya ma” jawabku pula.

“Ya.. Sudah tapi jangan lupa kalau sudah mau tidur matikan TVnya” pesan Mamaku.

“Oke deh ma.. sudah.”

Kutaruh gagang telepon tersebut dan kulihat kebawah Bu Etty masih asyik menghisap penisku bagaikan seorang anak kecil yang baru dikasih permen lolipop. Dijilat dicium dan dimasukkan dalam mulutnya dan dihisap tanpa memaju-mundurkan kepalanya.

“Oohh.. Sstt.. Sstt.. Bu..”

Kuraih tubuhnya dan kusejajarkan di ketembok. Kucium mulutnya dengan penuh nafsu. Tanganku tak tinggal diam tangan kananku meremas-remas buah dadanya sedang tangan kiriku mempermaikan kloritosnya.

“Aahh.. Andi sayang kamu buas amat” celotehnya.

“Ibu juga buas, tapi aku lagi telepon sama Mama hisap-hisap kontolku” jawabku dengan tetap memeluknya dan menciumnya.

“Habis.. Ibu suka banget dengan kontolmu sayang”

Tangannya meraih kontolku dan merapatkan ke vaginanya. Akupun langsung menaikkan sebelah kakinya dan menaikkan ke salah satu kursi di sampingku. Setelah pas kuarahkan kontolku menuju lubang memeknya.

“Aahh.. Aahh.. Hhekk.. Oohh..” jeritnya begitu penisku bersarang ke vaginanya.

“Dorong sayang.. Dorong yang kuat”

Aku pun mengikuti permintaannya dan mengimbangi permainnya. Tubuhnya ku tekuk kebelakang sedikit, sehingga aku dapat menghisap puting susunya.

“Oohh.. Oohh.. Andi sayang kamu pintar sekali.” Bu Etty pun juga semangat sekali menggoyang-goyangkan pinggulnya, kadang maju mundur, kadang berputar, kadang terdiam dan mengejang-ngejang. Semua itu menambah sensasi didalam penisku yang kurasakan semakin lama-semakin hendak memuntahkan lahar kenikmatan.

“Bu.. Aku sudah mau keluar”

“Oohh.. Bu.. Andi sudah tak tahan”

“Ibu juga mau keluar sayang, dorong lebih kencang sayang.. Oohh.. Oohh kontolmu membuat ibu ketagihan sama kamu oohh.. Oohh”

“Bu.. Aacchh.. Sstt..” kucoba untuk bertahan. Namun rasa nikmat itu sudah pada puncaknya hingga akhirnya.

“Yaahh.. Andi keluar.. Bu..”

Croott.. Croott.. Croot.. Seerr. Kupeluk dirinya kuat-kuat menikmati tumpahnya pejuku dalam lobang memeknya.

“Ibu juga Andi sayang.. Oohh.. Aacch.. Aacch..” tangannyapun memelukku seaakan-akan tidak akan melepaskannya.

Aku pun beristirahat duduk di sofa dan melapaskan rasa letihku sambil tetap berpelukan. Nonton TV dan mengatur nafas karena baru saja berlomba menuju puncak kenikmatan.

Dan malam itu kami habiskan kenikmatan sex bersama-sama tanpa mengenal lelah bagaikan pengantin baru. Aku bagai dimanjanya entah sudah berapa kali pejuku di hisap dan tumpah dalam rahimnya yang kurasakan esoknya hanyalah lemas dan kurang tidur. Dan semenjak itu aku sering melakukan sex dengannya terutama bila aku libur karena bebas aku melakukannya di pagi hari sampai sore hari namun bila malam tiba dan disaat penghuni rumah sudah tidur aku sering datang ke kamarnya pula dan dia selalu menyambutku dengan nafsu birahi yang tinggi.

Hubunganku dengannya hanya berjalan 6 bulan karena Bu Etty balik ke kampungnya di Semarang dan aku tidak pernah bertemu lagi dengannya namun kenangan dan rasa rinduku padanya membuatku selalu terobsesi menjadi seorang lelaki yang suka berhubungan sex dengan wanita dewasa yang kuanggap lebih berpengalaman dan lebih buas diatas ranjang. Itulah kisahku yang 100% nyata dan terjadi.

*****

Untuk kisahdewasa35.wordpress.com saya ucapkan terima kasih atas diterimanya cerita saya ini dan bila ada tante-tante ataupun ibu-ibu yang masih cantik dan suka berhubungan sex yang mau saring atau bertukar cerita bahkan bersenang-senang dengan saya dapat mengirim email pada saya. Email yang masuk akan saya balas dan rahasianya akan terjamin. Kutunggu email-mu tante-tante dan ibu-ibu tersayang.

TAMAT

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,Cerita ngewe,foto cewek cantik,poto cewek cantik,fhoto cewek cantik,cewek bugil jepang,cantik hot,artis hot,cewek jogja,cewek panggilan,cewek cantik bispak,forum cewek bispak,abg cantik

Kisah Dewasa – Nafsu Birahi Tante Etty – 1

27 Juni 2010 pada 12:39 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 2 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Nama saya Andi sekarang umurku sudah 30 tahun dan sudah berkeluarga, namun karena pengalaman masa lalu membuatku menjadi terobsesi dan horny bila melihat tante-tante atau ibu-ibu yang menurutku sangat menggairahkan dalam bermain seks. Inilah kisahku yang terjadi 1 tahun lalu tepatnya ketika aku berumur 29 tahun dan masih menjadi lajang.

*****

Dalam keluarga aku merupakan anak paling tua dari 4 saudara, namun dirumahku hanya ada aku, ibu dan adikku yang perempuan dan masih SMA. Sedang ayahku sudah almarhum. Sementar dua adikku yang lain sedang kuliah dikota S. Usaha ibuku sendiri adalah berdagang dengan membuka kios kelontong di pasar. Ibu selalu berengkat ke pasar mulai pukul 5 pagi dan kembali pukul 4 sore dan jika pulang selalu bersama adikku yang paling bontot karena setiap pulang sekolah adikku selalu membantu ibu di pasar.

Selain aku, ibu dan adikku dirumahku juga tinggal Bu Etty yang menempati kamar depan. Dia berusia sekitar 39 tahun namun belum dikarunia anak karena mandul dan Bu Etty ini hidup menyendiri karena cerai dengan suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain. Bu Etty ini boleh menempati kamar depan dengan alasan ibuku ingin membalas jasa Bu Etty yang telah memberi jalan hingga bisa membuka toko. Kegiatan Bu Etty sekarang adalah membuka usaha jahitan kecil-kecilan itupun dengan cara dia yang mencari konsumen dan dia mengerjakan sendiri di kamarnya.

Awalnya aku tidak pernah memperhatikan bentuk tubuh wanita ini karena aku sendiri juga sibuk bekerja, namun begitu setelah 6 bulan berselang kupikir ada yang lain dari dirinya.. Pada saat itu hari Sabtu kebetulan sekali aku libut dan seperti biasa pada jam 9 pagi aku baru bangun maklum libur. Ketika aku keluar kamar dan menuju kamar mAndi langkahku terhenti di depan pintu kamar mAndi, aku mendengar ada yang mAndi dan karena dirumahku tidak ada pembantu sudah pasti didalam adalah Bu Etty.

Maka akupun langsung kembali dan menuju ruang tamu dan duduk menonton TV. Tak lama kudengar pintu kamar mAndi dibuka, dan kulihat Bu Etty dengan handuk yang melilit tubuhnya berjalan menuju kamarnya, otomatis dia melewati aku yang sedang duduk.

“Eh.. Andi sudah bangun,” katanya sambil tersenyum dan berlalu.

Dengan agak gugup karena menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali ini aku menjawab dengan terbata-bata.

“I.. I.. Yaa.. Bu.. Etyy” jawabku, namun mataku tak lepas memandangnya saat dia berlalu menuju pintu kamarnya.

Betapa tidak sebab menurutku handuk itu tak cukup untuk menutupi tubuhnya yang paling sensitif. Dibagian atas kulihat betapa buah dada itu ingin tumpah keluar karena besarnya dan membuatku langsung ngaceng ingin memegang susu itu. Dan dibagian bawah pahanya terlihat sangat padat dan putih bersih.

Mungkin karena dia belum pernah melahirkan jadi walaupun sudah berumur tapi badannya masih terlihat kencang. Dan ketika dia masuk kamar akupun iseng dan bangun untuk mengintip dari lubang kunci. Kulihat didalam Bu Etty belum mengenakan pakaian malah handuknya sudah tidak ada ditubuhnya dan praktis dia sedang telanjang bulat. Kulihat dia sedang mengeringkan rambutnya dengan posisi duduk di samping ranjang dan aku dapat melihat dengan jelas karena posisinya yang selalu berubah-rubah. Jelas sekali terlihat betapa bentuk buah dada itu benar-benar indah dengan ukuran yang kutaksir lumayan besar sekitar 36c dan belum turun maklum belum pernah menyusui. Dibagian bawah terlihat sekali rambut disekitar selangkangannya lebat dan tampak gundukan yang benar-benar mempesona.

Tak terasa olehku saat mengintip tanganku pun ikut meremas-remas celanaku terutama penisku, dan sekitar 10 menit aku berlalu Bu Etty sudah hampir mengenakan pakaiannya sementara aku juga sudah tak tahan, maka kuputuskan untuk langsung menuju kamar mAndi. Didalam kamar mAndi aku langsung menanggalkan pakaianku dan beronani sambil membayangkan Bu Etty. Dimana kubayangkan aku sedang menghisap puting susunya sementar kontolku juga sedang menembus memeknya. Dan akhirnya..

Crot.. Crot.. Crot.. Aachh.. tak terasa pejuku muncrat ke tembok yang langsung membuat sekujur tubuhku lemas. Dan akupun segera mAndi dan langsung keluar rumah dan pergi ke tempat teman-temanku.

Semenjak kejadian pertama kali mengintip Bu Etty aku jadi sering beronani sambil membayangkan dirinya dan aku pun selalu memperhatikannya bila aku dan dia sedang berada di rumah.

Entah berapa lama tepatnya pada malam minggu sepulangnya aku apel dari rumah pacarku. Kulihat dirumah sepi sekali yang ada hanya Bu Etty yang sedang menyulam di ruang tamu sambil menonton TV.

“Malam.. Tante” ujarku.

“Malam juga.. Baru pulang apel nih”, ledeknya dengan tersenyum. Dan kulihat betapa senyumnya terlihat genit sekali.

“Iya dong.. Biasa anak muda” balasku.

“Andi.. Ada pesan dari ibumu, katanya dia dan adikmu hari ini nginep ke rumah pamanmu dikarenakan ada arisan keluarga, jadi kamu jangan kemana-mana” katanya.

“Iya.. Deh” akupun pamit dulu untuk ganti baju dan celana pendek.

Sekitar 15 menit aku sudah berada di ruang tamu namun Bu Etty sudah tak terlihat disana dan rupanya beliau ada di kamar, tapi pintunya dibiarkan terbuka dan terlihat dia sedang membuat pola jahitan dan begitu melihat diriku pintu itu bukannya ditutup malah tetap terbuka karena dia tetap mengajakku ngobrol.

Akupun rilek saja sambil nonton TV, tapi bukan TV yang kulihat sebab kulihat Bu Etty menggambar pola dilantai sehingga tampak dengan jelas susunya seperti mengundangku untuk menjamahnya sebab saat menggambar posisinya nungging-nungging.

Penisku pun langsung berdiri dan aku juga berpikir sengaja atau tidak Bu Etty bersikap seperti itu, karena baju yang dikenakan juga kemaja itupun juga tanpa lengan sehingga kalau dari samping tampak BHnya terlihat dengan jelas. Aku yang semakin tegang menjadi pusing tidak karuan membayangkannya dan walaupun keadaan rumah kosong tapi aku tidak berani berbuat nekat karena aku sangat menghormatinya.

Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam kulihat dia sedang beres-beres, dan setelah selesai dia bergegas keluar kamar dan menuju kamar mAndi. Pada saat berjalan kulihat betapa bongkahan pinggulnya meliuk-liuk indah. Dan setelah keluar dari kamar mAndi dia duduk di ruang tamu untuk nonton TV denganku sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“Kamu lihat ibu, kaya lihat hantu aja” sambil tersenyum.

“Oh.. Enggak.. Cuma bingung aja, Bu Etty sudah setengah baya kon masih terlihat cantik” balasku.

“Hus.. Belajar ngerayu lagi” cibirnya.

“Benar bu.. Saya serius” balasku.

“Eh.. Andi.. Ngerayu terus. Sudah sini pijitin ibu. Ibu pegel nih” katanya sambil membalakangiku dan menepuk pundaknya.

Akupun menurut saja dan langsung memijit pundaknya dan Bu Etty pun menggeliat keenakan bahkan matanyapun sudah mulai sayu dan terpejam-pejam. Sementara aku yang memijit semakin tidak karuan karena penisku sudah ngaceng karena sambil memijit kurapatkan tubuhku ke tubuhnya. Entah keenakan atau sudah lelah kulihat mata Bu Etty terpejam dan dia juga sudah menyender dengan tubuhku. Kuberanikan memijit bagian lengannya dan aku pun juga sudah memeluknya tapi tanganku hanya berada di perutnya.

Dengan pelan tapi pasti karena hasratku sudah ingin sekali maka kuberanikan diri melepas kancing bajunya satu persatu, dan setelah terlepat tampat jelas susu Bu Etty yang masih dibungkus branya dan akupun sangat tertegun melihat pemandangan itu.

Untuk menyentuhnya aku tidak berani jadi aku cukup memandangnya. Namun tiba-tiba terdengar Bu Etty bicara.

“Andi.. Kenapa cuma kamu liatin aja susu ibu” dan tangannya tiba-tiba menarik tanganku.

“Remas.. Sayang.. Kan kamu selama ini cuma ngebayangin doang, ibu tahu kok kamu suka intipin ibu.”

Aku berpikir rupanya selama ini dia tahu, dan tanganku sudah berada di atas buah dadanya dan dibimbing oleh nya untuk meremas-remas walaupun masih terbungku BH. Sambil meremas mulutkupun tak tinggal diam kucium lehernya dan wajah Bu Etty berpaling ke arahku dengan mulut yang menganga. Langsung kusambar bibirnya dan kukulum habis. Ujung lidah kami beradu, kutelusuri lidahnya sampai kami kehabisan napas.

Aku dan Bu Etty sudah tak tahan, kurebahkan dia disofa, kucium tubuhnya dari muka, dada, perut paha, dan betisnya. Naik lagi dan kutindih tubuhnya. Dia pun mengerang yang membuatku semakin terangsang, kubuka celana pendekku.

“Jangan disini sayang, kurang nikmat” tiba-tiba Bu Etty berkata.

Kami berdiri, dan Bu Etty langsung memelukku dan sebelah tangannya langsung memegang penisku dari luar celana pendekku yang tadi tidak sempat kulepas. Tangannya meremas-remas penisku yang sudah tegang dengan penuh nafsu.

“Lumayan juga punyamu Andi..”

“Ibu sudah lama sekali tak merasakan senjata laki-laki.. Sayang”

Dan dia dengan kasarnya langsung menarikku menuju kamarnya. Pintu kamar dikuncinya cepat-cepat, kubuka bajuku dan Bu Etty langsung jongkok dan melepaskan celanaku dan langsung memegang penisku lalu dengan buas dan penuh nafsu langsung dimasukkannya ke dalam mulutnya, dijilat, dihisap-hisap, dicium, dan dihisap lagi. Sementara aku hanya bersandar pada tembok sambil menikmati kontoku yang baru pertama kali masuk ke dalam mulut perempuan membuat darahku dan otakku menjadi buntu. Badanku rasanya makin bergetar dengan tulang yang mau berlepasan dan tubuh berkelojotan nikmat.

Aku tak tahan dan minta rebahan di ranjang. Dengan tetap BH melekat di dada dan rok yang masih digunakannya, mulutnya langsung mengejar burungku, dia cium, jilat dan hisap. Aku semakin bergelinjang, melayang-layang dan mataku pun mulai berkunang-kunang.

“Bu.. Etty.. Oohh.. Terus bu” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Hingga dipuncaknya karena nikmat yang tak tertahankan aku tak sempat untuk memberitahunya kalau pejuku mau keluar. Hingga akhirnya.. akhh..

Croot.. Croot.. Croot.. Croott

Pejuku muncrat didalam mulutnya, dan dia bukannya melepaskannya tapi malah bernafsu untuk menghisapnya, menelannya dan terus menghisap-hisap penisku sampai bersih, kasat dan ngilu rasanya. Dan aku pun langsung lemas. Kucoba untuk bangun dan duduk sementar Bu Etty segera ke meja rias mengambil air untuk diminum dan memberiku juga segelas air.

“Ibu telan? Apa ibu tidak jijik?” tanyaku bodoh.

Bu Etty menggeleng, justru mukanya cerah dan kepuasan terpancar diwajahnya.

“Ibu suka.. Sayang menghisap pejumu, apalagi peju yang keluar dari kontolmu terasa segar dan enak” ucap Bu Etty lamu menciumku dan muka, sampai dadaku, dan memainkan lidahnya diputingku sementara tangannya meremas-remas penisku.

“Ayo sayang, Ibu pingin kamu juga puas”‘ ucap Bu Etty mesra, penisku yang telah terkulai lemas karena sudah keluar sprema mulai menegang lagi dan Bu Etty kembali mengulum dan menghisap-hisap penisku dengan buas.

Kubuka BH-nya dan roknya serta CD nya sekalian dan Bu Etty berdiri untuk memudahkan aku menelanjanginya. Tubuhnya yang telanjang bulat langsung ku terkam dan kutindih. Dua payudaranya yang besar itu menjadi sasaranku, kuhisap putingnya bergantian, tangannya pun langsung meraih kepalaku dan menekan kedadanya dan dari mulutnya keluar suara mendesis-desis bagai ular kepanasan

“Esstt.. Ssstt.. Sedot yang kuat sayang”

“Yaahh.. Begitu isep.. Kamu suka kan.. Susu ibu.. Ooohh”

Aku tidak menjawab karena aku memang sedang sibuk menghisap, menyedot layaknya bayi yang seharian belum menetek pada ibunya. Dan setelah puas menghisap dan menetek lidahku turun kebelahan dadanya terus meluncur keperutnya hingga akhirnya lidahku sampai pada gundukan yang berbulu sangat lebat.

Ke bagian 2

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,cewek cantik bugil,photo cewek bugil,cewek cantik telanjang,gambar cewek,cewek artis,bugil cewek sma,gambar cewek cantik,cewek smu bugil,cewek bugil indo,cewek cina,cewek smp,bugil hot

Kisah Dewasa – Penganti istri

23 Juni 2010 pada 14:46 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 2 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebut saja namaku Paul. Aku bekerja di sebuah instansi pemerintahan di kota S, selain juga memiliki sebuah usaha wiraswasta. Sebetulnya aku sudah menikah, bahkan rasanya istriku tahu akan hobiku mencari daun-daun muda untuk “obat awet muda”. Dan memang pekerjaanku menunjang untuk itu, baik dari segi koneksi maupun dari segi finansial. Namun semenjak istriku tahu aku memiliki banyak sekali simpanan, suatu hari ia meninggalkanku tanpa pamit. Biarlah, malah aku bisa lebih bebas menyalurkan hasrat.

Karena pembantu yang lama keluar untuk kimpoi di desanya, aku terpaksa mencari penggantinya di agen. Bukan saja karena berbagai pekerjaan rumah terbengkalai, juga rasanya kehilangan “obat stress”. Salah seorang calon yang menarik perhatianku bernama Ningsih, baru berusia (hampir) 16 tahun, berwajah cukup manis, dengan lesung pipit. Matanya sedikit sayu dan bibirnya kecil seksi. Seandainya kulitnya tidak sawo matang (meskipun bersih dan mulus juga), dia sudah mirip-mirip artis sinetron. Meskipun mungil, bodinya padat, dan yang terpenting, dari sikapnya aku yakin pengalaman gadis itu tidak sepolos wajahnya. Tanpa banyak tanya, langsung dia kuterima.

Dan setelah beberapa hari, terbukti Ningsih memang cukup cekatan mengurus rumah. Namun beberapa kali pula aku memergokinya sedang sibuk di dapur dengan mengenakan kaos ketat dan rok yang sangat mini. Tanpa menyia-nyiakan kesempatan, aku mendekat dari belakang dan kucubit paha gadis itu. Ningsih terpekik kaget, namun setelah sadar majikannya yang berdiri di belakangnya, ia hanya merengut manja.

Sore ini sepulang kerja aku kembali dibuat melotot disuguhi pemandangan yang ‘menegangkan’ saat Ningsih yang hanya berdaster tipis menungging sedang mengepel lantai, pantatnya yang montok bergoyang kiri-kanan. Tampak garis celana dalamnya membayang di balik dasternya. Tidak tahan membiarkan pantat seseksi itu, kutepuk pantat Ningsih keras-keras.

“Ngepel atau nyanyi dangdut sih? Goyangnya kok merangsang sekali!”

Ningsih terkikik geli mendengar komentarku, dan kembali meneruskan pekerjaannya. Dengan sengaja pantatnya malah digoyang semakin keras.

Geli melihat tingkah Ningsih, kupegang pantat gadis itu kuat-kuat untuk menahan goyangannya. Saat Ningsih tertawa cekikikan, jempolku sengaja mengelus selangkangan gadis itu, menghentikan tawanya. Karena diam saja, perlahan kuelus paha Ningsih ke atas, menyingkapkan ujung dasternya.”Eh… Ndoro… jangan..!” cegah Ningsih lirih.

“Nggak pa-pa, nggak usah takut, Nduk..!”

“Jangan, Ndoro… malu… jangan sekarang..!”

Dengan tergesa Ningsih bangkit membereskan ember dan kain pel, lalu bergegas menuju ke dapur.

Malam harinya lewat intercom aku memanggil Ningsih untuk memijat punggungku yang pegal. Seharian penuh bersidang memang membutuhkan stamina yang prima. Agar tenagaku pulih untuk keperluan besok, tidak ada salahnya memberi pengalaman pada orang baru.

Gadis itu muncul masih dengan daster merah tipisnya sambil membawa minyak gosok. Ningsih duduk di atas ranjang di sebelah tubuhku.

Sementara jemari lentik Ningsih memijati punggung, kutanya, “Nduk, kamu sudah punya pacar belum..?”

“Disini belum Ndoro…” jawab gadis itu.

“Disini belum..? Berarti di luar sini sudah..?”

Sambil tertawa malu-malu gadis itu menjawab lagi, “Dulu di desa saya pernah, tapi sudah saya putus.”

“Lho, kenapa..?”

“Habis mau enaknya saja dia.”

“Mau enaknya saja gimana..?” kejarku.

“Eh… itu, ya… maunya ngajak gituan terus, tapi kalau diajak kimpoi nggak mau.”

Aku membalikkan badan agar dadaku juga turut dipijat.

“Gituan gimana? Memangnya kamu nggak suka..?”

Wajah Ningsih memerah, “Ya… itu… ngajak kelonan… tidur telanjang bareng…”

“Kamu mau aja..?”

“Ih, enggak! Kalau cuma disuruh ngemut burungnya saja sih nggak pa-pa. Mau sampai selesai juga boleh. Tapi yang lain Ningsih nggak mau..!”

Aku tertawa, “Lha apa nggak belepotan..?”

“Ah, enggak. Yang penting Ningsih juga puas tapi tetep perawan.”

Aku semakin terbahak, “Kalau kamu juga puas, terus kenapa diputus..?”

“Abis lama-lama Ningsih kesel! Ningsih kalau diajak macem-macem mau, tapi dia diajak kimpoi malah main mata sama cewek lain! Untung Ningsih cuma kasih emut aja, jadi sampai sekarang Ningsih masih perawan.”

“Main emut terus gitu apa kamu nggak pengin nyoba yang beneran..?” godaku.

Wajah Ningsih kembali memerah, “Eh… katanya sakit ya Ndoro..? Terus bisa hamil..?”

Kini Ningsih berlutut mengangkangi tubuhku sambil menggosokkan minyak ke perutku. Saat gadis itu sedikit membungkuk, dari balik dasternya yang longgar tampak belahan buah dadanya yang montok alami tanpa penopang apapun.

Sambil tanganku mengelus-elus kedua paha Ningsih yang terkangkang, aku menggoda, “Kalau sama Ndoro, Ningsih ngasih yang beneran atau cuma diemut..?”

Pipi Ningsih kini merah padam, “Mmm… memangnya Ndoro mau sama Ningsih? Ningsih kan cuma pembantu? Cuma pelayan?”

“Nah ini namanya juga melayani. Iya nggak?”

Ningsih hanya tersenyum malu.

“Aaah! Itu kan cuma jabatan. Yang penting kan orangnya..!”

“Ehm.., kalau hamil gimana..?”

“Jangan takut Nduk, kalau cuma sekali nggak bakalan hamil. Nanti Ndoro yang tanggung jawab..”

Meskipun sedikit ragu dan malu, Ningsih menuruti dan menanggalkan dasternya.

Sambil meletakkan pantatnya di atas pahaku, gadis itu dengan tersipu menyilangkan tangannya untuk menutupi kemontokan kedua payudaranya. Untuk beberapa saat aku memuaskan mata memandangi tubuh montok yang nyaris telanjang, sementara Ningsih dengan jengah membuang wajah. Dengan tidak sabaran kutarik pinggang Ningsih yang meliuk mulus agar ia berbaring di sisiku.

Seumur hidup mungkin baru sekali ini Ningsih merasakan berbaring di atas kasur seempuk ini. Langsung saja kusergap gadis itu, kuciumi bibirnya yang tersenyum malu, pipinya yang lesung pipit, menggerayangi sekujur tubuhnya dan meremas-remas kedua payudaranya yang kenyal menggiurkan. Puting susunya yang kemerahan terasa keras mengacung. Kedua payudara gadis itu tidak terlalu besar, namun montok pas segenggaman tangan. Dan kedua bukit itu berdiri tegak menantang, tidak menggantung. Gadis desa ini memang sedang ranum-ranumnya, siap untuk dipetik dan dinikmati.

“Mmmhh… Oh! Ahhh! Oh… Ndorooo… eh.. mmm… burungnya… mau Ningsih emut dulu nggak..?” tanya gadis itu diantara nafasnya yang terengah-engah.

“Lepas dulu celana dalam kamu Nduk, baru kamu boleh emut.”

Tersipu Ningsih bangkit, lalu memelorotkan celana dalamnya hingga kini gadis itu telanjang bulat. Perlahan Ningsih berlutut di sisiku, meraih kejantananku dan mendekatkan wajahnya ke selangkanganku. Sambil menyibakkan rambutnya, gadis itu sedikit terbelalak melihat besarnya kejantananku. Mungkin ia membayangkan bagaimana benda berotot sebesar itu dapat masuk di tubuhnya.

Aku segera merasakan sensasi yang luar biasa ketika Ningsih mulai mengulum kejantananku, memainkan lidahnya dan menghisap dengan mulut mungilnya sampai pipinya ‘kempot’. Gadis ini ternyata pintar membuat kejantananku cepat gagah.

“Ehm… srrrp… mmm… crup! Ahmm… mmm… mmmh..! Nggolo (ndoro)..! Hangang keyas-keyas(jangan keras-keras)..! Srrrp..!”

Gadis itu tergeliat dan memprotes ketika aku meraih payudaranya yang montok dan meremasinya. Namun aku tak perduli, bahkan tangan kananku kini mengelus belahan pantat Ningsih yang bulat penuh, terus turun sampai ke bibir kemaluannya yang masih jarang-jarang rambutnya. Maklum, masih perawan.

Gadis itu tergelinjang tanpa berani bersuara ketika jemariku menyibakkan bibir kemaluannya dan menelusup dalam kemaluannya yang masih perawan. Merasa kejantananku sudah cukup gagah, kusuruh Ningsih mengambil pisau cukur di atas meja, lalu kembali ke atas ranjang. Tersipu-sipu gadis perawan itu mengambil bantal berusaha untuk menutupi ketelanjangannya.

Malu-malu gadis itu menuruti perintah majikannya berbaring telentang menekuk lutut dan merenggangkan pahanya, mempertontonkan rambut kemaluannya yang hanya sedikit. Tanpa menggunakan foam, langsung kucukur habis rambut di selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang karena perih tanpa berani menolak. Kini bibir kemaluan Ningsih mulus kemerah-merahan seperti kemaluan seorang gadis yang belum cukup umur, namun dengan payudara yang kencang.

Dengan sigap aku menindih tubuh montok menggiurkan yang telanjang bulat tanpa sehelai benang pun itu. Tersipu-sipu Ningsih membuang wajah dan menutupi payudaranya dengan telapak tangan. Namun segera kutarik kedua tangan Ningsih ke atas kepalanya, lalu menyibakkan paha gadis itu yang sudah mengangkang. Pasrah Ningsih memejamkan mata menantikan saatnya mempersembahkan keperawanannya.

Gadis itu menahan nafas dan menggigit bibir saat jemariku mempermainkan bibir kemaluannya yang basah terangsang. Perlahan kedua paha mulus Ningsih terkangkang semakin lebar. Aku menyapukan ujung kejantananku pada bibir kemaluan gadis itu, membuat nafasnya semakin memburu. Perlahan tapi pasti, kejantananku menerobos masuk ke dalam kehangatan tubuh perawan Ningsih. Ketika selaput dara gadis manis itu sedikit menghalangi, dengan perkasa kudorong terus, sampai ujung kejantananku menyodok dasar liang kemaluan Ningsih. Ternyata kemaluan gadis ini kecil dan sangat dangkal. Kejantananku hanya dapat masuk seluruhnya dalam kehangatan keperawanannya bila didorong cukup kuat sampai menekan dasar kemaluannya. Itu pun segera terdesak keluar lagi.

Ningsih terpekik sambil tergeliat merasakan pedih menyengat di selangkangannya saat kurenggutkan keperawanan yang selama ini telah dijaganya baik-baik. Tapi gadis itu hanya berani meremas-remas bantal di kepalanya sambil menggigit bibir menahan sakit. Air mata gadis itu tak terasa menitik dari sudut mata, mengaburkan pandangannya. Ningsih merintih kesakitan ketika aku mulai bergerak menikmati kehangatan kemaluannya yang serasa ‘megap-megap’ dijejali benda sebesar itu. Namun rasa sakit dan pedih di selangkangannya perlahan tertutup oleh sensasi geli-geli nikmat yang luar biasa.

Tiap kali kejantananku menekan dasar kemaluannya, gadis itu tergelinjang oleh ngilu bercampur nikmat yang belum pernah dirasakannya. Kejantananku bagai diremas-remas dalam liang kemaluan Ningsih yang begitu ‘peret’ dan legit. Dengan perkasa kudorong kejantananku sampai masuk seluruhnya dalam selangkangan gadis itu, membuat Ningsih tergelinjang-gelinjang sambil merintih nikmat tiap kali dasar kemaluannya disodok.

“Ahh… Ndoro..! Aa… ah..! Aaa… ahk..! Oooh..! Ndorooo… Ningsih pengen… pih… pipiiis..! Aaa… aahh..!”

Sensasi nikmat luar biasa membuat Ningsih dengan cepat terorgasme.

“Tahan Nduk! Kamu nggak boleh pipis dulu..! Tunggu Ndoro pipisin kamu, baru kamu boleh pipis..!”

Dengan patuh Ningsih mengencangkan otot selangkangannya sekuat tenaga berusaha menahan pipis, kepalanya menggeleng-geleng dengan mata terpejam, membuat rambutnya berantakan, namun beberapa saat kemudian…

“Nggak tahan Ndorooo..! Ngh…! Ngh…! Ngggh! Aaaiii… iik..! Aaa… aaahk..!” Tanpa dapat ditahan-tahan, Ningsih tergelinjang-gelinjang di bawah tindihanku sambil memekik dengan nafas tersengal-sengal.

Payudaranya yang bulat dan kenyal berguncang menekan dadaku saat gadis itu memeluk erat tubuh majikannya, dan kemaluannya yang begitu rapat bergerak mencucup-cucup.

Berpura-pura marah, aku menghentikan genjotannya dan menarik kejantananku keluar dari tubuh Ningsih.

“Dibilang jangan pipis dulu kok bandel..! Awas kalau berani pipis lagi..!”

Tampak kejantananku bersimbah cairan bening bercampur kemerahan, tanda gadis itu betul-betul masih perawan. Gadis itu mengira majikannya sudah selesai, memejamkan mata sambil tersenyum puas dan mengatur nafasnya yang ’senen-kamis’. Di pangkal paha gadis itu tampak juga darah perawan menitik dari bibir kemaluannya yang perlahan menutup.

Aku menarik pinggang Ningsih ke atas, lalu mendorong sebuah bantal empuk ke bawah pantat Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu agak melengkung karena pantatnya diganjal bantal. Tanpa basa-basi kembali kutindih tubuh montok Ningsih, dan kembali kutancapkan kejantananku dalam liang kemaluan gadis itu. Dengan posisi pantat terganjal, klentit Ningsih yang peka menjadi sedikit mendongak. Sehingga ketika aku kembali melanjutkan tusukanku, gadis itu tergelinjang dan terpekik merasakan sensasi yang bahkan lebih nikmat lagi dari yang barusan.

“Mau terus apa brenti, Nduk..?” godaku.

“Aii… iih..! He.. eh..! Terus Ndorooo..! Enak..! Enak..! Aahh… Aiii… iik..!”

Tubuh Ningsih yang montok menggiurkan tergelinjang-gelinjang dengan nikmat dengan nafas tersengal-sengal diantara pekikan-pekikan manjanya.

“Ooo… ohh..! Ndoroo.., Ningsih pengen pipis.. lagiii… iih..!”

“Yang ini ditahan dulu..! Tahan Nduk..!”

“Aa.. aak..! Ampuuu… unnhh..! Ningsih nggak kuat… Ndorooo..!”

Seiring pekikan manjanya, tubuh gadis itu tergeliat-geliat di atas ranjang empuk.

Pekikan manja Ningsih semakin keras setiap kali tubuh telanjangnya tergerinjal saat kusodok dasar liang kegadisannya, membuat kedua pahanya tersentak mengangkang semakin lebar, semakin mempermudah aku menikmati tubuh perawannya. Dengan gemas sekuat tenaga kuremas-remas kedua payudara Ningsih hingga tampak berbekas kemerah-merahan. Begitu kuatnya remasanku hingga cairan putih susu menitik keluar dari putingnya yang kecoklatan.

“Ahhhk..! Aaa.. aah! Aduu.. uhh! Sakit Ndorooo..! Ningsih mau pipiiiiss..!”

Dengan maksud menggoda gadis itu, aku menghentikan sodokannya dan mencabut kejantanannya justru disaat Ningsih mulai orgasme.

“Mau pipis Nduk..?” tanyaku pura-pura kesal.

“Oohh… Ndorooo… terusin dong..! Cuma ‘dikit, nggak pa-pa kok..!” rengek gadis itu manja.

“Kamu itu nggak boleh pipis sebelum Ndoro pipisin kamu, tahu..?” aku terus berpura-pura marah.

Tampak bibir kemaluan Ningsih yang gundul kini kemerah-merahan dan bergerak berdenyut.

“Enggak! Enggak kok! Ningsih enggak berani Ndoro..!”

Ningsih memeluk dan berusaha menarik tubuhku agar kembali menindih tubuhnya. Rasanya sebentarlagi gadis itu mau pipis untuk ketiga kalinya.

“Kalau sampai pipis lagi, Ndoro bakal marah, lho Nduk..?” kuremas kedua buah dada montok Ningsih.

“Engh… Enggak. Nggak berani.” Wajah gadis itu berkerut menahan pipis.

“Awas kalau berani..!” kukeraskan cengkeraman tangannya hingga payudara gadis itu seperti balon melotot dan cairan putih susu kembali menetes dari putingnya.

“Ahk! Aah..! Nggak berani, Ndoro..!”

Ningsih menggigit bibir menahan sakitnya remasan-remasanku yang bukannya dilepas malah semakin kuat dan cepat. Namun gadis itu segera merasakan ganjarannya saat kejantananku kembali menghajar kemaluannya. Tak ayal lagi, Ningsih kembali tergiur tanpa ampun begitu dasar liang kemaluannya ditekan kuat.

“Ngh..! Ngh..! Nggghhh..! Ahk… Aaa… aahhh..! Ndorooo… ampuuu… uun..!”

Tubuh montok gadis itu tergerinjal seiring pekikan manjanya.

Begitu cepatnya Ningsih mencapai puncak membuat aku semakin gemas menggeluti tubuh perawannya. Tanpa ampun kucengkeram kedua bukit montok yang berdiri menantang di hadapanku dan meremasinya dengan kuat, meninggalkan bekas kemerahan di kulit payudara Ningsih. Sementara genjotan demi genjotan kejantananku menyodok kemaluan gadis itu yang hangat mencucup-cucup menggiurkan, bagai memohon semburan puncak.

Gadis itu sendiri sudah tak tahu lagi mana atas mana bawah, kenikmatan luar biasa tidak henti-hentinya memancar dari selangkangannya. Rasanya seperti ingin pipis tapi nikmat luar biasa membuat Ningsih tidak sadar memekik-mekik manja. Kedua pahanya yang sehari-hari biasanya disilangkan rapat-rapat, kini terkangkang lebar, sementara liang kemaluannya tanpa dapat ditahan-tahan berdenyut mencucup kejantananku yang begitu perkasa menggagahinya. Sekujur tubuh gadis itu basah bersimbah keringat.

“Hih! Rasain! Dibilang jangan pipis! Mau ngelawan ya..!” Gemas kucengkeram kedua buah dada Ningsih erat-erat sambil menghentakkan kejantananku sejauh mungkin dalam kemaluan dangkal gadis itu.

Ningsih tergelinjang-gelinjang tidak berdaya tiap kali dasar kemaluannya disodok. Pantat gadis itu yang terganjal bantal empuk berulangkali tersentak naik menahan nikmat.

“Oooh… Ndorooo..! Ahk..! Ampun..! Ampun Ndoroo..! Sudah..! Ampuuu.. unn..!” Ningsih merintih memohon ampun tidak sanggup lagi merasakan kegiuran yang tidak kunjung reda.

Begitu lama majikannya menggagahinya, seolah tidak akan pernah selesai. Tidak terasa air matanya kembali berlinang membasahi pipinya. Kedua tangan gadis itu menggapai-gapai tanpa daya, paha mulusnya tersentak terkangkang tiap kali kemaluannya dijejali kejantananku, nafasnya tersengal dan terputus-putus. Bagian dalam tubuhnya terasa ngilu disodok tanpa henti. Putus asa Ningsih merengek memohon ampun, majikannya bagai tak kenal lelah terus menggagahi kegadisannya. Bagi gadis itu seperti bertahun-tahun ia telah melayani majikannya dengan pasrah.

Menyadari kini Ningsih sedang terorgasme berkepanjangan, aku tarik paha Ningsih ke atas hingga menyentuh payudaranya dan merapatkannya. Akibatnya kemaluan gadis itu menjadi semakin sempit menjepit kejantananku yang terus menghentak keluar masuk. Ningsih berusaha kembali mengangkang, namun dengan perkasa semakin kurapatkan kedua paha mulusnya. Mata Ningsih yang bulat terbeliak dan berputar-putar, sedangkan bibirnya merah merekah membentuk huruf ‘O’ tanpa ada suara yang keluar. Sensasi antara pedih dan nikmat yang luar biasa di selangkangannya kini semakin menjadi-jadi.

Aku semakin bersemangat menggenjotkan kejantananku dalam hangatnya cengkeraman pangkal paha Ningsih, membuat gadis itu terpekik-pekik nikmat dengan tubuh terdorong menyentak ke atas tiap kali kemaluannya disodok keras.

“Hih! Rasain! Rasain! Nih! Nih! Nihh..!” aku semakin geram merasakan kemaluan Ningsih yang begitu sempit dan dangkal seperti mencucup-cucup kejantananku.

“Ahh..! Ampuuu…uun… ampun… Ndoro! Aduh… sakiit… ampuuu… un..!”

Begitu merasakan kenikmatan mulai memuncak, dengan gemas kuremas kedua payudara Ningsih yang kemerah-merahan berkilat bersimbah keringat dan cairan putih dari putingnya, menumpukan seluruh berat tubuhku pada tubuh gadis itu dengan kedua paha gadis itu terjepit di antara tubuh kami, membuat tubuh Ningsih melesak dalam empuknya ranjang.

Pekikan tertahan gadis itu, gelinjangan tubuhnya yang padat telanjang dan ‘peret’-nya kemaluannya yang masih perawan membuatku semakin hebat menggeluti gadis itu.

“Aduh! Aduu… uuhh… sakit Ndoro! Aaah… aaamm… aaammpuuun… ampuuu… uun Ndoro.. Ningsih… pipiiii… iiis! Aaammm… puuun..!”

Dan akhirnya kuhujamkan kejantananku sedalam-dalamnya memenuhi kemaluan Ningsih, membuat tubuh telanjang gadis itu terlonjak dalam tindihanku, namun tertahan oleh cengkeraman tanganku pada kedua buah dada Ningsih yang halus mulus.

Tanpa dapat kutahan, kusemburkan sperma dalam cucupan kemaluan Ningsih yang hangat menggiurkan sambil dengan sekuat tenaga meremas-remas kedua buah dada gadis itu, membuat Ningsih tergerinjal antara sakit dan nikmat.

“Ahk! Auh..! Aaa… aauuhh! Oh… ampuuu…uun Ndoro! Terus Ndoro..! Ampuuun! Amm… mmh..!Aaa… aaakh..!”

Dengan puas aku menjatuhkan tubuh di sisi tubuh Ningsih yang sintal, membuat gadis itu turut terguling ke samping, namun kemudian gadis itu memeluk tubuhku. Sambil terisak-isak bahagia, Ningsih memeluk tubuhku dan mengelus-elus punggungku.

Sambil mengatur nafas, aku berpikir untuk menaikkan gaji Ningsih beberapa kali lipat, agar gadis itu betah bekerja di sini, dan dapat melayaniku setiap saat. Dengan tubuh yang masih gemetar dan lemas, Ningsih perlahan turun dari ranjang dan mulai melompat-lompat di samping ranjang.

Keheranan aku bertanya, “Ngapain kamu, Nduk..?”

“Katanya… biar nggak hamil harus lompat.. lompat, Ndoro..” jawab gadis itu polos.

Aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya, melihat cairan kental meleleh dari pangkal paha gadis itu yang mulus tanpa sehelai rambut pun.

TAMAT

Tags : cerita panas,cerita 17 tahun, cerita dewasa, tante telanjang, tante girang, foto telanjang, tante bugil,gambar lelaki,gambar perempuan,gambar orang,gambar payudara,gambar gadis,gambar penis,gambar memek,gambar perawan,gambar seksi,gambar telanjang

Kisah Dewasa – Sahabatku Levana – 2

22 Juni 2010 pada 14:27 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Dari Bagian 1

Rupanya Fifiani atau yang biasa saya panggil dengan Fifi senang curhat dengan saya, bahkan beberapa kali matanya mengarah pada payudara dan bawah rok jins biru saya yang agak naik ke atas, mungkin celana dalam saya yang berwarna putih polos kelihatan, tapi saya cuek saja. Bahkan saya sengaja beberapa kali menyingkap rok saya hingga paha saya yang putih kelihatan dengan jelas hingga Fifi salah tingkah memperhatikan rok saya.

Malam itu kami sudah melewati kota Probolinggo, saya lihat teman-teman sudah pada tidur karena kelelahan, sementara Levana memperhatikan saya sambil mengedipkan matanya beberapa kali. Di bis wisata itu yang duduk di belakang cuma saya, Levana, seorang teman lain dan beberapa barang bawaan yang menumpuk, sementara yang lain duduk di depan, tentu saja ada yang berpasangan.

Sementara itu Fifi rupanya sudah tertidur pulas dengan kepalanya bersandar pada bahu kanan saya hingga perasaan saya jadi tak enak karena napasnya yang harum dan lembut tercium oleh saya, di samping itu posisi duduknya yang sungguh membuat dada saya berdebar-debar karena kakinya menopang pada paha saya. Dengan perlahan saya menyelimutinya hingga kami berdua tertutup oleh selimut hingga cuma tinggal kepala saja yang kelihatan. Tangan kanan Fifi saya pegang dan saya di tempatkan payudara saya. tiba-tiba Fifi membuka matanya dan menatap saya tajam.

“Eh.. Eh.. Fi.. Belum tidur ya?” tanya saya tergagap-gagap karena kaget melihatnya bangun tiba-tiba.

“Iya Mbak, belum ngantuk nich” jawabnya tersenyum ramah dan tidak melepaskan tangannya dari payudara saya, padahal saya sudah horny.

“Jangan panggil Mbak dong, panggil Tika saja ya”

“Iya dech, Tika udah punya pacar belum?” tanyanya.

“Belum, emangnya kenapa?”

“Masak, cewek secantik kamu belum punya pacar!”

“Emang belum, kamu sendiri?”

“Udah pernah sich, cuma sering putus, lebih suka sahabatan ama cewek”

“Oh gitu ya..”

“Ka, boleh nggak Fifi peluk?” pintanya.

“Boleh saja, terserah Fifi dech” gumam saya pelan karena Fifi dengan pelan meremas payudara saya dengan gemas, bahkan sudah masuk dalam BH saya dan meremasnya dengan lembut.

“Sstss.. Fi..” desisku.

“Gimana Ka?” tanya Fifi yang berusaha membuka BH saya.

“Enak Fi.. Sstss.. Saya boleh..” belum sempat Fifi menjawab, tangan saya sudah masuk ke dalam roknya dan membelai vaginanya yang masih memakai celana dalam.

“Sst.. Ka.. Ayo dong..” ajak Fifi menuntun tangan saya untuk masuk lebih dalam dan menyentuh vaginanya.

Akhirnya saya dan Fifi saling meremas payudara dan menyentuh vagina hingga Fifi duluan orgasme karena tak tahan dengan jari-jari saya yang keluar masuk vaginanya dengan cepat. Levana yang dari tadi memperhatikan saya, juga ikut-ikutan merogoh payudaranya sendiri. Belum sempat saya orgasme, bis itu sampai Denpasar, dan kami memesan kamar masing-masing untuk esok paginya kami lanjutkan dengan pesiar keliling pulau Bali.

“Gimana nich Fi, saya khan belum..”

“Tenang saja Ka, gimana kalau kita tidur berdua?” jawab Fifi santai karena tahu bahwa saya belum puas.

“Iya dech”

“Saya boleh ikut nggak, boleh ya..” rengek Levana tiba-tiba mendekati kami.

“Boleh saja, gimana Fi, Ana boleh ikut nggak!?” tanya saya pada Fifi.

“Okey, pasti tambah asyik ya” jawabnya sambil mengedipkan mata pada saya.

Jadilah saya memesan kamar bertiga dan setelah kami diberi pengarahan dari pemandu wisata agar bangun jam 08.00, maka saya langsung masuk kamar. Setibanya di kamar dan menaruh tas, saya peluk Fifi dan menghimpitnya ke tembok hingga payudara saya yang montok menempel ketat pada payudaranya.

“Udah nggak sabar nich yee..” goda Ana sambil memeluk saya juga dari belakang dan langsung mencium leher saya dengan ganas.

“Fi.. Kamu..”

“Udah ka, ayo kita terusin yang tadi” jawab Fifi sambil melumat bibir saya dengan ganas.

“Mmh..”

Fifi yang mencium saya dengan ganas itu juga tak kalah gesitnya mencoba kembali membuka BH saya yang akhirnya terlepas juga ke bawah, tangannya dengan terampil kembali meremas-remas payudara saya, di samping itu Ana berusaha melepas rok jins dan celana dalam saya hingga saya yang pertama-tama bugil duluan. Entah siapa yang memulai duluan, tahu-tahu saya sudah berada di tempat tidur dengan payudara saya yang dijilati Fifi dengan lincah, bahkan Ana pun juga sudah bugil dan sekarang sedang menjilati vagina saya dengan lahap.

“Sst.. Uuh.. Mmh..” rintih saya keras karena tak tahan diperlakukan oleh dua orang wanita cantik yang menjilati bagian sensitif saya.

Beberapa menit kemudian saya pun tak tahan dan mengalami orgasme yang pertama. Fifi juga minta ganti posisi di bawah untuk kami kerjai yang saya bagi tugas dengan Ana, saya bagian menjilat vaginanya dan Ana bagian payudara dan bibirnya. Beberapa menit permainan itu kami lanjutkan dengan cara saling berganti posisi.

“Ka.. Sstss.. Geli.. Ahh.. Ssts”

“Ssts.. Mmh.. Jilat yang itu.. Ya..” rintih Fifi yang sedang berjongkok karena vaginanya dijilat oleh Ana.

“Sstss.. Go.. Yang.. Na.. Sstss..” desis saya meminta Ana yang vaginanya sedang saya gesek-gesekkan dengan vagina saya untuk menggoyang pinggulnya lebih keras.

Permainan demi permainan kami lewati hingga akhirnya saya meminta Fifi memasang penis plastik yang bisa bergetar itu pada vaginanya. Bentuknya seperti celana dalam yang di tengahnya ada penis plastik.

“Sstss.. Pelan.. Fi.. Argh..” jerit saya karena Fifi memasukkan penis buatan itu terlalu cepat pada vagina saya.

“Mmh.. Gimana Ka, enak..?”

“Ssts.. Ya, ayo..” perintah saya setelah Fifi memasukkan penis plastik itu dan mendorongnya keluar masuk hingga saya merasa nikmat dan menjepit penis plastik itu dengan keras hingga dinding vagina saya berdenyut-denyut.

“Sstt.. Ayo.. Fi.. Lebih cepat lagi..” pintaku.

“Sstss.. Mmh.. Sstss.. Argkk..” jerit saya melengking karena cepatnya Fifi memasukkan penis plastik itu hingga saya orgasme berulang-ulang yang ditambah lagi rangsangan pada payudara saya yang dijilat dan dikulum oleh Levana sambil tangannya tak henti-hentinya juga meremas payudara Fifi. Vagina saya mengeluarkan lendir berwarna putih, sungguh banyak sekali.

“Lega rasanya, nikmat juga pake penis buatan..”

“Enak nggak rasanya Ka?” tanya Levana pada saya dengan mimik heran.

“Lho, kamu belum pernah toh An?” tanyaku.

“Belum tuch, biasanya sich cuma ama cewek saja”

“Nikmat kok rasanya, saya sering pake kalau lagi nggak ada pasangan” jawab Fifi sambil membersihkan penis plastik itu untuk kami gunakan lagi.

“Gimana An, kamu coba dech, sini biar kucobain buat kamu..” bujukku pada Levana yang kelihatan masih ingin mencoba penis buatan ini selain gaya enam sembilan favorit Levana dan saya.

Malam itu kami bertiga menguras habis energi untuk bercinta hingga ke kamar mandi, bahkan dengan senangnya saya bisa memandikan Fifi yang paling muda di antara kami bertiga.

“Pelan-pelan ya masukinnya” pinta Levana cemas.

“Tenang saja, nggak sakit kok” kata saya meyakinkan Levana yang melihat saya sudah memasang kan celana dalam berpenis itu di kemaluan saya.

Permukaan penis plastik itu ada bintik-bintiknya yang tidak beraturan dan saya juga tidak begitu mengerti apa manfaatnya, mungkin saja untuk menambah rasa nikmat jika bersentuhan dengan dinding vagina.

“Sst.. Mmh.. Sstss.. Aduh..” jerit Ana pelan karena penis itu terpeleset keluar bibir vaginanya.

Akhirnya seluruh penis plastik itu masuk ke dalam vagina Ana yang masih sempit itu, mungkin Levana masih perawan karena beberapa saat kemudian sedikit keluar darah. Memang selama saya bersahabat dengan Levana, Ana jarang bergaul dengan teman pria, kebanyakan teman wanita seperti saya dan yang lainnya. Sedangkan Fifi pergaulannya luas termasuk dengan pria hingga vagina Fifi sudah agak melebar dibandingkan dengan vagina saya dan Levana.

“Na, kamu masih perawan ya?” tanya saya serius pada Levana.

“Eh.. Iya.. Berarti kamu yang pertama melakukannya, Sayang” jawabnya mesra sambil mencium saya dengan lembut.

“Mmh..”

Saya berusaha maju mundur mengikuti aksi seperti yang di film BF, para pria memajumundurkan penisnya ke dalam vagina si wanita. Sambil memasukkan penis buatan, saya meremas-remas payudara Ana.

“Sstss.. Ter.. Us.. Sstss..”

“Sst.. Fi.. Ayo..” ajak Ana sambil mengajak Fifi untuk berciuman dengan saya.

“Sstss.. Sstss.. Mmh..”

Sambil berciuman dengan Fifi, saya memasukkan penis plastik itu keluar masuk dengan irama yang teratur hingga pantat Levana bergoyang pelan. Rupanya Ana menikmati permainan penis plastik itu hingga meminta saya agar cepat menaikkan tempo keluar masuknya penis plastik itu dalam vaginanya.

“Ayo fi, isap puting saya”

“Iya, Ka..”

“Sstss.. Mmh..” rintih saya agak keras karena Fifi bukan saja mengisap puting saya, bahkan menggigit puting saya dengan gemas hingga saya merasa nikmat dan mendorong penis plastik itu semakin cepat saja.

“Sstss.. Sstss.. Sstss.. Bagi.. An.. Sstss.. Itu..” desis Ana mengarahkan saya untuk menyodokkan penis itu pada bagian lubang vaginanya.

Permainan dengan Ana membutuhkan waktu yang lama karena ia menahan irama birahinya hingga pinggul saya pegal-pegal, kemudian setelah saya lelah, saya menyuruh Fifi untuk ganti menindih Levana dengan penis plastik itu.

“Fi, gantian ya, saya capek nich”

“Ya, ayo sini” jawab Fifi sambil memasang penis itu dan langsung memasukkannya dalam vagina Levana dan mereka pun bermain dengan bernafsu hingga Fifi melahap bibir Ana dengan ganas.

Saya pun menyelipkan tangan di antara payudara mereka dan meremas-remasnya supaya Ana cepat orgasme. Dan akhirnya Levana melepaskan ciuman Fifi dan memintanya agar lebih cepat.

“Sstss.. Sstss.. Sstss.. Ayo.. Fi.. Cepetan..”

“Saya.. Sstss.. Mau.. Keluar.. Sstss..” rintih Levana hingga Fifi semakin mendorong dengan cepat penis plastik itu hingga Ana bergerak-gerak liar dan menjepit Fifi dengan kuat.

“Sstss.. Arghh..” jerit Levana melengking karena cairan putihnya akhirnya keluar juga untuk terakhir kalinya.

*****

Pada jam empat pagi baru kami tidur bersama, tentu saja dengan keadaan bugil dan kepuasan yang tiada tara. Dan kembali tour kami lanjutkan untuk wisata ke pantai Sanur dan pantai Kuta.

Terima kasih pada Bapak Hartono atas tournya, juga sahabatku Fifi dan Levana atas pengalamannya bersama saya, kasih komentar ya atas cerita saya ini, kalau ada yang kurang, konfirmasikan saja ke email saya.

Pembaca cowok dan cewek bisa curhat atau kenalan pada saya melalui email saya atau memberikan tanggapannya mengenai kelainan saya ini, asalkan disertai foto, terutama bagi cewek-cewek baik yang seksi maupun tidak seksi hi.. hi.. hi.., pasti kubalas dengan foto bugil saya, eh maksud saya foto seksi saya dan kalau ada yang mengajak jalan bersama, saya ingin ikut dong.

Jika tanpa foto, maaf saja, saya tidak bisa membalas surat Anda. Dan buat sohib saya Fifi, Vita, Samantha, Aulia, Febri, dan Levana, salam sayang selalu dan kangen, jangan lupa ya baca cerita saya ini dan kapan nih kita mandi bareng lagi, pasti asyik deh. Sekarang saya lagi fitness untuk mengencangkan payudara lho.

TAMAT

Tags : cerita panas, cerita 17 tahun, cerita sexs,cerita sex,cerita dewasa, tante telanjang, tante girang, foto telanjang, tante bugil,abg telanjang bugil,memek abg bugil,cewe abg bugil,photo memek basah, memek basah abg, memek basah smu, cerita memek basah, memek tante basah, memek abg

Kisah Dewasa – Sahabatku Levana – 1

22 Juni 2010 pada 14:24 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Nama saya Kartika, usia 25 tahun dengan tinggi 168 cm, berat 53 kg, asli orang Bandung, kulit putih bersih. Ukuran payudara saya yang 34C termasuk lumayan besar untuk gadis seusia saya. Pekerjaan saya adalah sebagai manager operasional di sebuah perusahaan terkenal di daerah saya. Saya ingin mengeluarkan gelisah hati yang saya pendam selama ini, mudah-mudahan saya bisa berbagi dengan pembaca sekalian.

Saya di kantor mempunyai sahabat yang namanya Levana, sering saya panggil Ana. Orangya supel, dan mudah bergaul, tingginya 172 cm/53 kg, dengan kulit putih mulus, maklum orang Menado asli, 34B ukuran payudaranya. Saya mempunyai kelainan ini sejak masih gadis pada saat tinggal bersama kakak saya, Mbak Erni namanya.

Kapan-kapan saya ceritakan sejarah lesbian saya, tapi saya juga suka cowok lho sama seperti gadis-gadis lain. Hanya saja hampir tujuh puluh persen saya menyenangi cewek, saya tidak mengerti mengapa saya begini, mungkin suatu saat saya bisa sembuh total ya?! Saya sering jalan bersama Ana kalau ada undangan karena saya belum ada pasangan, banyak sih cowok yang naksir, cuma saya masih enggan saja untuk berpacaran. Saya ingat betul awalnya yaitu pada saat bulan Agustus 2004, sehabis pulang kantor.

*****

“Ka, sini sebentar” panggil Ana pada saya sambil mendekatkan Mercynya.

“Ada apa Na?” tanya saya heran pada Ana.

“Boleh nggak minta tolong?”

“Tolong apa?”

“Itu lho, rumah saya khan sedang direnovasi..”

“Terus?”

“Mmh, boleh numpang nginep nggak di rumahmu?” tanya Ana ragu-ragu.

“Alaa, gitu saja nanya, boleh dong, sekarang?”

“Iya, boleh khan?” tanya Ana sekali lagi meyakinkan dirinya sendiri.

“Udah, nggak usah banyak omong, ayo jalan” perintah saya sambil tersenyum.

“Okey, trim’s ya”

Maka setelah Ana mengambil baju sekedarnya, kami berdua meluncur ke rumah saya yang memang agak jauh dari kantor. Rumah saya mempunyai empat kamar, satu kamar untuk tamu dan kamar saya di tengah, saya tinggal sendiri karena orang tua saya tinggal di Surabaya.

“Na, ini kamarmu ya” kata saya sambil menunjukkan sebuah kamar padanya di ujung depan.

“Trim’s ya” jawabnya sambil masuk melihat-lihat kamar.

“Kutinggal dulu”

“Ya..” jawabnya sambil lalu.

Saya kemudian menuju kamar untuk mandi dan berganti baju, soalnya gerah sejak tadi. Sedang asyik-asyiknya saya memilih BH, tiba-tiba Ana masuk ke kamar.

“Eh.. Maaf ka, lagi pake baju ya?” katanya kaget melihatku masih memakai celana dalam berwarna merah dan belum mengenakan BH sama sekali.

“Oh Ana, masuk Na, nggak apa-apa kok” jawab saya sambil tersenyum melihatnya yang masih memandangi payudara saya yang termasuk besar dan montok.

“Wah, badanmu seksi juga ya?” ujarnya.

“Tentu saja, habis saya rajin senam sich”

“Oh ya, ada film bagus nich, nonton yuk” ajak Ana sambil menggandeng saya untuk menonton TV di ruang tengah.

“Bentar Na, kuganti baju dulu ya” jawabku sambil memakai BH dan kaos longgar serta celana pendek.

“Kutunggu ya..”

“Ya”. Kemudian Levana sudah duduk di depan TV sambil makan camilan, sedang saya masih sibuk membereskan baju yang berserakan.

Malam itu Ana mengenakan daster kuning hingga kelihatan kulit lengannya yang putih mulus, kadang-kadang karena duduk kami yang mepet, Ana dengan tak sengaja menyenggol payudara saya hingga perasaan saya jadi bertambah aneh. Mungkin karena acara TV yang membosankan, saya jadi tak tertarik lagi, saya lebih tertarik memperhatikan Ana saja. Ternyata Ana yang memakai daster itu, sudah tidak memakai BH lagi hingga tonjolan payudaranya kelihatan mencuat ke atas, mungkin karena kami sama-sama perempuan, jadi Ana tidak malu-malu lagi, bahkan kadang-kadang kakinya dinaikkan ke meja hingga bawahan dasternya jadi tersingkap dan memperlihatkan celana dalamnya yang berwarna putih.

Perasaan saya jadi lain hingga saya memutuskan untuk ke kamar dan berganti baju dengan daster tanpa memakai BH dan celana dalam juga, supaya bertambah nyaman kalau berdekatan dengan Levana. Sungguh Levana itu gadis yang cantik seperti artis mandarin. Saya kembali ke ruang tamu dan membawa kaset DVD untuk saya tonton bersama Ana, siapa tahu saja Levana tertarik dengan filmnya dan ingin mmh..

“Na, ganti ama DVD ya?”

“Film apaan tuch?”

“Ini, film romantis dari Jepang, pengin liat nggak?”

“Ya, bolehlah, abis acaranya nggak ada yang menarik sich”

“Okey, duduk dekat sini” pinta saya pada Ana untuk duduk di sofa agar nyaman menonton film itu.

Sebetulnya sich, itu film triple X dari jepang mengenai seorang gadis yang mencintai guru wanitanya lalu mereka bersetubuh dan bercinta dengan gaya yang romantis dengan berbagai macam gaya. Volume TV dan AC saya perbesar hingga Ana mendekat dan mepet dengan saya. Untung rumah sudah sepi karena pembantu sudah pulang semua dan lagi rumah saya besar, jadi volume suara TV yang besar itu tidak kedengaran lagi dari luar.

“Film BF ya?” tanya Ana tanpa menoleh pada saya.

“Tapi bagus lho, untuk pelajaran sex”

“Bagus, sich bagus, tapi saya jadi pengin nich” gumam Ana tak jelas karena napasnya yang makin berat dan diselingi suara orang bercinta dari TV yang makin kencang.

“Gimana kalau kupegang payudaramu” usulku.

“Hush, ngaco kamu Tika, kita ini sama-sama cewek tau” jawabnya sambil monyong, namun itu justru menambah gairah saya semakin tinggi.

“Daripada kamu megang sendiri, hayoo” jawab saya tak mau kalah sambil meraba payudaranya.

“Jangan, Tika.. Jangan..” teriaknya keras karena kaget payudaranya saya pegang. Namun teriakannya tak membuat saya jera, bahkan telinganya yang sensitif saya cium dengan lembut.

“Kurang ajar kamu, sst..” tolaknya lemah dengan mendesis.

“Mmh..”

Pergumulan saya dengan Ana berlangsung seru, hingga beberapa menit Levana masih memberontak, tetapi karena gairahnya sudah naik dan ditambah lagi dengan ciuman dan remasan saya pada daerah sensitifnya, akhirnya Ana menyerah juga. Bahkan dengan sigap membalas mencium bibir saya dengan ganas sambil meraba vagina saya yang sudah mulai basah sejak tadi.

“Sst.. Mmh.. Tunggu..” potong saya menghentikan ciuman dan serangannya Ana.

“Hahh, ada apa Ka?”

“Buka dastermu..” pinta saya untuknya agar membuka daster, sementara saya juga telah membuka dasterku sendiri hingga bugil.

“Wah, susumu besar juga ya?” kata Levana kagum melihat payudara saya yang sudah tegak, sambil juga melepaskan dasternya, bahkan celana dalamnya pun ikut dilepaskan juga hingga kami menjadi sama-sama bugil.

Dan kami pun kembali saling berciuman di sofa tanpa mempedulikan film jepang itu. Saya mengambil inisiatif untuk memulai mencium payudaranya.

“Sst.. Sst..”

“Mmh.. gantian..” rintih Ana karena tidak dapat menahan ciuman dan jilatan lidah saya pada payudaranya.

Maka saya pun berganti posisi dengan Ana yang menjilat payudara saya dengan semangat hingga vagina saya juga ikut dibelai, bahkan jari-jarinya yang lentik keluar masuk ke dalam lubang vagina saya dengan cepat hingga saya mengalami orgasme yang pertama.

“Mmh.. Enak.. Na, cepetan.. Sst..” rintih saya karena tak tahan lagi dengan permainan Ana yang begitu hebat, bahkan Ana sekarang menjilat vagina saya dengan liar hingga beberapa menit, saya semakin mendorong vagina saya ke arah mulutnya yang sedang menghisap bagian dalam.

“Sstss.. pinggirnya.. ssts.. Ya.. yang i.. tu..” rintih saya terpatah-patah.

Tiba-tiba Levana menghentikan permainannya..

“Ada apa Na?”

“Kita coba yang seperti di film, mau khan?” usulnya.

“Boleh saja..” jawab saya senang karena memang senang dengan gaya enam sembilan.

Gaya enam sembilan itu maksudnya saya yang berada di posisi atas menghadap Levana yang berada di posisi bawah dengan saling menjilat vagina masing-masing, bahkan saking enaknya hingga kepala saya terjepit oleh Levana yang rupanya juga telah mengalami orgasme yang pertama. Kami melakukan pergumulan itu di sofa hingga dua jam dan rupanya Levana pun puas atas permainan itu.

“Hahh, lega rasanya..”

“Gimana, enak nggak?”

“Enak juga ya”

“Mau lagi nggak?”

“Mau dong kalau caranya gitu” jawab Ana manja sambil mencium bibir saya gemas.

Malam itu saya dan Levana menghabiskan permainan yang seru itu di kamar, bahkan Ana tak henti-hentinya meremas payudara saya dengan gemas, kadang-kadang saya puaskan Levana dengan alat kelamin pria plastik, tentu saja alatnya yang bisa bergetar hingga itu menambah nikmat percintaan saya dengan Ana. Beberapa ronde kami lalui hingga pagi, juga di kamar mandi.

*****

Keesokannya, seperti biasa saya sudah bersiap ke kantor dengan Levana.

“Ayo Na, udah siap belum?”

“Udah boss, ayo” gandeng Ana mesra sambil mencium bibir saya lembut.

“Hush, nanti dilihat orang lho”

“Iya ya..”

Maka sejak itu, saya dan Levana sering bercinta di rumahnya atau rumah saya, bahkan pernah beberapa kali kami bercinta di dalam mobil. Pada saat hari libur, Levana mengajak saya dan beberapa temannya ikut berdarmawisata ke pulau Bali dan Lombok. Salah satu di antaranya bernama Fifiani yang orang Malang.

“Tika, kamu ikut tour besok nggak?” tanya Levana.

“Tentu dong, yang ke Bali dan Lombok khan?” jawabku.

“Iya dong, eh.. kenalin nich, teman saya” ujar Levana memperkenalkan temannya.

“Fifiani” katanya memperkenalkan diri.

“Kartika Sari” jawab saya sambil menjabat tangannya yang kuning langsat itu.

“Ayo Na, sampai besok ya” jawab Levana menggandeng Fifiani.

Hari yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba, saya dengan beberapa teman kantor jadi berwisata ke pulau Bali dan Lombok, juga ada Fifiani dan Levana. Dari obrolan kami, saya ketahui bahwa Fifiani itu umurnya baru 23 tahun, 172 cm/53 cm, dengan payudara 34C, orangnya cukup ramah dan sopan. Levana pernah bercerita pada saya bahwa Fifiani adalah seorang lesbian sejati, sudah pernah beberapa kali pacaran, namun kandas di jalan hingga hatinya hancur lebur.

“Ana, sini bentar Na” panggil saya pada Ana.

“Ada apa Tik”

“Tukeran duduk ya, Fifiani di sini dan tas ini di tempatmu, gimana?” usulku.

“Enak saja, kapan lagi kesempatan gini datang”

“Please dong, khan kamu udah lama kenal ama Fifiani”

“Iya dech, cuman aku boleh liat dong di sebelah..” canda Ana sambil mencolek payudara saya dengan gemas.

Akhirnya dalam bis itu, saya yang mulanya duduk di belakang dengan tas besar entah siapa yang punya, dapat kesempatan duduk dengan Fifiani yang cantik. Levana tak ketinggalan duduk di sebelah dengan tas besar yang sudah saya pindahkan. Fifiani dalam perjalanan itu memakai rok jins hitam dengan kaos merah mudanya, sungguh serasi dengan bentuk tubuhnya yang proporsional.

Ke Bagian 2

Tags : cerita panas, cerita 17 tahun, cerita sexs,cerita sex,cerita dewasa, tante telanjang, tante girang, foto telanjang, tante bugil,abg telanjang bugil,memek abg bugil,cewe abg bugil,photo memek basah, memek basah abg, memek basah smu, cerita memek basah, memek tante basah, memek abg

Kisah Dewasa – Istri Teman Lamaku – 2

20 Juni 2010 pada 15:38 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , ,

Dari bagian 1

Waktu di jam dinding menunjukkan sudah pukul 8.00, namun Azis belum juga datang. Dalam hati kecilku, Jangan-jangan Azis mau bermalam di kampungnya, aku tidak mungkin bermalam berdua dengan istrinya di rumah ini. Saya lalu teriak minta pamit saja dengan alasan nanti besok saja ketemunya, tapi istri Azis berteriak melarangku dan katanya,

“Tunggu dulu pak, nasi yang saya masak buat bapak sudah matang. Kita makan bersama saja dulu, siapa tahu setelah makan Azis datang, khan belum juga larut malam, apalagi kita baru saja ketemu,” katanya penuh harap agar aku tetap menunggu dan mau makan malam bersama di rumahnya.

Tak lama kemudian, iapun keluar memanggilku masuk ke ruang dapur untuk menikmati hidangan malamnya. Sambil makan, kamipun terlibat pembicaraan yang santai dan penuh canda, sehingga tanpa terasa saya sempat menghabiskan dua piring nasi tanpa saya ingat lagi kalau tadi saya bilang sudah kenyang dan baru saja makan di rumah. Malu sendiri rasanya.

“Bapak ini nampaknya masih muda. Mungkin tidak tepat jika aku panggil bapak khan? Sebaiknya aku panggil kak, abang atau Mas saja,” ucapnya secara tiba-tiba ketika aku meneguk air minum, sehingga aku tidak sempat menghabiskan satu gelas karena terasa kenyang sekali. Apalagi saya mulai terayu atau tersanjung oleh seorang wanita muda yang baru saja kulihat sepotong tubuhnya yang mulus dan putih? Tidak, saya tidak boleh berpikir ke sana, apalagi wanita ini adalah istri teman lamaku, bahkan rasanya aku belum pernah berpikir macam-macam terhadap wanita lain sebelum ini. Aku kendalikan cepat pikiranku yang mulai miring. Siapa tahu ada setan yang memanfaatkannya.

“Bolehlah, apa saja panggilannya terhadapku saya terima semua, asalkan tidak mengejekku. Hitung-hitung sebagai panggilan adik sendiri,” jawabku memberikan kebebasan.

“Terima kasih Kak atau Mas atas kesediaan dan keterbukaannya” balasnya.

Setelah selesai makan, aku lalu berjalan keluar sambil memandangi sudut-sudut ruangannya dan aku sempat mengalihkan perhatianku ke dalam kamar tidurnya di mana aku melihat tubuh terbaring tanpa busana tadi. Ternyata betul, wanita itulah tadi yang berbaring di atas tempat tidur itu, yang di depannya ada sebuah TV color kira-kira 21 inc. Jantungku tiba-tiba berdebar ketika aku melihat sebuah celana color tergeletak di sudut tempat tidur itu, sehingga aku sejenak membayangkan kalau wanita yang baru saja saya temani bicara dan makan bersama itu kemungkinan besar tidak pakai celana, apalagi yang saya lihat tadi mulai dari pinggul hingga ujung kaki tanpa busana. Namun pikiran itu saya coba buang jauh-jauh biar tidak mengganggu konsentrasiku.

Setelah aku duduk kembali di kursi tamu semula, tiba-tiba aku mendengar suara TV dari dalam, apalagi acaranya kedengaran sekali kalau itu yang main adalah film Angling Dharma yaitu film kegemaranku. Aku tidak berani masuk nonton di kamar itu tanpa dipanggil, meskipun aku ingin sekali nonton film itu. Bersamaan dengan puncak keinginanku, tiba-tiba,

“Kak, suka nggak nonton filmnya Angling Dharma?” teriaknya dari dalam kamar tidurnya.

“Wah, itu film kesukaanku, tapi sayangnya TV-nya dalam kamar,” jawabku dengan cepat dan suara agak lantang.

“Masuk saja di sini kak, tidak apa-apa kok, lagi pula kita ini khan sudah seperti saudara dan sudah saling terbuka” katanya penuh harap.

Lalu saya bangkit dan masuk ke dalam kamar. Iapun persilahkan aku duduk di pinggir tempat tidur berdampingan dengannya. Aku agak malu dan takut rasanya, tapi juga mau sekali nonton film itu.

Awalnya kami biasa-biasa saja, hening dan serius nontonnya, tapi baru sekitar setengah jam acara itu berjalan, tiba-tiba ia menawarkan untuk nonton film dari VCD yang katanya lebih bagus dan lebih seru dari pada filmnya Angling Dharma, sehingga aku tidak menolaknya dan ingin juga menyaksikannya. Aku cemas dan khawatir kalau-kalau VCD yang ditawarkan itu bukan kesukaanku atau bukan yang kuharapkan.

Setelah ia masukkan kasetnya, iapun mundur dan kembali duduk tidak jauh dari tempat dudukku bahkan terkesan sedikit lebih rapat daripada sebelumnya. Gambarpun muncul dan terjadi perbincangan yang serius antara seorang pria dan seorang wanita Barat, sehingga aku tidak tahu maksud pembicaraan dalam film itu. Baru saja aku bermaksud meminta mengganti filmnya dengan film Angling Dharma tadi, tiba-tiba kedua insan dalam layar itu berpelukan dan berciuman, saling mengisap lidah, bercumbu rayu, menjilat mulai dari atas ke bawah, bahkan secara perlahan-lahan saling menelanjangi dan meraba, sampai akhirnya saya menatapnya dengan tajam sekali secara bergantian menjilati kemaluannya, yang membuat jantungku berdebar, tongkatku mulai tegang dan membesar, sekujur tubuhku gemetar dan berkeringat, lalu sedikit demi sedikit aku menoleh ke arah wanita disampingku yakni istri teman lamaku. Secara bersamaan iapun sempat menoleh ke arahku sambil tersenyum lalu mengalihkan pandangannya ke layar. Tentu aku tidak mampu lagi membendung birahiku sebagai pria normal, namun aku tetap takut dan malu mengutarakan isi hatiku.

“Mas, pak, suka nggak filmnya? Kalau nggak suka, biar kumatikan saja,” tanyanya seolah memancingku ketika aku asyik menikmatinya.

“Iiyah, bolehlah, suka juga, kalau adik, memang sering nonton film gituan yah?” jawabku sedikit malu tapi mau dan suka sekali.

“Saya dari dulu sejak awal perkawinan kami, memang selalu putar film seperti itu, karena kami sama-sama menyukainya, lagi pula bisa menambah gairah sex kami dikala sulit memunculkannya, bahkan dapat menambah pengalaman berhubungan, syukur-syukur jika sebagian bisa dipraktekkan.

“Sungguh kami ketinggalan. Saya kurang pengalaman dalam hal itu, bahkan baru kali ini saya betul-betul bisa menyaksikan dengan tenang dan jelas film seperti itu. Apalagi istriku tidak suka nonton dan praktekkan macam-macam seperti di film itu,” keteranganku terus terang.

“Tapi kakak suka nonton dan permainan seperti itu khan?” tanyanya lagi.

“Suka sekali dan kelihatannya nikmat sekali yach,” kataku secara tegas.

“Jika istri kakak tidak suka dan tidak mau melakukan permainan seperti itu, bagaimana kalau aku tawarkan kerjasama untuk memperaktekkan hal seperti itu?” tanya istri teman lamaku secara tegas dan berani padaku sambil ia mendempetkan tubuhnya di tubuhku sehingga bisikannya terasa hangat nafasnya dipipiku.

Tanpa sempat lagi aku berfikir panjang, lalu aku mencoba merangkulnya sambil menganggukkan kepala pertanda setuju. Wanita itupun membalas pelukanku. Bahkan ia duluan mencium pipi dan bibirku, lalu ia masukkan lidahnya ke dalam mulutku sambil digerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan, akupun membalasnya dengan lahap sekali. Aku memulai memasukkan tangan ke dalam bajunya mencari kedua payudaranya karena aku sama sekali sudah tidak mampu lagi menahan birahiku, lagi pula kedua benda kenyal itu saya sudah hafal tempatnya dan sudah sering memegangnya. Tapi kali ini, rasanya lain daripada yang lain, sedikit lebih mulus dan lebih keras dibanding milik istriku. Entah siapa yang membuka baju yang dikenakannya, tiba-tiba terbuka dengan lebar sehingga nampak kedua benda kenyal itu tergantung dengan menantang. Akupun memperaktekkan apa yang barusan kulihat dalam layar tadi yakni menjilat dan mengisap putingnya berkali-kali seolah aku mau mengeluarkan air dari dalamnya. Kadang kugigit sedikit dan kukunyah, namun wanita itu sedikit mendorong kepalaku sebagai tanda adanya rasa sakit.

Selama hidupku, baru kali ini aku melihat pemandangan yang indah sekali di antara kedua paha wanita itu. Karena tanpa kesulitan aku membuka sarung yang dikenakannya, langsung saja jatuh sendiri dan sesuai dugaanku semula ternyata memang tidak ada pelapis kemaluannya sama sekali sehingga aku sempat menatap sejenak kebersihan vagina wanita itu. Putih, mulus dan tanpa selembar bulupun tumbuh di atas gundukan itu membuat aku terpesona melihat dan merabanya, apalagi setelah aku memberanikan diri membuka kedua bibirnya dengan kedua tanganku, nampak benda kecil menonjol di antara kedua bibirnya dengan warna agak kemerahan. Ingin rasanya aku telan dan makan sekalian, untung bukan makanan, tapi sempat saya lahap dengan lidahku hingga sedalam-dalamnya sehingga wanita itu sedikit menjerit dan terengah-engah menahan rasa nikmatnya lidah saya, apalagi setelah aku menekannya dalam-dalam.

“Kak, aku buka saja semua pakaiannya yah, biar aku lebih leluasa menikmati seluruh tubuhmu,” pintanya sambil membuka satu persatu pakaian yang kukenakan hingga aku telanjang bulat. Bahkan ia nampaknya lebih tidak tahan lagi berlama-lama memandangnya. Ia langsung serobot saja dan menjilati sekujur tubuhku, namun jilatannya lebih lama pada biji pelerku, sehingga pinggulku bergerak-gerak dibuatnya sebagai tanda kegelian. Lalu disusul dengan memasukkan penisku ke mulutnya dan menggocoknya dengan cepat dan berulang-ulang, sampai-sampai terasa spermaku mau muncrat. Untung saya tarik keluar cepat, lalu membaringkan ke atas tempat tidurnya dengan kaki tetap menjulang ke lantai biar aku lebih mudah melihat, dan menjamahnya. Setelah ia terkulai lemas di atas tempat tidur, akupun mengangkanginya sambil berdiri di depan gundukkan itu dan perlahan aku masukkan ujung penisku ke dalam vaginanya lalu menggerak-gerakkan ke kiri dan ke kanan maju dan mundur, akhirnya dapat masuk tanpa terlalu kesulitan.

“Dik, model yang bagaimana kita terapkan sekarang? Apa kita ikuti semua posisi yang ada di layar TV tadi,” tanyaku berbisik.

“Terserah kak, aku serahkan sepenuhnya tubuhku ini pada kakak, mana yang kakak anggap lebih nikmat dan lebih berkesan sepanjang hayat serta lebih memuaskan kakak,” katanya pasrah. Akupun meneruskan posisi tidur telentang tadi sambil aku berdiri menggocok terus, sehingga menimbulkan bunyi yang agak menambah gairah sexku.

“Ahh.. Uhh.. Ssstt.. Hmm.. Teeruus kak, enak sekali, gocok terus kakak, aku sangat menikmatinya,” demikian pintanya sambil terengah dan berdesis seperti bunyi jangkrik di dalam kamarnya itu.

“Dik, gimana kalau saya berbaring dan adik mengangkangiku, biar adik lebih leluasa goyangannya,” pintaku padanya.

“Aku ini sudah hampir memuncak dan sudah mulai lemas, tapi kalau itu permintaan kakak, bolehlah, aku masih bisa bertahan beberapa menit lagi,” jawabnya seolah ingin memuaskanku malam itu.

Tanpa kami rasakan dan pikirkan lagi suaminya kembali malam itu, apalagi setelah jam menunjukkan pukul 9.30 malam itu, aku terus berusaha menumpahkan segalanya dan betul-betul ingin menikmati pengalaman bersejarah ini bersama dengan istri teman lamaku itu. Namun sayangnya, karena keasyikan dan keseriusan kami dalam bersetubuh malam itu, sehingga baru sekitar 3 menit berjalan dengan posisi saya di bawah dan dia di atas memompa serta menggoyang kiri kanan pinggulnya, akhirnya spermakupun tumpah dalam rahimnya dan diapun kurasakan bergetar seluruh tubuhnya pertanda juga memuncak gairah sexnya. Setelah sama-sama puas, kami saling berciuman, berangkulan, berjilatan tubuh dan tidur terlentang hingga pagi.

Setelah kami terbangun hampir bersamaan di pagi hari, saya langsung lompat dari tempat tidur, tiba-tiba muncul rasa takut yang mengecam dan pikiranku sangat kalut tidak tahu apa yang harus saya perbuat. Saya menyesal tapi ada keinginan untuk mengulanginya bersama dengan wanita itu. Untung malam itu suaminya tidak kembali dan kamipun berusaha masuk kamar mandi membersihkan diri. Walaupun terasa ada gairah baru lagi ingin mengulangi di dalam kamar mandi, namun rasa takutku lebih mengalahkan gairahku sehingga aku mengurungkan niatku itu dan langsung pamit dan sama-sama berjanji akan mengulanginya jika ada kesempatan. Saya keluar dari rumah tanpa ada orang lain yang melihatku sehingga saya yakin tidak ada yang mencurigaiku. Soal istriku di rumah, saya bisa buat alasan kalau saya ketemu dan bermalam bersama dengan sahabat lamaku, selesai.

*****

Bagi peminat dan penggemat cerita seperti ini, silahkan kontak kami, emailku anis_bonkah@telkom.net, kami pasti membalasnya, terutama bagi kaum wanita, karena kami senang tukar pengalaman dengan kaum wanita..

TAMAT

Tags :cerita nafsu,cerita 17 tahun, cerita dewasa,gadis telanjang bugil, abg telanjang bugil, telanjang bugil blogspot com, telanjang gadis indonesia, telanjang artis indonesia, telanjang blogspot, spg telanjang, cewek cantik, foto cewek bugil, gadis indonesia bugil, smp bugil, smu bugil

Kisah Dewasa – Hypersex Party

13 Juni 2010 pada 15:29 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sejak sore tadi hujan menggericik tak deras. Luisa berbaring di ranjangnya berselimut tebal. Pintu kamarnya terkunci rapat. Luisa mendehem-dehem nikmat, matanya sayu tapi nafasnya memburu. Sesekali kain selimut tersingkap sehingga beberapa bagian tubuhnya yang tak berbusana nampak dari luar.

“Ahh.. ehg.. emhh..”

Gadis itu terduduk dan menyingkap selimut tebalnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang memang bugil sama sekali. Kepalanya mendongak-dongak menahan ilusinya ketika sebatang dildo bergoyang-goyang di liang vaginanya. Buah dadanya yang berukuran 36 lengkap dengan putingnya yang kenyal membengkak menggairahkan. Lendir kawinnya sudah menggenang di sprei kasur. Tepat diatas lendir itu pussy Luisa yang besar berbulu tipis merekah disodok batang dildo ukuran L.

“Uahh..”

Orgasme telah diraihnya. Luisa terlentang lemas. Batang dildo itu masih menancap di pussy-nya. Enggan rupanya Luisa mencabutnya. Matanya terpejam, nafasnya masih terengah-engah. Tiba-tiba dering telpon mengganggunya.

“Kring.. kring..”

“Hallo..” Luisa menerima telpon sambil menjilati ujung dildo yang barusan bersarang di pussy nya.

“Luisa, hujan-hujan gini enaknya ngapain?” tanya suara di seberang.

“Enaknya dikelonin kamu,” jawab Luisa sekenanya.

“Hi.. hi.. kalau gitu, kamu saya undang deh. Sekarang ke Star Pub deh, kita tunggu. Jangan lupa be a sexy girl, okey?”

“Klik..”

Luisa segera meletakkan gagang telepon di induknya.

*****

Luisa masuk ke dalam café kecil itu. Pintu masuk café nampak tertulis “CLOSE”, tapi tidak bagi anggota pub. Suasana di café sepi, tapi sayup-sayup Luisa mendengar gemuruh tawa di lantai atas. Luisa segera menuju ruang atas. Begitu Luisa masuk beberapa anggota lain segera menyambutnya.

“Hai Luisa,” sapa Sidney yang hanya memakai CD transparan sedangkan susunya yang sekal bergelantungan dengan bebas.

“Hai, makin motok saja susumu,” balas Luisa sambil meremas susu kiri Sidney.

“Saya baru main sama Leo,” ujar Sidney menunjuk pria tegap telanjang yang duduk jongkok di sudut ruangan. Pistolnya mengayun-ayun tegang sejak tadi.

“Hai Luisa, kita sudah nunggu kamu dari tadi loh,” sapa Sari yang memakai CD merah dan BH hitam, kontras banget tapi seksi banget. Kemudian mereka saling berciuman beberapa menit. Sembari berciuman, tangan Luisa sudah nakal menyusup ke CD Sari.

“Kamu baru aja cukur ya?” tanya Luisa ketika jemarinya merasakan bulu-bulu pussy Sari.

Sari tersenyum malu.

“Nggak pa-pa lagi, rasanya malah geli-geli nikmat. Hi.. hi..,” Sari tertawa cekikikan lalu berlalu.

Mata Luisa memedar berbinar-binar ke seluruh ruangan. Ada dua belas orang di ruangan itu. Kesemuanya saling bersaing memperlihatkan keseksian tubuhnya. Wita memakai bikini putih tipis sehingga puting susunya nampak menyembul menggoda. Lia cantik banget malam itu, rambut panjangnya meriap-riap seksi. Apalagi Lia memakai CD putih berenda dan BH putih yang kelihatan puting susunya karena dilubangi pada bagian putingnya, Luisa bener-bener pingin melumat susunya. Maka Luisapun segera mendekati Lia

“Li, kamu cantik sekali malam ini.” Sapa Luisa sambil mempermainkan puting susu Lia yang sengaja disembulkan itu.

“Inikan maksud kamu? Kalau kamu mau, isep aja.” Bagai gayung tersambut.

“Ntar kamu main sama aku yah?”

Lia mengangguk lalu pergi menghampiri Si ganteng Ricko yang pakai CD pink, sejak tadi pistolnya tegang terus melihat pemandangan yang merangsang itu.

Jude (tokoh: Jude, Guru Privatku) memakai BH yang ketat banget hingga susu “Pamela Anderson” nya bagai berebut ingin keluar kain tipis itu, sedang pussynya dibiarkan saja dipelototin sama Tino yang sejak tadi penny nya pingin menerobos jaring tipisnya. Ayu yang pakai daster pendek transparan tanpa CD dan BH memamerkan pahanya di atas meja. Hanya orang nggak waras saja yang nggak berminat sama paha mulusnya. Cindylah yang paling sexy, doski hanya mengenakan stocking hitam sebatas paha dan duduk dengan santainya sambil memamerkan pussynya yang berambut tipis. Pengen banget Luisa melumat klitoris mungil Cindy.

Luisa sendiri memakai CD tipis bertali dan BH bertali yang hanya menutup nipplesnya saja. Sedang Mbak Sarah sang ketua party yang polos los sedang sibuk menjilati dildo barunya. Begitu melihat Luisa datang Mbak Sarah segera menepuk tangannya bertanda party akan segera dimulai. Semuanya segera berkumpul di tengah ruangan.

“Nah, gimana nih? Siapa yang pengin main duluan?” ujar Mbak Sarah membuka acara.

“Saya!” Ayu menunjuk jari.

“Kebetulan Ayu, sudah lama kita nggak liat lagi tarian pecut asmaramu itu.” Sambut si Ricko.

“Okey, Cin, nyalakan tapenya!” kata Ayu.

Cindy segera menyalakan tape recorder kecil. Lalu terdengar suara music yang memancarkan suasana erotic bagi siapa saja yang mendengarnya. Ayu segera berdiri di tengah lalu menari mengikuti suara tape recorder. Tarian gemulai itu semakin memancing hasrat, Ayu memang bekas penari latar yang piawai. Luisa yang sudah sejak tadi menahan birahinya tanpa sadar meremas-remas susunya sendiri. Apalagi kemudian Ayu meminta Ricko melucuti onderdil nya. Maka seperti diberi aba-aba yang lain segera melucuti pakaian milik pasangan yang dipilihnya.

Dengan segera Ricko mendorong Ayu untuk berbaring lalu Ricko segera melumat bibir kenyal Ayu penuh nafsu sedang tangannya meremas-remas penisnya sendiri. Jude yang sudah terbakar segera ikut melumat susu kiri Ayu disusul oleh Cindy yang kebagian susu kanannya. Luisa sendiri segera menyusup ke selakangan Ayu yang terbuka. Lalu dengan semangat Luisa mengerjain pussy Ayu. Dijilatinya pussy Ayu yang sudah penuh dengan lelehan lendir kawinnya. Lalu diobok-oboknya liang vagina Ayu dengan jarinya.

“Aaghh..,” erang Ayu dan Luisa bersamaan karena saat itu Ricko sudah menyodokkan pistolnya ke pussy Luisa dari belakang. Posisi Luisa yang menungging membuat Ricko semakin mudah menancapkan senjata pamungkasnya. Sedang posisi Ricko sebelumnya sudah digantikan oleh Mbak Sarah yang menyekokkan nipplesnya ke mulut mungil Ayu.

Di sudut lain, Tino yang setengah menungging sedang mengerang-erang keenakan ketika diserbu dari dua arah. Sidney yang mengganyang pistolnya dari depan dan Leo yang menyodomi pantatnya. Sedangkan di sisi lain Lia, Wita dan Sari bergumul sendiri. Lia dan Wita saling memagut susu lawan mainnya sedang Sari menyerang pussy Lia yang posisinya terlentang. Beberapa kali dildo masuk keluar pussy Lia dengan mudah lalu bergoyang-goyang membuat Lia bergelinjangan keenakan. “Agh.. enak.. terus Sar..,” erang Lia.

Ricko masih memainkan pistolnya di pussy Luisa. Pantat Luisa bergoyang-goyang naik turun mengikuti gerakan penis Ricko. Berulang kali Luisa mencapai puncak asmaranya, berulang kali pula mani Ricko muncrat ke liang vaginanya. Tapi mereka masih ingin mengulangi dan mengulanginya lagi.

“Rick, saya mau keluar lagi Rick.. oh.. enghh..,” rintih Luisa.

“Kita keluar sama-sama yah, yang..”

Kemudian Ricko semakin memperkuat tekanan batang penisnya keliang vagina Luisa, sehingga tidak lama setelah itu muncratlah air mani Ricko ke dalam vagina Luisa bersamaan dengan keluarnya cairan kawin Luisa.

“Engg.. ah..,” jerit Ricko dan Luisa bebarengan.

Luisa tergeletak di atas karpet. Wajahnya sudah nampak kepayahan, tapi birahinya belum terpuaskan. Ricko sudah meninggalkannya untuk mencari petualangan lain. Mata Luisa memandang sayu kepada Lia yang berdiri di atasnya. Susu Lia yang sudah sangat bengkak membuat Luisa ingin sekali mengunyah nipplesnya yang tegang kecoklat-coklatan. Pussy Lia yang berbulu agak lebat nampak mengkilap basah oleh lendir kawinnya. Lia tahu betul kalau Luisa menginginkannya. Dia segera merunduk dan menyerahkan susunya untuk dilumat oleh Luisa. Luisa melumat susu dan bibir Lia secara bergantian. Tangannya pun agresif menyusuri lorong goa vagina Lia, memelintir klitoris Lia berkali-kali. Lalu masuk dalam dan semakin dalam membuat Lia makin terlena.

“Kamu.. enak banget.. egh..,” rintih Lia.

Luisa mendesis-desis, nafasnya menghembus di bukit montok Lia membuat Lia semakin terbakar. Tapi Luisa juga kembali terbakar ketika Sari datang dan menghisap puting susu Luisa. Lia juga berebut mencaplok susu kanan Luisa. Luisa merem melek manahan semua rasa syur yang tercipta. Semakin syur ketika Leo menjejalkan penisnya yang besar dan tegang banget ke mulutnya.

“Isep sayang.. ayo..”

Luisa menghisap penis Tino. Menggigit-gigit nakal membuat Tino melenguh-lenguh keasyikan. Tino menekan pistolnya dan maninya muncrat ke dalam mulut Luisa. Luisa menelan lendir itu hingga tandas. Segala keindahan terasa ketika entah lidah siapa lagi yang menggerayangi pussy Luisa. Hingga ia merasa tubuhnya dijunjung ke atas dan..,

“Augh..”

Sebatang daging tegang kembali bersarang di pussy Luisa. Kembali dialaminya orgasme yang dialaminya bersamaan dengan si pemilik pistol.

“Ehg.. kau hebat banget Luisa, hebat! Makasih ya..”

Itu suara Leo.

“Bajingan! Mau nyodok nggak bilang-bilang!” umpat Luisa dalam hati.

Lalu semua yang tadi ngerjain Luisa pergi ngerjain yang lain. Luisa tidak lagi memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Rasa capeknya telah membawanya terlelap. Dua jam pun berlalu, suasana hening. Party itu sudah selesai, pemain-pemainnya sudah terlelap tidur.

Luisa yang terbangun paling awal. Dipandangi sekelilingnya dengan senyum simpul. Semua dalam keadaan telanjang bulat, termasuk dirinya. Berbagai CD dan BH berserakan berserakan dimana-mana Pantat Sari merah bengkak begitu juga puting susu Ayu. Luisa tersenyum sendiri melihat ujung susu si bule Jude yang masih dikenyot Ricko. Pantat Sidney juga memerah, mungkin karena di kerjain sama temen-temen yang lain. Dalam party itu tidak hanya cowok saja yang disodomi, cewek juga bisa disodomi. Yang paling suka menyodomi cewek, ya.. si Tino itu. Luisa berpaling kepada Mbak Sarah. Wajah Mbak Sarah penuh dengan mani dan lendir vagina yang mulai mengering. Ruangan itu menebarkan aroma mani dan lendir vagina yang khas.

Mata Luisa tertuju pada Cindy. Gadis itu masih terlelap. Kadangkala mengigau sambil senyum-senyum sendiri. Wajah gadis itu cantik. Tubuhnya kecil tapi susunya montok bener. Vaginanya polos tanpa bulu, warnanya putih kemerahan seperti pipi gadis yang sedang malu. Klitorisnya mungil menyembul. Gairah Luisa kembali bangkit. Luisa berjongkok di depan Cindy kemudian memainkan jemarinya di atas vagina yang merekah itu. Dengan penuh nafsu segera dilumatnya klistoris yang sejak awal tadi membuatnya ngiler itu. Cindy menggeliat-geliat, tapi Luisa tak perduli. Bibir Luisa melumat gundukan vagina Cindy sedang kedua tangannya menggapai meremas-remas daging kenyal nan montok di dada Cindy. Antara sadar dan tidak Cindy menjamak-jaMbak rambut Luisa dan menjepit kepalanya dengan kedua pahanya.

“Ah.. uh.. ah.. uh..,” suara Cindy mendesis lirih.

Nafas keduanya kembali memburu. Luisa menumpahkan segala birahi yang tersisa di kepalanya. Seakan-akan Cindy itu hanya miliknya sendiri. Cindy dipaksa untuk bangun dari lelapnya. Matanya memicing merasakan surga yang kembali datang untuknya. Tapi Cindy sudah tak punya daya untuk membalas. Ia pasrah saja ketika Luisa menjejalkan sebatang dildo masuk ke dalam liang vaginanya.

“Sruup..”

Tanpa banyak perlawanan pistol mainan itupun amblas ke dalam liang kenikmatan Cindy. Cindi sempat terpekik beberapa kali, tapi lemah, rupanya dia sudah tak punya daya kecuali menikmati permainan Luisa. Luisa menarik si dildo maju mundur beberapa kali. Pantat Cindy bergoyang mengikuti iramanya. Makin lama dildo itu bergerak makin cepat.

“Sruup.. sruup..”

Suaranya menyibak lendir-lendir kental yang keluar dari vagina Cindy. Mata Luisa berbinar memandangi vagina bermandikan lendir itu. Langsung ia merunduk dan

“Sruup..”

Dihisapnya si lendir dari pussy Cindy hingga tandas.

“Ah, puasnya..,” kata Luisa dalam hati. Dikecupnya kening Cindy yang tak sadarkan diri. Kemudian dia segera pergi dari tempat itu dengan senyum penuh kepuasan.

TAMAT

Tags : Kisah dewasa,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,Cerita Berahi, Cerita Dewasa, Cerita Ghairah, Cerita Panas, Gambar, MelayBoleh, Melayu Boleh, Skandal Melayu, Skodeng, cewek cantik

Kisah Dewasa – Family Education of Sex 02

11 Juni 2010 pada 14:32 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Sambungan dari bagian 01

Kemudian ibu dan anak tersebut mulai saling bersentuhan bibir.

“Hmm buka mulutmu sayang dan keluarkan lidahmu biar Mama isap lidahmu, hmm.. hmm ya begitu..”

“Intan coba kamu raba susu Mamamu ya..”

“Ya Pap,” kemudian tangan Intan mulai menyentuh dada mamanya.

“Aaakhh.. kamu lagi ngapain sayang?” tanya Dewi kaget karena tiba-tiba dadanya dielus-elus oleh putrinya.

“Hmm.. ya gitu sayang.. ough terus sayang..” kata Dewi memberi semangat kepada anaknya sambil dia terus berciuman dengan putranya.

“Hmm.. nah sayang sekarang gantian kamu yang Mama ajarin ya.. sini sayang,” panggil Dewi kepada Intan.

“Dan kamu Ton coba kamu cium susunya Mama.”

Sekarang gantian Dewi dan putrinya yang saling berciuman sambil perpelukan dan putranya menciumi susu Mamanya.

“Akhh.. hmm..” erang Dewi di sela-sela aktivitasnya dengan Intan dikarenakan nikmatnya susunya diemut-emut, disedot, dan dijilat oleh Anton berganti-gantian antara yang kiri dan kanan.

“Hmm.. ya! anak-anak coba berhenti dulu,” kata Tony menyuruh kedua anaknya untuk berhenti.

“Kenapa Pap?” tanya mereka kebingungan.

“Coba kalian perhatikan ini,” sambil berkata demikian Tony menurunkan gaun istrinya yang sudah acak-acakan sehingga akhirnya tubuh istrinya tidak tertutup dengan selembar benangpun.

“Ini tempat dimana dulu kalian lahir dan merupakan sumber dari segala kenikmatan,” ujar Tony kepada kedua anaknya.

“Coba Mam kamu naikkan dan pegang kedua kakimu agar anak-anak dapat melihatn memekmu dengan jelas!” perintah Tony kepada istrinya.

Kemudian Anton dan adiknya berpindah posisi di samping papanya sambil melihat belahan vagina mamanya yang jelas terlihat dikarenakan diangkatnya kedua kaki mamanya hingga hampir menyentuh perut.

“Coba kalian lihat indah bukan milik Mamamu ini,” kata Tony sambil menunjuk ke arah vagina istrinya.

“Sekarang Ton coba kamu sentuh punya Mamamu ini, pelan-pelan!”

“Aaakhhk.. esstt..” desis Dewi perlahan seiring vaginanya disentuh oleh putranya.

“Tu.. kan Ton kamu lihat Mamamu keenakkan disentuh punyanya.”

“Pap, Intan boleh ikutan nggak?”

“Loh ya boleh dong sayang,” kata Tony.

“Sini kamu duduk di samping kakakmu dan ikutin apa yang dia lakukan!”

Kemudian keduanya sibuk mengelus-elus vagina mamanya secara bersama-sama. Naik-turun membelah bibir vagina mamanya.

“Ahh.. ahh.. ahh.. aduh.. Pap anak-anakmu kok pinter sich.. ah.. ah.. ah.. terus sayang terus.. ahh akk..” tiba-tiba Dewi menjerit keenakan karena tiba-tiba jari tangan Anton masuk ke dalam vaginanya.

“Ahh.. ststt.. sayang.. kamu pinter ya.. ahh.. ahh.. Intaan.. kamu apain itilnyaa Mamaa? Akhh.. eestss..” Dewi semakin histeris ketika klitorisnya digosok-gosok oleh putrinya.

“Ton, sekarang kamu tengkurap dech!” kata Tony kepada putranya.

“Buat apaan Pap?”

“Udah deh kamu turutin aja. Nah sekarang coba kamu cium punya Mamamu, kaya kamu ciuman tadi sama Mama ya..”

“Hmm kayak gini Pap?”

Sambil berkata demikian Anton kemudian langsung mencium bibir bawah mamanya.

“Ough.. Ton.. stt.. ah.. ah.. enak banget sayang..” kata Dewi.

Karena tidak tahan menahan nikmat yang dirasakannya sekarang pahanya Dewi menjepit kepala anaknya sembari tangannya menjambak-jambak dengan penuh nafsu rambut putranya.

“Akkhh.. ough.. ough.. ha.. ah.. ah.. terus.. sayang.. terus..”

Anton yang semakin bernafsu terus menjilat dan menghisap seluruh kemaluan mamanya sembari tangannya terus mengocok-ngocok vagina mamanya dengan cepatnya.

“Ahh.. Pap.. anak kita cepat pintarnya.. yachh.. esstt.. Pap..” kata Dewi kepada suaminya.

Sementara itu Tony tidak memperdulikan ucapan istrinya dikarenakan ia sendiri sibuk mencium payudara istrinya sebelah kanan dan Intan menghisap-hisap di sebelah kiri. Mendapat rangsangan dari mana-mana Dewi makin tidak dapat menahan birahinya yang semakin lama semakin memuncak.

“Ahh.. Anton sayang.. Udah.. dulu ya.. udah.. Ton.. ampun.. estt.. ah.. ah.. ah.. udah dulu.. ya sayang..”

Dewi berusaha melepaskan kepala anaknya dari selangkanganya, tetapi tiba-tiba tangan Tony memegang dengan kuat tangan istrinya sementara kakinya juga ditumpangkan di atas paha Dewi agar istrinya tidak bergerak-gerak.

“Stt.. tahan ya sayang.. nikmatin aja ya.. Int coba kamu tahan tangan dan kaki Mamamu kayak Papa ini biar kakakmu tidak terganggu.”

Akhirnya Dewi hanya bisa pasrah terlentang tidak dapat bergerak-gerak karena kedua tangannya dipegang oleh suami dan putrinya dan kakinya terkangkang dengan lebar karena ditarik ke kiri dan ke kanan oleh kaki suami dan putrinya.

“Oh.. oh.. akhh.. akhh.. Pap.. udah dulu Pap.. Mama.. estt.. ah.. hah udakhh nggak tahan nich Pap.. akhh.. akhh.. Anton.. ahh.. serrt.. sertt..” dan tanpa dapat ditahan lagi akhirnya Dewi menyemprotkan puncak kenikmatannya ke muka dan mulut putranya.

“Ahkhh.. khaa.. ahh.. Wah Mama jadi lemes nich gara-gara kalian semua,” ucap Dewi sambil mengusap wajah dan tubuhnya yang telah basah karena terkena keringatnya sendiri dan keringat suami dan anak-anaknya.

Tak lama kemudian setelah Dewi beristirahat sebentar.

“Ton, sekarang giliran kamu yang mempraktekkan apa yang telah papa-mama ajarkan sama kamu ke adikmu, oke. Tapi sebelumnya biar Mama dulu yang melakukannya, agar Intan tidak menjadi tegang.”

Kemudian Dewi mendekat ke arah putrinya dan secara perlahan baju tidur yang dikenakan oleh putrinya itu dibukanya.

“Hmm.. badanmu bagus juga ya nak.. Mama sampai tidak tahu kalau kamu punya badan seindah ini,” ucap Dewi setelah melepas seluruh penutup tubuh dari putrinya itu.

Diperhatikannya tubuh anaknya yang putih itu, rupanya walaupun Intan masih berumur 15 tahun dan berbadan mungil tetapi payudara yang dimilikinya sudah cukup menonjol dengan puting susu yang berwarna kemerah-merahan, warna khas puting anak remaja, kemudian vaginanya yang bisa dibilang masih botak itu juga berwarna kemerah-merahan.

“Ahh.. Mama jangan gitu ah, kan Intan jadi malu,” kata Intan sambil menutup dadanya yang telanjang itu.

“Eh, jangan ditutup gitu dong masa kamu malu sama keluarga sendiri,” kata Tony sambil sesekali menelan air liurnya sendiri demi melihat tubuh telanjang putrinya dengan payudara mungilnya itu sementara itu bagian vaginanya masih terlihat mulus dengan dihiasi bulu-bulu halus yang baru mulai tumbuh itu.

“Hmm.. sini sayang!” panggil Dewi sambil mendekap erat putrinya Dewi mencium dengan lembut bibir putrinya.

“Hmm.. mmh.. mm.. ibu dan anak itu kemudian berciuman sambil mereka berbaring berpelukan seolah-olah mereka sedang memeluk guling, sehingga kedua susu dan vagina mereka saling bertemu dan bergesek-gesek sehingga menimbulkan kenikmatan tersendiri baik bagi Dewi maupun Intan.

“Ohh.. ahkhh.. oh.. estt.. stt, Mam Intan diapain nich Mam?” erang Intan keenakan karena sambil berbaring telentang mamanya menciumi leher dan kemudian perlahan-lahan menjilat-jilat payudaranya yang makin lama makin mengeras itu.

Dewi makin bernafsu menciumi payudara anaknya itu dan dengan matanya ia menyuruh Tony untuk mendekat dan mencium payudara anaknya yang satu lagi.

“Mmm.. mm.. ehh.. Pap.. estt..” tanpa sadar Intan memegang kepala kedua orang tuanya dan makin menekan ke arah dadanya.

“Ahh.. Mas Anton.. khaa.. mu.. lagi.. ngapain Mas? stt..” jerit Intan.

Rupanya tanpa sepengetahuan mereka diam-diam Anton menyorongkan mukanya ke arah vagina adiknya dan terus menjilat-jilat dengan penuh nafsu. Dihisapnya bibir luar vagina dan lidahnya menyapu seluruh bagian dalam dari vagina adiknya itu terutama pada bagian daging yang dirasakannya mulai makin menonjol (rupanya secara tidak sadar Anton menjilati klitoris adiknya) yang mana hal ini makin membuat Intan makin merintih keenakan.

“Intan coba kamu sekarang menungging deh!” ujar Dewi.

“Mama mau memberikan pelajaran baru kepada kakakmu.”

Intan kemudian berganti posisi, sekarang ia dalam posisi menungging sehingga payudaranya tergantung ke bawah dan pantatnya yang putih itu terpampang dengan bebasnya.

“Ton, coba kamu sekarang liat apa yang Mama akan ajarkan kepadamu.”

Kemudian Dewi memegang kedua belah pantat putrinya kemudian diremas dan dibuka belahan pantatnya itu sehingga lobang anus Intan mulai tampak merekah karena kulit pantatnya tertarik.

“Kamu lihat ini Ton, ini juga merupakan sumber kenikmatan baik bagi laki, apalagi bagi perempuan,” kata Dewi sambil tetap menahan posisi pantat anaknya.

“Masa sih Mam?” tanya Anton tidak percaya.

“Hm.. baik kamu liat sekarang bagaimana reaksi adikmu ini,” jawab Dewi dan Dewi pun kemudian menjulurkan lidahnya dan pelan-pelan mulai menyapu belahan pantat anaknya.

“Ahh.. Mam gelii Mam.. stt Mam ampun.. Mam.. stt..” jerit Intan kegelian berusaha menjauhkan pantatnya dari muka mamanya tetapi apa daya ia tidak dapat bergerak kemana-mana karena papanya menahan tubuhnya dengan memeluk punggungnya dari bawah tubuh Intan dengan posisi berlawanan sambil mulutnya mengisap-isap payudara anaknya.

“Oughh.. Mam.. udah.. Mam.. geli.. Mam.. estt.. ahh..” erang Intan karena sekarang lidah mamanya mulai masuk ke dalam lubang anusnya yang masih sempit itu. Dewi yang melihat anaknya merintih-rintih makin berafsu mengeluar-masukkan lidahnya ke dalam lubang anus anaknya itu dan dengan tangannya iapun menyuruh Anton untuk mulai menjilat vagina adiknya.

“Ahh.. estt.. enak Mas.. iiyaa.. estt Mas.. di situ.. Mas.. jilat terus.. Mas.. ah.. ah.. ah.. hmm.. stt stt.. terus.. Mas..” racau Intan demi menerima rangsangan dari seluruh keluarganya dimana mamanya terus mengocok lubang pantat, kakaknya menjilat-jilat seluruh bagian vaginanya dan papanya menyedot-nyedot pentil susunya yang terus meruncing itu.

“Hu.. hu.. ah.. udah dong dulu Mam, Intan udah nggak kuat nich.. aggh.. Pap, ammpun lepasin dulu.. dong.. Intan nggak tahan.. stt.. aghh.. aghh.. ah..”

“Agghh.. Mama.. Intan udah nggak tahan Mam.. Maamma.. aghh.. ah.. ah.. ah.. Serrtt.. serrtt,” lalu mendorong dengan kuat bagian pantatnya ke arah muka kakak dan mamanya akhirnya Intan mengeluarkan air maninya ke arah muka kakaknya.

“Ahh.. ohh.. udah dulu Kak, Intan capek banget nih,” kata Intan karena walaupun sudah tersiram cairan kenikmatan dari adiknya, Anton masih terus saja menjilat-jilat vagina adiknya sambil berusaha menghisap seluruh cairan yang ada pada adiknya itu.

Akhirnya merekapun semuanya berbaring kelelahan tetapi walau hal tersebut terasa melelahkan tetapi tampaknya penis dari Tony dan anaknya masih tetap mengacung dengan kerasnya.

“Bagaimana anak-anak, Mam udah capek belum? Kalau belum capek nanti Papa terusin pelajarannya.”

“Pelajaran apa lagi Pap, bukannya udah cukup pelajaran yang kita kasih tadi?” tanya Dewi kebingungan kepada suaminya.

“Loh Mama ini gimana sich, ini kan baru pembukaanya saja belum kepelajaran inti beserta variasi-variasi,” jawab Tony sambil tersenyum-senyum.

“Haa.. maksud Papa..?”

TAMAT

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,cerita bugil,cerita nafsu,cerita daun muda,Kisah 18sx,Foto toket gede abg,Cerita setengah baya,memek basah,memek abg,memek gadis,memek tante girang

Kisah Dewasa – Family Education of Sex 01

11 Juni 2010 pada 14:29 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

“Aaahh.. hh.. huh enaknya ya Mam, rasanya kalau sudah keluar nich,” begitu kata Tony seorang bapak berumur 45 tahun, bapak dari dua orang anak kepada istrinya Dewi, ibu berumur 38 tahun.

“Iya nich Pap, Mama juga rasanya masih lemes, abis Papa mainnya kok masih kuat aja, masa udah hampir satu jam tidak keluar-keluar.”

“Iya tapi Mama kan juga kuat melayani Papa,” ujar Tony.

“Ah Papa bisa aja nich ngerayu Mama..”

Akhirnya setelah mereka bermain cinta selama hampir dua jam Tony dan istrinya sama-sama terdiam untuk mengumpulkan energi mereka yang telah terkuras dan masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Akhirnya Tony mulai membuka percakapan sambil memeluk tubuh telanjang istrinya,

“Mam tidak terasa ya kita sudah menikah selama dua puluh tahun dan telah dikaruniai dua orang anak si Anton dan Intan, rasanya baru kemarin mereka kita timang-timang sekarang kok taunya si Anton sudah kelas 1 SMA (17 tahun) dan Intan sudah kelas 2 SMP (15 tahun), dan mereka pintar-pintar lagi”.

“Iya-ya Pap, memang tidak terasa ya, tapi menurut Papa untuk urusan seks apakah mereka sudah cukup tau nggak ya? Soalnya mama takut mereka mendapat informasi yang salah tentang apa seks itu, menurut Papa bagaimana?” tanya Dewi kepada suaminya.

Lama Tony terdiam memikirkan perkataan istrinya tadi dan akhirnya dia berkata,

“Mam bagaimana kapan ada waktu yang tepat kita berempat berkumpul bersama untuk membahas masalah tersebut. Bagaimana Mam?”

“Hmm.. boleh juga, tapi.. bagaimana kalau sekarang aja Pap ini kan juga belum terlalu malam baru jam sepuluh dan lagian juga khan mereka besok tidak ada sekolah.”

“Ya udah Papa bersihin ‘burung’ Papa dulu ya, rasanya lengket nih, sekalian ambil piyama dulu oke.”

“Yaa, Papa nggak usah ambil piyama segala.. dibersihin aja tapi nggak usah pake piyama lagi!”

“Loh Mama gimana sih masa Papa telanjang gini?”

“Loh katanya mau diskusiin masalah seks, jadi sekalian ada contohnya gitu.”

“Dan Papa jadi contohnya?” kata Tony kebingungan.

“Lah iya , nanti kalo giliran Papa yang ngajarin nanti gantian Mama yang jadi contohnya, gimana oke!”

“Tapi Mama yakin ini tidak apa-apa?”

“Iya..” kata Dewi tidak sabar, “Udah deh Papa abis cuci ‘burungnya’ Papa, Papa tunggu di sini ya dan jangan pake apa-apa lagi ya, Mama mau keluar manggil Anton dan Intan.”

Setelah berkata demikian Dewi dengan hanya mengenakan daster tipisnya, (tipis di sini coba dibayangkan bagian dada dan bagian vitalnya hanya tertutupi oleh hiasan renda-renda di dasternya tersebut dan tingginya hanya sejengkal dari lutut), langsung keluar untuk memanggil anak-anak mereka.

“Anton!! Intan!! coba kalian ke sini sebentar!” panggil Dewi dari lantai atas.

“Ya Mam, ada apaan sih Mam?” kata Anton dan Dewi.

“Gini mulai malam ini kalian tidur di atas ya, sama Papa dan Mama!”

“Loh kok tumben Mam, emangnya adapan sich lagian tempat tidurnya muat apa?” kata Anton bertanya.

“Iya nih Mama ada-ada aja,” sambung Intan.

“Nggak.. mulai malam ini Papa dan Mama ada yang mau diomongin bersama kalian jadi kita ngomong-ngomong sebelum tidur gitu. Udah deh sekarang kalian ke kamar aja, Papamu udah nungguin tuh!” kata Dewi dengan sabar kepada anak-anaknya.

Setelah itu Dewi dan anak-anaknya berjalan menuju ke kamar orang tuanya, dimana Tony telah menunggu istri dan anak-anaknya sambil berselimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Kemudian setelah mereka telah berkumpul di kamar yang luas itu sambil bersila di ujung ranjang kedua anaknya pun menanyakan ada apa karena tidak biasanya mereka disuruh tidur bersama orang tuanya mereka.

“Begini Anton, Intan..” kata Dewi memulai percakapan, “Kalian kan sudah besar, kamu Ton sudah kelas I dan sebentar lagi mau kelas II dan kamu Wi sudah kelas II dan tidak lama lagi kamu akan masuk ke SMA dan kamu tau khan pergaulan kayak sekarang gini, Papa dan Mama tidak mau kalau kalian terjerumus dengan pergaulan yang tidak-tidak. Hmm ngomong-ngomong Mama dan Papa pengen tau kalian udah punya pacar belum sih?”

“Kalau Anton sih belum punya Pap, nggak tau tuh kalau Dewi udah punya apa belum?”

“Kalau Dewi sama kayak Mas Anton belum punya juga.”

“Ya udah kalau gitu Mama sekarang mau ngasih pelajaran mengenai seks kepada kalian oke.”

“Sekarang Mam?” tanya Anton dan Dewi kebingungan.

“Iya sekarang, khan mumpung kalian masih libur, udah sekarang Ton coba kamu berbaring di samping Papamu and kamu Tan sini deketan sama Mama!”

“Sekarang Mama mau memberikan penjelasan mengenai bentuk anatomi seorang laki-laki, udah Pap buka dong selimutnya masa masih selimutan aja,” kata Dewi kepada suaminya. Tony yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan istrinya yang cantik itu memberikan penjelasan kepada anak-anaknya kemudian membuka selimutnya secara perlahan-lahan.

“Ih Papa kok telanjang sih?” ujar Intan terkejut.

“Iya nih Papa kok telanjang sih?” sambung Anton yang tidak kalah terkejutnya melihat papanya sendiri berbaring telanjang dengan batang kemaluannya yang masih kecil mengkerut dengan bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat dan terpotong rapi (untuk soal itu Dewi cukup rajin merawat rambut suaminya yang satu ini).

“Loh kan Papa dan Mama mau ngasih pelajaran seks kepada kalian, gimana sih kalian ini,” ujar Tony kepada kedua anaknya.

“Ayo Mam sekarang Mama yang ngasih pelajaran terlebih dahulu.”

“Oke Pap,” ujar Dewi kepada suaminya.

“Nah anak-anak coba kalian duduk di sini!” sambil menyuruh agar Anton duduk di samping kanan papa dan Dewi dan Intan sendiri duduk di sisi kiri papanya semetara itu Tony hanya berbaring setengah duduk saja di tengah-tengah ranjang dikelilingi istri dan anak-anaknya.

“Coba kalian perhatikan tubuh Papa kalian!” ucap Dewi kepada anak-anaknya, “Begini ini bentuk tubuh seorang laki-laki, buat kamu Ton ini bukan hal yang aneh tapi buat kamu Intan jangan merasa jijik atau ngerinya ini kan juga Papa sendiri oke!”

“Oke Mam!” ujar Intan.

Kemudian dengan secara perlahan Intan memperhatikan tubuh papanya yang walaupun sudah berumur badan papanya itu tetap berotot dan belum terlalu kendor. “Coba kamu Int ikuti Mama ya!” sambil berkata demikian Dewi mengelus dada suaminya secara perlahan kemudian Intan mengikuti gerakan mamanya mengelus dada papanya. Tony yang dadanya dielus-elus oleh dua tangan yang halus itu mulai merasa keenakan juga. Kemudian setelah cukup lama, perlahan-lahan tangan Dewi makin turun ke arah selangkangan suaminya bersama dengan tangannya Intan dan ketika sampai pada kemaluan suaminya Dewi berujar,

“Nah Intan ini yang namanya Penis.”

“Oooh..” Intan hanya dapat berkata demkian.

“Dan kamu tau Intan, kalau kontol pria jika sedang bernfsu dapat membesar.”

“Emangnya bisa Mam?” tanya Dewi dengan lugu.

“Ya bisa sayang. Coba kamu lihat Mama ya, nanti kamu coba sendiri.”

Kemudian Dewi memegang batang kemaluan suaminya dengan lembut, kemudian secara perlahan dikocoknya penis suaminya itu.

“Aaah stt.. Mam hmm..” ucap Tony kepada istrinya ketika penisnya mulai dikocok-kocok dan makin lama ukuran penis Tony makin lama makin membesar (tapi belum menyampai ukuran maksimal).

“Eh iya.. Mam, Mama bener juga tu kontolnya Papa mulai gede tuh,” kata Intan.

“Nah sekarang coba kamu ke sini Int.. sekarang kamu yang coba ya..”

“Tapi Mam, Intan nggak bisa..”

“Intan sini sayang nanti Papa yang kasi tau oke, sini sayang, biar Mamamu gantian yang ngajarin Anton, tuh Mam anakmu kasian dari tadi dia diamin aja,” kata Tony kepada istrinya.

Anton yang dari sedari tadi melihat perbuatan mamanya itu hanya dapat terdiam dan sesekali menelan air ludahnya dan tanpa disadarinya penisnya pun mulai membesar.

“Ton panggil Dewi, coba kamu berbaring di samping Papamu!”

Anton pun tanpa berkata-kata berbaring sambil setengah duduk di sisi papanya. Kemudian Dewi pun bergeser di samping anaknya dan secara perlahan mulai menurunkan celana pendek anaknya itu.

“Wau.. Pap coba lihat punya anakmu ini, sampai tidak muat loh celana dalamnya,” kata Dewi kepada suaminya dan kemudian dengan perlahan pula celana dalam Anton dibukanya pula.

“Ton kamu tenang aja ya kamu lihat, pelajari dan nikmatin saja apa yang Mama ajarin kepada kamu ya, kamu juga Intan kamu dengerin yang Papamu ajarin ya..”

“Ya Mam,” jawab mereka berdua.

“Wah.. Ton punyamu tidak kalah sama Papamu yah.. tapi ini kok bulu jembutnya berantakan gini sih. Nanti kapan-kapan Mama cukurin ya.”

Kemudian sama dengan suaminya, Dewi pun mulai mengocok penis anaknya secara perlahan-lahan.

“Ahh stt.. Mama kok enak banget sih Mam, ah.. ah aduh Mam stt..” ucap Anton ketika mamanya terus mengocok penisnya itu.

“Hmm.. stt kamu cepet pinter juga ya Int..” kata Tony memuji anaknya (walaupun masih kaku gerakannya).

“Nah gitu nak.. ngocoknya, aduh ahh.. jangan kenceng-kenceng dong megangnya!” kata Tony kepada putrinya, “Nah.. gitu stt.. hmm.. ya gitu baru bener. Sekarang coba kamu lebih cepet deh ngocoknya.”

Intan pun mulai mempercepat kocokan tangannya di batang kemaluan papanya.

“Ah.. ah.. ah..” Tony hanya dapat menegangkan seluruh tubuhnya demi menahan rasa nikmat yang diberikan putrinya ditambah lagi dilihatnya istrinya masih sibuk mengocok penis putranya.

“Aduh.. stt Mam.. enak banget Mam!! aduh.. ah.. ah.. terus Mam..”

“Gimana yang enak nggak Mama kocokin?” tanya Dewi kepada putranya.

“Ii.. ii. iya Mam enak Mam.. stt.. akhh aduh Mam.. Mam.. Anton.. hmm.. udah dulu Mam Anton mau pipis dulu nih, udah nggak tahan Mam! Mam.. udah Mam!”

Dewi tanpa memperdulikan teriakan anaknya terus mengocok-ngocok penis anaknya dengan cepatnya.

“Udah Ton kalau kamu mau pipis, pipis di sini aja..” ucap Dewi sambil terengah-engah menahan birahinya yang dirasakan mulai meninggi itu dikarenakan melihat suami dan putra mengeliat-geliat keenakan dan semakin lama dirasakan penis anaknya makin membesar dan makin keras denyutannya dan tanpa disadari vaginanya pun mulai terasa lembab dikarenakan mulai merembesnya cairan yang keluar dari dalam vagina Dewi.

“Yaa.. Mama khaan malu Mam sama Papa dan Intan, masa di sini akhh.. Sih.. akh.. ahh..” protes Anton.

“Udah nggak apa-apa nanti Papamu juga kayak kamu,” ujar Dewi dengan sabar.

“Bener nih Mam stt.. Ah.. ah.. akh.. Mam udah Mam.. ah.. hah.. hah.. akhh..”

“Crett.. creett.. crreet..” dan tanpa dapat ditahan lagi Anton mengeluarkan air maninya dengan derasnya kurang lebih empat sampai enam kali semburan mengalir dengan derasnya membasahi perut, dada, tangan mamanya, bahkan sampai sempat mengenai wajah Dewi dikarenakan kuatnya semburan maninya tersebut. Kemudian dengan penuh kasih sayang dibersihkan penis anaknya dengan handuk yang ada.

“Ahh Mam ngilu Mam,” ujar Anton ketika kepala penisnya tersentuh oleh tangan mamanya.

Di dalam hati Dewi bergumam, “Ini anak udah keluar kok kontolnya masih tegak sih persis seperti papanya.”

“Ih.. Papa, Mas Anton kenapa itu?” tanya Intan melihat kakaknya.

“Masmu itu namanya baru mengalami puncak kenikmatan,” jawab Tony.

“Kok Papa kok belum kayak Mas Anton sih, khan Intan udah pegel nih ngocokin terus.”

“Ya.. udah kamu istirahat dulu biar Mamamu yang gantiin, Mam sini coba kamu terusin kasian anakmu udah capek..”

“Hmm Papa nich..” sambil berkata demikian tangan Dewi mulai mengocok penis suaminya.

“Akhh.. akhh.. ah.. ah.. Mam rasanya kok kurang pas ya.. coba Mama pake mulut dong!” kata Tony.

“Intan, Anton kamu liat Mamamu ini ya..” kata Tony kepada anaknya.

“Loh Mam.. kok kontolnya Papa dimasukin ke mulut Mama sih, nggak jijik Mam?” tanya Intan.

“Ya nggak dong yang malah rasanya enak loh, nah kamu liat ya..”

Kemudian penis suaminya pun dilahapnya dengan penuh nafsu, dimainkannya penis suaminya dengan lidahnya di dalam mulut.

“Akhh.. stt.. hmm enak Mam.. Wau Mam.. enak ba.. nget Mam..” teriak Tony ketika penisnya mulai dikocok-kocok dengan mulut Dewi.

“Ahh dijepit dong Mam.. nah gitu terus Mam..” sambil terus meracau tangan Tonya mulai menaik-turunkan kepala istrinya dengan cepat seolah-olah dia sedang menyetubuhi mulut istrinya dan sepuluh menit kemudian, “Mam.. ahkkhhk Mam.. Papa mau keluar nich.. Mam stt.. stt..”

“Creett.. Crreet.. Crreett..” dan akhirnya tertumpahlah seluruh air mani itu di dalam mulut istrinya.

“Ah enak sekali Mam.. Nah Anton gimana kamu tadi rasanya enak nggak dikocokin sama Mamamu?”

“Enak banget Pap,” jawab Anton sambil memperhatikan kelakuan orang tuanya ia terus mengelus-elus kepala penisnya.

“Oke Anton, Intan sekarang gantian Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian.”

“Yap, sekarang Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian berdua, coba Mam kamu sekarang berbaring!”

Kemudian Dewi membaringkan tubuhnya yang masih ditutupi oleh gaun tidur di tengah tempat tidur sambil dikelilingi oleh anak-anaknya dan suaminya sendiri duduk di antara selangkangannya.

“Nah anak-anak coba kalian buka baju Mama kalian!” perintah Tony kepada kedua anaknya.

Secara perlahan-lahan kedua tangan anaknya menurunkan tali penahan baju ibunya dari bahunya hingga sebatas perut dan tampaklah kedua payudara ibunya yang besar dengan puting susunya yang mulai menonjol karena menahan birahi sedari tadi.

“Mam, coba kamu ajarin Anton ciuman, biar nanti kalo dia sudah punya pacar, dia sudah tau caranya.”

“Sini sayang, Mama ajarin kamu ya..”

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,cerita bugil,cerita nafsu,cerita daun muda,Kisah 18sx,Foto toket gede abg,Cerita setengah baya,memek basah,memek abg,memek gadis,memek tante girang

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.