Kisah Dewasa – Dari Email Turun Ke Ranjang – 1

2 Juli 2010 pada 12:30 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , ,

Namaku Rio. Beberapa pembaca mungkin sudah pernah membaca pengalamanku yang kutuangkan di situs ini. Semenjak pengalamanku dimuat, aku jadi kebanjiran email. Dari sekian banyak email-email itu, ada satu email yang dikirim dari seorang ibu yang usianya dia sebut 46 tahun. Untuk menyembunyikan identitasnya, sebut saja namanya Lilis. Aku memanggilnya dengan sebutan Mbak, jadi Mbak Lilis.

Perkenalan kami termasuk cepat. Hanya sekitar dua atau tiga kali kirim-kiriman email, kami sudah bertukar nomer handphone. Setelah itu kami mulai sering ber-SMS-ria dan mulai jarang email-emailan. Biasanya aku SMS-an dengan Mbak Lilis di atas jam 9 malam, karena di atas jam segitu suaminya baru berangkat kerja. Suami Mbak Lilis sebut saja Mas Yuda, bekerja di perusahaan IT internasional yang afiliasinya berada di Sudirman, dimana jam kerja sang suami menurut Mbak Lilis disesuaikan dengan jam kerja kantor pusatnya di London.

Sementara Mbak Lilis sendiri bekerja di salah satu perusahaan pelayaran dengan posisi yang kalau Mbak Lilis bilang gajinya cukup buat ngikutin gaya hidup metropolitan. Aku nggak tau kenapa wanita itu enggan menyebutkan posisinya. Jam kerja Mbak Lilis sebagaimana normalnya perusahaan swasta, nine to five. Otomatis Mbak Lilis hanya sempat bertemu Mas Yuda dari jam 7 malam saat tiba di rumah, sampai menjelang jam 9. Kemudian wanita itu terpaksa tidur sendirian karena anak mereka satu-satunya kuliah di Bandung dan tinggal di tempat kost-nya. Dan ketika bangun pun sang suami belum tiba di rumah, sementara Mbak Lilis sudah harus meninggalkan rumah sebelum sempat bertemu sang suami.

Itu yang Mbak Lilis ceritakan padaku lewat telepon. Dan karena seringnya kesepian, Mbak Lilis sering menghabiskan waktu sendirinya bersama teman-teman sepergaulannya. Tapi Mbak Lilis ternyata bukan tipe wanita-wanita eksekutif yang gemar clubbing, dugem, atau kegiatan malam lainnya. Wanita tersebut lebih senang kumpul bareng ibu-ibu sebayanya, arisan, senam, shopping atau sekedar nongkrong bareng makan bakmi di restoran.

Seru juga mendengar ceritanya. Kebetulan Mbak Lilis tipe orang yang dominan dan periang, jadi setiap kali kami telpon-telponan, Mbak Lilis selalu mendominasi pembicaraan. Sementara aku hanya menjadi pendengar setia. Beberapa minggu setelah telpon-telponan, kita sepakat untuk ketemu. Mbak Lilis menawarkan aku untuk main ke rumahnya.

“Iya Yo, di rumah aja lah lebih nyaman. Kalo di mall berisik” jawabnya ketika kutanya kenapa lebih suka ketemu di rumah.

“Terserah Mbak Lis deh, aku sih dimana aja juga enak” sahutku.

Kemudian kami set waktu. Kami mengambil hari kerja, karena kalau weekend tentunya Mbak Lilis menyediakan waktunya untuk sang suami.

Hari yang ditentukan pun tiba. Tadi sore Mbak Lilis sempat telpon ke handphoneku untuk memastikan. Aku pun confirm ok. Pulang kerja aku mampir ke rumah untuk makan dan mandi. Sambil menunggu waktu aku iseng SMS-an dengan beberapa temanku.

Jam menunjukkan puku setengah sembilan. Aku langsung bersiap untuk berangkat. Rumah Mbak Lilis tidak begitu jauh dari rumahku. Wanita itu tinggal di daerah Cempaka Putih. Aku melesat kesana dengan taksi. Sampai di komplek rumahnya, aku segera menelpon Mbak Lilis.

“Mbak aku udah sampai di gangnya nih, Mbak keluar ya” pintaku.

“Jangan Yo, kamu turun aja di ujung gang, terus kamu hitung 6 rumah dari ujung yang pagar krem itu rumahku” jawab Mbak Lilis.

Aku pun menuruti apa yang dikatakannya. Setelah turun dari taksi aku berjalan ke arah dalam dan menghitung.. satu.. dua.. tiga.. empat.. lima.. nah ini dia! Aku baru saja menekan bel yang ada di dekat pagar ketika sesosok wanita keluar dari dalam rumah dan menghampiri pagar. Wanita itu tersenyum ke arahku.

“Sampe juga Yo” sapanya. Ternyata dia Mbak Lilis. Aku tersenyum.

“Iya, nggak susah kok Mbak” jawabku sambil masuk ke dalam pagar.

Kuperhatikan wanita yang sedang menutup pagar ini. Wajahnya memang menunjukkan seorang wanita setengah baya, namun kulit wajahnya halus sekali. Tubuhnya yang sedikit gemuk terbungkus daster dari bahan linen. Kulit kuning langsatnya yang mulus terasa halus sekali ketika secara tak sengaja lengan kami bersentuhan. Rambut hitam lebatnya yang keriting dibiarkan panjang sepunggung dan masih dalam keadaan basah. Kelihatannya Mbak Lilis baru selesai mandi. Aroma sabun dan shampoo juga masih tercium dari tubuhnya.

“Heh, bengong.. yuk masuk” ajakan Mbak Lilis mengejutkanku.

“Eh.. iya Mbak” jawabku. Aku mengikuti Mbak Lilis yang berjalan masuk ke dalam rumah.

Di dalam ternyata Mbak Lilis sudah menyiapkan makan malam untukku.

“Aduh Mbak repot-repot deh” kataku ketika Mbak Lilis mengajakku makan.

“Ah kamu nggak usah basa-basi deh” ujar Mbak Lilis seraya menyendokkan nasi untukku. Aku berusaha mencegah.

“Mbak.. Mbak.. aku tadi di rumah udah makan” cegahku sambil menyentuh pergelangan tangan Mbak Lilis.

Aduh halusnya.. Wanita berwajah lembut itu pura-pura cemberut.

“Gitu deh.. kamu nggak hargain aku ya” serunya sambil merajuk.

Aku tersenyum. Gila nih orang udah kepala lima mukanya masih cute aja, pikirku dalam hati.

“Iya deh, tapi jangan banyak-banyak ya” jawabku.

Mbak Lilis pun tersenyum sambil mengangguk. Kami pun makan malam berdua sambil cerita-cerita dan cekakakan. Mbak Lilis antusias sekali membahas pengalaman yang kuceritakan di situs ini.

“Gila Yo, trus tuh ABG pada kemana sekarang?” tanya Mbak Lilis di sela-sela ceritaku.

“Masih ada Mbak, cuma udah jarang contact.. apalagi mereka nggak di sini kan” ceritaku.

Tanpa terasa sudah hampir jam sepuluh malam. Aku membantu Mbak Lilis membereskan meja bekas kami makan. Kemudian wanita itu menyuruhku menunggu di ruang TV sementara dia mencuci piring. Tak lama kemudian Mbak Lilis ikut ke ruang TV dan duduk di sofa di sebelahku. Wanita itu merapatkan tubuhnya ke tubuhku. Hmm.. lengannya terasa hangat dan mulus. Kemudian Mbak Lilis melipat kakinya ke atas sofa.

“Udah nyucinya Mbak?” tanyaku basa-basi. Wanita itu tersenyum sambil mengangguk.

“Kok nggak pake pembantu sih?” tanyaku lagi.

“Nggak, males Yo.. pembantu sekarang jarang yang beres. Apalagi kalau malam begini aku sering di rumah sendirian. Takut ada apa-apa” jelasnya. Bibirku membentuk bulatan kecil.

“Ya cari pembantunya yang cewek dong Mbak” timpalku.

“Kalo dia punya pacar gimana? Trus kalo pacarnya macem-macem gimana? Hayoo.. hihihi” Mbak Lisa menjelaskan sambil mencubit hidungku gemas.

Aku membalasnya. Kemudian aku sengaja menatap wanita itu lama-lama hingga yang ditatap menjadi salah tingkah.

“Ih.. genit liat-liat” serunya.

Aku tersenyum sambil memberanikan diri merangkul pundaknya.

“Mbak Lis sexy deh” bisikku di telinga wanita itu.

Mbak Lilis tertawa manja. Kemudian wanita itu mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dekat sekali, sehingga bibir kami hanya berjarak kurang dari satu centimeter.

“Terus kalo sexy kenapa sayang?” desahnya tepat di wajahku.

Tanpa menjawab pertanyaannya, aku langsung melumat bibirnya yang lembut. Hmm.. nikmat sekali. Mbak Lilis tampak menikmati ciuman dan hisapanku. Lidahku pun menari dengan lincah, masuk ke dalam mulut Mbak Lilis dan menjelajahi rongga mulutnya.

“mmhh.. ssllpp.. mm.. sshh” Mbak Lilis seolah tak mau kalah denganku.

Lidahnya ikut menari mengimbangi lidahku. Nafsu birahi yang mulai naik menuntun tangan wanita itu untuk merengkuh kedua pipiku. hh.. lembut sekali telapak tangannya.

Tanganku pun mulai menjelajahi lengan Mbak Lilis yang halus. Perlahan-lahan kuusap lengan dan bahunya. Mbak Lilis yang semakin terangsang mendorongku jatuh ke sofa tanpa melepaskan ciumannya. Aku mengikuti saja. Dalam sekejap tubuh montoknya telah menindih tubuhku di atas sofa. Penisku mulai tegang. Aku mencoba merentangkan kedua kakiku agar penisku bisa berada pada posisi yang benar di balik celanaku. Bibir Mbak Lilis sudah tak hanya menjelajahi bibirku, tapi juga mulai menjalar ke bagian pipi, leher dan dadaku. Perlahan jemarinya yang lentik mencopoti kancing kemejaku satu per satu. Upss.. ternyata tidak semua, Mbak Lilis hanya melepas tiga kancing di atas. Kemudian kedua tangannya melebarkan celah kemejaku dan.. aahh.. Wanita itu menjilati dadaku dengan penuh nafsu.

Kedua tanganku merengkuh rambut keritingnya yang tergerai. Perlahan tanganku mengusapi punggung dan lengan Mbak Lilis. Tanpa mempedulikan birahiku yang semakin naik, Mbak Lilis terus menjilati dadaku. Bahkan sekarang seluruh kancing kemejaku telah copot. Wanita itu menjilati perutku dengan liar.

“sshh.. Mbbakk” desahku.

Mbak Lilis menghentikan aktivitasnya sejenak. Wanita itu memandangku sambil tersenyum.

“Kenapa sayang?” desahnya. Aku tersenyum.

“Nggak pa-pa, enak banget Mbak” jawabku. Kemudian aku mengangkat tubuh montok itu hingga berdiri tegak, dan kini giliranku yang aktif. Kupeluk tubuh montok Mbak Lilis dan kujilati leher dan pundaknya. Wanita ini hanya tertawa-tawa kecil seperti meremehkan ‘seranganku’. Kedua tangannya membelai kepalaku dengan lembut, dan akhirnya bergerak melepaskan kemejaku. Kini aku telah bertelanjang dada.

“Sini sayang.. sshh.. oohh” Mbak Lilis memeluk tubuhku erat-erat sehingga dadaku dapat merasakan kenyalnya payudara wanita itu.

Aku tidak lantas diam, lidahku terus menari menjelajahi leher dan tengkuk Mbak Lilis. Wanita itu mulai merasa keasyikan. Aku pun meneruskan dengan menjilati bagian belakang telinganya, lantas mengulum dan melumat telinganya yang putih bersih.

“sshh.. Riioo.. hh” tubuh Mbak Lilis menggelinjang menahan rasa nikmat.

Aku tak peduli, lidahku terus menjalar ke bahu, dan akhirnya aku mencoba menurunkan tali daster yang tersangkut di bahu Mbak Lilis dengan mulutku.

Kedua tali daster itu sudah turun dan aku pun bisa melihat putihnya dada Mbak Lilis. Aku baru sadar kalau sejak tadi wanita ini tidak mengenakan bra. Aku pun menjadi gemas dan mulai meremas kedua payudaranya yang montok namun sudah agak turun.

Mbak Lilis merebahkan tubuhnya di atas sofa agar bisa lebih menikmati remasanku. Sementara itu kedua tangan Mbak Lilis kembali merengkuh kepalaku untuk mengajak berciuman. aahh.. lagi-lagi aku merasakan kehangatan bibirnya. mmhh.. nikmat sekali. Birahiku semakin naik. Tanganku pun berpindah ke lengannya untuk menurunkan seluruh tali dasternya. Sekarang daster itu sudah turun sampai ke pinggang. Uuhh.. aku bisa melihat dada Mbak Lilis yang putih bersih. Kedua tanganku meremas payudara yang kenyal itu dan kujilati putingnya.

Ke bagian 2

Tags : cerita seks, cerita daun muda, gadis bandung, video bugil, cerita sexs, tante,gadis bugil tante girang, smu bugil, bugil photo, artis bugil malaysia, tante girang bugil videos, bugil aura kasih, gambar bugil cewek hamil, model bugil tabloid, artis indonesia bugil

Kisah Dewasa – Nafsu Birahi Tante Etty – 2

27 Juni 2010 pada 12:41 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Dari bagian 1

Dengan kedua tanganku kusibakkan bulu di vaginanya. Kulihat belahan vaginanya yang memerah mengkilat dan bagian dalamnya ada yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bau wanginya membuat sensari yang aneh. Tak pernah ada bau seperti ini yang pernah kukenal.

Dengan hidung kugesek-gesekkan belahan vagina Bu Etty sambil menikmati aromanya. Erangannya dan gelinjang tubuhnya terlihat seperti pemandangan yang indah sekaligus menggairahkan. Kedua tangannya meremas-remas sendiri payudaranya.

“Aakhhk.. Eekh.. Nikmat sekali sayang. Terus sayang”.. Rintihnya.

Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit vaginanya, ada rasa asin. Lalu dari bawah sampai ke atas kujulurkan lidahku, menjilati belahan vaginanya. Begitu seterusnya naik turun sambil melihat reaksi Bu Etty.

“Akkhh.. Aachh.. Aakkhh..” Bu Etty terus merintih nikmat, tangannya mencari tanganku, meremas-remas jariku lalu membawanya ke payudaranya. Aku tahu dia ingin yang meremas payudaranya adalah tanganku. Begitu kulakukan terus, kedua tanganku meremas-remas payudaranyua, mulutku menjilati dan menghisap-hisap memeknya

“Aakkhh.. Sudah sayang.. Sudah.. Ayo sekarang sayang.. Ibu sudah tak tahan. Aakkhh.. Masukkan kontolmu sayang, masukkan ke vagina ibu.. Cepet sayang.. Oohh..” desahnya meraih kepalaku agar menghentikan jilatanku di vaginanya.

Tanpa harus mengulangi permintaannya langsung saja aku merangkak naik menindih tubuh Bu Etty. Bu Etty melebarkan pahanya dan penisku menuju vaginanya. Beberapa kali ku coba, memasukkan penisku dalam lobang memeknya namun selalu gagal. Tangan Bu Etty lalu menyambar penisku dan menuntunnya membimbing ke lobang memeknya.

“Yah.. Itu sayang.. Tekan sayang.. Tekan disitu.. Aacchh.. Ayo sayang.. Tarik dan tekan lagi.. Ibu tak tahan.. Oocchh.. Ackh.. Enak sekali kontolmu Andi.. Oocch..” Bu Etyy merintih kenikmatan ketika penisku ketekan seluruhnya ke lubang memeknya.

Batang penisku rasanya terjepit oleh dinding yang sangat lembut di dalam vagina Bu Etty dan kurasakan seperti berdenyut-denyut dan mnghisap-hisap, nikmat luar biasa karena ini yang pertama kali kurasakan. Bu Etty menggoyang-goyangkan pinggulnya. Setengah berputar-putar dan kadang naik turun. Penisku yang tertancap di vaginanya yang setengah becek dibuat seperti mainan yang membuat nikmat.

“Ayo.. Sayang.. Ayo.. Tekan terus sayang Ibu sudah tak tahan” rintih Bu Etty dengan mata setengah terpejam dan mulutnya yang setengah terbuka mendesah-desah dan kiat kuat juga menggoyang-goyangkan pinggulnya. Akupun terus mengimbangnya sampai tiba-tiba Bu Etty terdiam dan kedua tangannya merangkul leherku kuat-kuat dan dari mulutnya keluar desahan panjang.

“Aacckh.. Acckh.. Oohh.. Oohh..” dan bersamaan dengan rintih kepuasaannya diapun terkulai lemas, sedang diriku masih belum mencapai klimak.

“Ooh.. Sayangku.. Andi.. Maafkan ibu”

“Abis ibu nafsu sekali ngewe dengan kamu sayangku”

Aku hanya diam dan tersenyum.

“Kamu kuat sekali sayang.. Gantian sini ibu yang diatas kamu” tambahnya.

Akupun merubah posisi dimana sebelumnya Bu Etty melap dulu vaginanya dengan lap seadanya. Bu Etty sekarang menunggani tubuhku, perlahan dia mulai bergoyang dan kurasakan peniku terasa lebih masuk dalam lobang vaginanya.

Dengan posisi diatas tubuhku tampak sekali payudaranya lebih besar dan semakin menantang. Bu Etty berjongkok diatas pinggangku menaik-turunkan pantatnya, terlihat jelas bagaimana penisku keluar masuk liang vaginanya. Yang terlihat penuh sesak, sampai bibis kemaluan itu terlihat penuh kencang.

“Oohh.. Enak bu.. Oohh.. Bu.. Bu kok bisa enak begini.. Oohh..”

Kedua payudanya seperti berayun keras mengikuti irama turun naiknya tubuh Bu Etty.

“Remees susu ibu sayang.. Oochh.. Yaah.. Pintar kamu Andi.. Oohh.. Ibu enggak percaya kamu bisa kuat begini. Oohh.. Pintar dan hebat kamu sayang.. Bikin ibu jadi ketagihan dengan kontolmu.. Oohh”

“Ooochh.. Andi sayang.. Ganjal kepalamu dengan bantal ini”

Bu Etty meraih bantal yang ada disamping kirinya dan memberikannya kepadaku.

“Maksud ibu supaya saya bisa.. Cruup.. Cruupp..” mulutku langsung menerkam puting payudaranya.

“Yaah sedot susu ibu lagi sayang.. Mm.. Yah begitu terus.. Yang kiri juga sayang.. Oohh.. Enak sekali sayang”

Bu Etty menundukkan badanya agar kedua buah dadanya terjangkau mulutku. Decak pertemuan pangkal paha kami semakin terdengar seperti tetesan air, lubang memeknya juga semakin licin saja. Makin lama gerakan badan Bu Etty semakin cepat dan erangannya juga semakin kencang, hingga tiba-tiba dia berkata.

“Oohh.. Sayang.. Ibu sudah tak tahan”

“Tahan bu.. Tahan.. Andi juga sudah mau keluar”

Tangannya langsung mendekap kepalaku kedadanya, seakan-akan ia ingin agar buat dada tersebut masuk semua ke dalam mulutku.

“Ayo.. Andi.. Cepet.. Oohh .. Sedot yang kuat payudara ibu.. Ohh”

“Achh.. Ach.. Ibu keluar lagi sayang” tubuhnya langsung mengejang dan disaat tubuh itu terdiam kurasakan memeknya seperti menghisap-hisap dan memijit-mijit penisku dengan kuatnya. Aku yang juga sudah mau klimak semakin kuat memeluknya dan menyodokkan penisku semakin kuat.

Kupeluk dirinya kuat-kuat hingga akhirnya.. Croot.. Croot.. Croot.. Serr.. kurasakan kenikmatan yang tiada tara sampai badanku menjadi lemas sekali. Kami saling berpelukan mesra dan Bu Etty berbaring lemas di sebelahku.

“Andi.. Ibu kagum padamu dan benar juga perkiraan ibu”

“Kenapa?”

“Ternyata penismu dapat membuat ibu ketagihan selain besar juga kuat”

“Boleh ibu menikmati selama ibu tinggal disini”

“Boleh.. Siapa sih yang enggak mau diajak ama ibu, selain masih cantik, payudara ibu adalah yang terindah yang pernah saya lihat”

“Kamu tuh kecil-kecil sudah pintar ngerayu orang tua”

“Abis benar loh bu.. Emang saya suka netek sama ibu”, jawabku sambil mulutku menyerbu puting susunya.

“Kamu enggak capek ya.. Sayang” tangannya membelai kepalaku.

“Kalau buat itu tiada kata capek tuh.. Abis benar sih.. Ibu nafsuin” jawabku.

Akhinya kami beristirahat dan saling cerita. Dia berkata kalau suaminya sudah meninggalkannya dan menikah dengan wanita lain disebabkan dirinya tidak bisa memberinya keturunan. Tiba-tiba telpon di ruang tamu berdering. Aku segera berlari untuk mengangkat telpon tersebut. Dari sana terdengar suara seorang wanita yang sudah tidak asing lagi bagiku yaitu Mamaku.

“Andi.. Ini Mama”

“Ya.. Ma.. Ada apa”

“Malam ini kamu jangan kemana-mana, jaga rumah dan ibu baru pulang besong malam”

“Beres deh.. Ma” jawabku.

“Oh.. Ya.. Bu Etty ada dirumah?” tanyanya.

“Ada Ma.. Mungkin sudah tidur kali”

“Ya sudah kalau ada apa-apa kamu telepon Mama”

Disaat aku sedang telepon dengan Mamaku kulihat Bu Etty menghampiriku dan memelukku dari belakang. Tangannya langsung menuju ke penisku membelainya dan mengocok-ngocoknya sedang lidahnya bermain-main di telingaku dan membuatku langsung terangsang.

“Aahh.. Sstt.. Sstt”

“Kenapa Andi?” tanya Mamaku di telepon.

“Enggak kok ma.. Kan Andi sambil makan bakso cuma kebanyakan cabenya nih jadi agak pedas” jawabku.

“Aahh.. E.. Enak.. Sstt..” ketika Bu Etty sudah tidak memelukku lagi tapi dia berjongkok di depanku dan mulai menghisap-hisap dan menjilat-jilat penisku yang mulai tegang. Lidahnya bermain-main di kepala penisku kemudian lidah itu berjalan menyusiri pangkalnya.

Aku sudah tak konsentrasi akan semua ini dan bicara dengan Mamakupun sudah tidak nyambung lagi. Maka kuputuskan bicara dengan Mamaku untuk pamit lewat telepon.

“Ma.. Sudah ya Andi sudah ngantuk nih”

“Ngantuk atau nonton TV?” Mamaku meledekku.

“Dua-duanya ma” jawabku pula.

“Ya.. Sudah tapi jangan lupa kalau sudah mau tidur matikan TVnya” pesan Mamaku.

“Oke deh ma.. sudah.”

Kutaruh gagang telepon tersebut dan kulihat kebawah Bu Etty masih asyik menghisap penisku bagaikan seorang anak kecil yang baru dikasih permen lolipop. Dijilat dicium dan dimasukkan dalam mulutnya dan dihisap tanpa memaju-mundurkan kepalanya.

“Oohh.. Sstt.. Sstt.. Bu..”

Kuraih tubuhnya dan kusejajarkan di ketembok. Kucium mulutnya dengan penuh nafsu. Tanganku tak tinggal diam tangan kananku meremas-remas buah dadanya sedang tangan kiriku mempermaikan kloritosnya.

“Aahh.. Andi sayang kamu buas amat” celotehnya.

“Ibu juga buas, tapi aku lagi telepon sama Mama hisap-hisap kontolku” jawabku dengan tetap memeluknya dan menciumnya.

“Habis.. Ibu suka banget dengan kontolmu sayang”

Tangannya meraih kontolku dan merapatkan ke vaginanya. Akupun langsung menaikkan sebelah kakinya dan menaikkan ke salah satu kursi di sampingku. Setelah pas kuarahkan kontolku menuju lubang memeknya.

“Aahh.. Aahh.. Hhekk.. Oohh..” jeritnya begitu penisku bersarang ke vaginanya.

“Dorong sayang.. Dorong yang kuat”

Aku pun mengikuti permintaannya dan mengimbangi permainnya. Tubuhnya ku tekuk kebelakang sedikit, sehingga aku dapat menghisap puting susunya.

“Oohh.. Oohh.. Andi sayang kamu pintar sekali.” Bu Etty pun juga semangat sekali menggoyang-goyangkan pinggulnya, kadang maju mundur, kadang berputar, kadang terdiam dan mengejang-ngejang. Semua itu menambah sensasi didalam penisku yang kurasakan semakin lama-semakin hendak memuntahkan lahar kenikmatan.

“Bu.. Aku sudah mau keluar”

“Oohh.. Bu.. Andi sudah tak tahan”

“Ibu juga mau keluar sayang, dorong lebih kencang sayang.. Oohh.. Oohh kontolmu membuat ibu ketagihan sama kamu oohh.. Oohh”

“Bu.. Aacchh.. Sstt..” kucoba untuk bertahan. Namun rasa nikmat itu sudah pada puncaknya hingga akhirnya.

“Yaahh.. Andi keluar.. Bu..”

Croott.. Croott.. Croot.. Seerr. Kupeluk dirinya kuat-kuat menikmati tumpahnya pejuku dalam lobang memeknya.

“Ibu juga Andi sayang.. Oohh.. Aacch.. Aacch..” tangannyapun memelukku seaakan-akan tidak akan melepaskannya.

Aku pun beristirahat duduk di sofa dan melapaskan rasa letihku sambil tetap berpelukan. Nonton TV dan mengatur nafas karena baru saja berlomba menuju puncak kenikmatan.

Dan malam itu kami habiskan kenikmatan sex bersama-sama tanpa mengenal lelah bagaikan pengantin baru. Aku bagai dimanjanya entah sudah berapa kali pejuku di hisap dan tumpah dalam rahimnya yang kurasakan esoknya hanyalah lemas dan kurang tidur. Dan semenjak itu aku sering melakukan sex dengannya terutama bila aku libur karena bebas aku melakukannya di pagi hari sampai sore hari namun bila malam tiba dan disaat penghuni rumah sudah tidur aku sering datang ke kamarnya pula dan dia selalu menyambutku dengan nafsu birahi yang tinggi.

Hubunganku dengannya hanya berjalan 6 bulan karena Bu Etty balik ke kampungnya di Semarang dan aku tidak pernah bertemu lagi dengannya namun kenangan dan rasa rinduku padanya membuatku selalu terobsesi menjadi seorang lelaki yang suka berhubungan sex dengan wanita dewasa yang kuanggap lebih berpengalaman dan lebih buas diatas ranjang. Itulah kisahku yang 100% nyata dan terjadi.

*****

Untuk kisahdewasa35.wordpress.com saya ucapkan terima kasih atas diterimanya cerita saya ini dan bila ada tante-tante ataupun ibu-ibu yang masih cantik dan suka berhubungan sex yang mau saring atau bertukar cerita bahkan bersenang-senang dengan saya dapat mengirim email pada saya. Email yang masuk akan saya balas dan rahasianya akan terjamin. Kutunggu email-mu tante-tante dan ibu-ibu tersayang.

TAMAT

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,Cerita ngewe,foto cewek cantik,poto cewek cantik,fhoto cewek cantik,cewek bugil jepang,cantik hot,artis hot,cewek jogja,cewek panggilan,cewek cantik bispak,forum cewek bispak,abg cantik

Kisah Dewasa – Nafsu Birahi Tante Etty – 1

27 Juni 2010 pada 12:39 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 2 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Nama saya Andi sekarang umurku sudah 30 tahun dan sudah berkeluarga, namun karena pengalaman masa lalu membuatku menjadi terobsesi dan horny bila melihat tante-tante atau ibu-ibu yang menurutku sangat menggairahkan dalam bermain seks. Inilah kisahku yang terjadi 1 tahun lalu tepatnya ketika aku berumur 29 tahun dan masih menjadi lajang.

*****

Dalam keluarga aku merupakan anak paling tua dari 4 saudara, namun dirumahku hanya ada aku, ibu dan adikku yang perempuan dan masih SMA. Sedang ayahku sudah almarhum. Sementar dua adikku yang lain sedang kuliah dikota S. Usaha ibuku sendiri adalah berdagang dengan membuka kios kelontong di pasar. Ibu selalu berengkat ke pasar mulai pukul 5 pagi dan kembali pukul 4 sore dan jika pulang selalu bersama adikku yang paling bontot karena setiap pulang sekolah adikku selalu membantu ibu di pasar.

Selain aku, ibu dan adikku dirumahku juga tinggal Bu Etty yang menempati kamar depan. Dia berusia sekitar 39 tahun namun belum dikarunia anak karena mandul dan Bu Etty ini hidup menyendiri karena cerai dengan suaminya yang menikah lagi dengan wanita lain. Bu Etty ini boleh menempati kamar depan dengan alasan ibuku ingin membalas jasa Bu Etty yang telah memberi jalan hingga bisa membuka toko. Kegiatan Bu Etty sekarang adalah membuka usaha jahitan kecil-kecilan itupun dengan cara dia yang mencari konsumen dan dia mengerjakan sendiri di kamarnya.

Awalnya aku tidak pernah memperhatikan bentuk tubuh wanita ini karena aku sendiri juga sibuk bekerja, namun begitu setelah 6 bulan berselang kupikir ada yang lain dari dirinya.. Pada saat itu hari Sabtu kebetulan sekali aku libut dan seperti biasa pada jam 9 pagi aku baru bangun maklum libur. Ketika aku keluar kamar dan menuju kamar mAndi langkahku terhenti di depan pintu kamar mAndi, aku mendengar ada yang mAndi dan karena dirumahku tidak ada pembantu sudah pasti didalam adalah Bu Etty.

Maka akupun langsung kembali dan menuju ruang tamu dan duduk menonton TV. Tak lama kudengar pintu kamar mAndi dibuka, dan kulihat Bu Etty dengan handuk yang melilit tubuhnya berjalan menuju kamarnya, otomatis dia melewati aku yang sedang duduk.

“Eh.. Andi sudah bangun,” katanya sambil tersenyum dan berlalu.

Dengan agak gugup karena menyaksikan pemandangan yang baru pertama kali ini aku menjawab dengan terbata-bata.

“I.. I.. Yaa.. Bu.. Etyy” jawabku, namun mataku tak lepas memandangnya saat dia berlalu menuju pintu kamarnya.

Betapa tidak sebab menurutku handuk itu tak cukup untuk menutupi tubuhnya yang paling sensitif. Dibagian atas kulihat betapa buah dada itu ingin tumpah keluar karena besarnya dan membuatku langsung ngaceng ingin memegang susu itu. Dan dibagian bawah pahanya terlihat sangat padat dan putih bersih.

Mungkin karena dia belum pernah melahirkan jadi walaupun sudah berumur tapi badannya masih terlihat kencang. Dan ketika dia masuk kamar akupun iseng dan bangun untuk mengintip dari lubang kunci. Kulihat didalam Bu Etty belum mengenakan pakaian malah handuknya sudah tidak ada ditubuhnya dan praktis dia sedang telanjang bulat. Kulihat dia sedang mengeringkan rambutnya dengan posisi duduk di samping ranjang dan aku dapat melihat dengan jelas karena posisinya yang selalu berubah-rubah. Jelas sekali terlihat betapa bentuk buah dada itu benar-benar indah dengan ukuran yang kutaksir lumayan besar sekitar 36c dan belum turun maklum belum pernah menyusui. Dibagian bawah terlihat sekali rambut disekitar selangkangannya lebat dan tampak gundukan yang benar-benar mempesona.

Tak terasa olehku saat mengintip tanganku pun ikut meremas-remas celanaku terutama penisku, dan sekitar 10 menit aku berlalu Bu Etty sudah hampir mengenakan pakaiannya sementara aku juga sudah tak tahan, maka kuputuskan untuk langsung menuju kamar mAndi. Didalam kamar mAndi aku langsung menanggalkan pakaianku dan beronani sambil membayangkan Bu Etty. Dimana kubayangkan aku sedang menghisap puting susunya sementar kontolku juga sedang menembus memeknya. Dan akhirnya..

Crot.. Crot.. Crot.. Aachh.. tak terasa pejuku muncrat ke tembok yang langsung membuat sekujur tubuhku lemas. Dan akupun segera mAndi dan langsung keluar rumah dan pergi ke tempat teman-temanku.

Semenjak kejadian pertama kali mengintip Bu Etty aku jadi sering beronani sambil membayangkan dirinya dan aku pun selalu memperhatikannya bila aku dan dia sedang berada di rumah.

Entah berapa lama tepatnya pada malam minggu sepulangnya aku apel dari rumah pacarku. Kulihat dirumah sepi sekali yang ada hanya Bu Etty yang sedang menyulam di ruang tamu sambil menonton TV.

“Malam.. Tante” ujarku.

“Malam juga.. Baru pulang apel nih”, ledeknya dengan tersenyum. Dan kulihat betapa senyumnya terlihat genit sekali.

“Iya dong.. Biasa anak muda” balasku.

“Andi.. Ada pesan dari ibumu, katanya dia dan adikmu hari ini nginep ke rumah pamanmu dikarenakan ada arisan keluarga, jadi kamu jangan kemana-mana” katanya.

“Iya.. Deh” akupun pamit dulu untuk ganti baju dan celana pendek.

Sekitar 15 menit aku sudah berada di ruang tamu namun Bu Etty sudah tak terlihat disana dan rupanya beliau ada di kamar, tapi pintunya dibiarkan terbuka dan terlihat dia sedang membuat pola jahitan dan begitu melihat diriku pintu itu bukannya ditutup malah tetap terbuka karena dia tetap mengajakku ngobrol.

Akupun rilek saja sambil nonton TV, tapi bukan TV yang kulihat sebab kulihat Bu Etty menggambar pola dilantai sehingga tampak dengan jelas susunya seperti mengundangku untuk menjamahnya sebab saat menggambar posisinya nungging-nungging.

Penisku pun langsung berdiri dan aku juga berpikir sengaja atau tidak Bu Etty bersikap seperti itu, karena baju yang dikenakan juga kemaja itupun juga tanpa lengan sehingga kalau dari samping tampak BHnya terlihat dengan jelas. Aku yang semakin tegang menjadi pusing tidak karuan membayangkannya dan walaupun keadaan rumah kosong tapi aku tidak berani berbuat nekat karena aku sangat menghormatinya.

Dan ketika waktu sudah menunjukkan pukul 10 malam kulihat dia sedang beres-beres, dan setelah selesai dia bergegas keluar kamar dan menuju kamar mAndi. Pada saat berjalan kulihat betapa bongkahan pinggulnya meliuk-liuk indah. Dan setelah keluar dari kamar mAndi dia duduk di ruang tamu untuk nonton TV denganku sambil mengibaskan tangannya di depan wajahku.

“Kamu lihat ibu, kaya lihat hantu aja” sambil tersenyum.

“Oh.. Enggak.. Cuma bingung aja, Bu Etty sudah setengah baya kon masih terlihat cantik” balasku.

“Hus.. Belajar ngerayu lagi” cibirnya.

“Benar bu.. Saya serius” balasku.

“Eh.. Andi.. Ngerayu terus. Sudah sini pijitin ibu. Ibu pegel nih” katanya sambil membalakangiku dan menepuk pundaknya.

Akupun menurut saja dan langsung memijit pundaknya dan Bu Etty pun menggeliat keenakan bahkan matanyapun sudah mulai sayu dan terpejam-pejam. Sementara aku yang memijit semakin tidak karuan karena penisku sudah ngaceng karena sambil memijit kurapatkan tubuhku ke tubuhnya. Entah keenakan atau sudah lelah kulihat mata Bu Etty terpejam dan dia juga sudah menyender dengan tubuhku. Kuberanikan memijit bagian lengannya dan aku pun juga sudah memeluknya tapi tanganku hanya berada di perutnya.

Dengan pelan tapi pasti karena hasratku sudah ingin sekali maka kuberanikan diri melepas kancing bajunya satu persatu, dan setelah terlepat tampat jelas susu Bu Etty yang masih dibungkus branya dan akupun sangat tertegun melihat pemandangan itu.

Untuk menyentuhnya aku tidak berani jadi aku cukup memandangnya. Namun tiba-tiba terdengar Bu Etty bicara.

“Andi.. Kenapa cuma kamu liatin aja susu ibu” dan tangannya tiba-tiba menarik tanganku.

“Remas.. Sayang.. Kan kamu selama ini cuma ngebayangin doang, ibu tahu kok kamu suka intipin ibu.”

Aku berpikir rupanya selama ini dia tahu, dan tanganku sudah berada di atas buah dadanya dan dibimbing oleh nya untuk meremas-remas walaupun masih terbungku BH. Sambil meremas mulutkupun tak tinggal diam kucium lehernya dan wajah Bu Etty berpaling ke arahku dengan mulut yang menganga. Langsung kusambar bibirnya dan kukulum habis. Ujung lidah kami beradu, kutelusuri lidahnya sampai kami kehabisan napas.

Aku dan Bu Etty sudah tak tahan, kurebahkan dia disofa, kucium tubuhnya dari muka, dada, perut paha, dan betisnya. Naik lagi dan kutindih tubuhnya. Dia pun mengerang yang membuatku semakin terangsang, kubuka celana pendekku.

“Jangan disini sayang, kurang nikmat” tiba-tiba Bu Etty berkata.

Kami berdiri, dan Bu Etty langsung memelukku dan sebelah tangannya langsung memegang penisku dari luar celana pendekku yang tadi tidak sempat kulepas. Tangannya meremas-remas penisku yang sudah tegang dengan penuh nafsu.

“Lumayan juga punyamu Andi..”

“Ibu sudah lama sekali tak merasakan senjata laki-laki.. Sayang”

Dan dia dengan kasarnya langsung menarikku menuju kamarnya. Pintu kamar dikuncinya cepat-cepat, kubuka bajuku dan Bu Etty langsung jongkok dan melepaskan celanaku dan langsung memegang penisku lalu dengan buas dan penuh nafsu langsung dimasukkannya ke dalam mulutnya, dijilat, dihisap-hisap, dicium, dan dihisap lagi. Sementara aku hanya bersandar pada tembok sambil menikmati kontoku yang baru pertama kali masuk ke dalam mulut perempuan membuat darahku dan otakku menjadi buntu. Badanku rasanya makin bergetar dengan tulang yang mau berlepasan dan tubuh berkelojotan nikmat.

Aku tak tahan dan minta rebahan di ranjang. Dengan tetap BH melekat di dada dan rok yang masih digunakannya, mulutnya langsung mengejar burungku, dia cium, jilat dan hisap. Aku semakin bergelinjang, melayang-layang dan mataku pun mulai berkunang-kunang.

“Bu.. Etty.. Oohh.. Terus bu” hanya itu yang bisa keluar dari mulutku.

Hingga dipuncaknya karena nikmat yang tak tertahankan aku tak sempat untuk memberitahunya kalau pejuku mau keluar. Hingga akhirnya.. akhh..

Croot.. Croot.. Croot.. Croott

Pejuku muncrat didalam mulutnya, dan dia bukannya melepaskannya tapi malah bernafsu untuk menghisapnya, menelannya dan terus menghisap-hisap penisku sampai bersih, kasat dan ngilu rasanya. Dan aku pun langsung lemas. Kucoba untuk bangun dan duduk sementar Bu Etty segera ke meja rias mengambil air untuk diminum dan memberiku juga segelas air.

“Ibu telan? Apa ibu tidak jijik?” tanyaku bodoh.

Bu Etty menggeleng, justru mukanya cerah dan kepuasan terpancar diwajahnya.

“Ibu suka.. Sayang menghisap pejumu, apalagi peju yang keluar dari kontolmu terasa segar dan enak” ucap Bu Etty lamu menciumku dan muka, sampai dadaku, dan memainkan lidahnya diputingku sementara tangannya meremas-remas penisku.

“Ayo sayang, Ibu pingin kamu juga puas”‘ ucap Bu Etty mesra, penisku yang telah terkulai lemas karena sudah keluar sprema mulai menegang lagi dan Bu Etty kembali mengulum dan menghisap-hisap penisku dengan buas.

Kubuka BH-nya dan roknya serta CD nya sekalian dan Bu Etty berdiri untuk memudahkan aku menelanjanginya. Tubuhnya yang telanjang bulat langsung ku terkam dan kutindih. Dua payudaranya yang besar itu menjadi sasaranku, kuhisap putingnya bergantian, tangannya pun langsung meraih kepalaku dan menekan kedadanya dan dari mulutnya keluar suara mendesis-desis bagai ular kepanasan

“Esstt.. Ssstt.. Sedot yang kuat sayang”

“Yaahh.. Begitu isep.. Kamu suka kan.. Susu ibu.. Ooohh”

Aku tidak menjawab karena aku memang sedang sibuk menghisap, menyedot layaknya bayi yang seharian belum menetek pada ibunya. Dan setelah puas menghisap dan menetek lidahku turun kebelahan dadanya terus meluncur keperutnya hingga akhirnya lidahku sampai pada gundukan yang berbulu sangat lebat.

Ke bagian 2

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,cewek cantik bugil,photo cewek bugil,cewek cantik telanjang,gambar cewek,cewek artis,bugil cewek sma,gambar cewek cantik,cewek smu bugil,cewek bugil indo,cewek cina,cewek smp,bugil hot

Kisah Dewasa – Rintihan Kalbu

15 Juni 2010 pada 13:52 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , ,
Suara gemuruh dari TV yang telah habis menayangkan programnya membuatku terjaga dari tidur di sofa. ku lirik jam di dinding telah menunjukkan hampir puku l 2 dini hari. ku tarik nafas panjang untuk menghilangkan rasa sesak di dada, 2 bulan sudah berlalu sejak kepergiaan istriku .

ku padamkan lampu-lampu yang tidak perlu lalu perlahan ku buka pintu kamar anak-anakku tercinta, nampak mereka sudah tertidur dan ku lihat Lily juga tertidur di samping anak-anakku. Perlahan ku bangunkan dia, “Ly.., Ly..,” panggilku perlahan untuk tidak membuatnya terkejut.

“Hghh..,” sahutnya perlahan seraya membuka matanya yang masih mengantuk.

“Pindah ke kamar depan dech, suamimu mungkin tidak menjemput malam ini,” ujarku berbisik.

“Oh..,” sahutnya sejurus kemudian dan keluar dari balik selimut.

Tampak Lily telah mengenakan daster yang cuku p tipis sehingga nampak leku kan tubuhnya yang seksi, belahan buah dadanya juga putingnya oleh karena dia tidak menggunakan bra, dan celana dalamnya berwarna pink dengan gambar doraemon di bagian pantatnya, yang sempat ku lihat sebelum ia menghilang di balik pintu. ku kecup pipi kedua anakku sendiri sebelum ku rapatkan kembali pintunya dan pergi ke kamarku sendiri untuk beristirahat dan kerja kembali esok hari karena cuku p banyak juga pekerjaan yang tertinggal selama ini.

Subuh ku terbangun oleh deringan jam meja yang telah ku persiapkan malam sebelumnya, mandi pagi dengan air dingin membuatku segar dan siap untuk bekerja.

“Bagaimana? Sudah kau pikirkan?” tanya suara lembut itu yang sangat ku kenal.

“Bu..,” sahut Lily putus di tengah jalan

“Yach.. Mas Elmo masih muda, mungkin suatu saat dia akan mencari pengganti Linda almarhum kakakmu itu, kalau sudah begitu apakah Ibu masih diijinkan tinggal di sini?” keluh Ibu sejurus kemudian

“Tapi Bu,” Lily berusaha membantah perkataan Ibu

“Yach.. Ibu pikir daripada kamu di sana di sia-sia lebih baik lepaskan Mas Indramu itu, mungkin Mas Elmo akan ijinkan Ibu tinggal di sini, tapi apakah calonnya akan mengijinkan juga?” masih tetap dengan suara lembut yang membujuk.

“Bagaimana dengan Ricky Bu?” tanya Lily lirih.

“Anakmu itu sudah cacat, kamu ya harus berpikir untuk kebaikannya bukan untuk dirimu sendiri, Ibu rasa mungkin dia akan lebih berbahagia bilamana di tempatkan di panti asuhan oleh karena bisa bermain dengan teman-teman senasibnya. Justru dia akan menderita kalau kamu paksa untuk bergaul dengan anak-anak normal lainnya,” saran Ibu melanjutkan

Hening kemudian hanya denting piring yang beradu dengan sendok yang sedang dipersiapkan oleh Ibu mertuaku dan Lily putri bungsunya.

“Seandainya kau bisa memiliki Mas Elmo, kita masih bisa tinggal di sini bila tidak Ibu tak tahu kita harus kemana lagi?” keluh Ibu.

“Bu..,” hanya itu ucapan Lily terputus ketika tiba-tiba..

“Good morning, Pa,” teriak Shanti anakku yang paling kecil dari atas tangga menyapaku yang sedang terdiam di tangga mendengarkan percakapan tadi yang berasal dari ruang makan.

“Good morning honey,” sapaku pula seraya melanjutkan langkahku menuruni tangga.

“Hi.. Shanti,” sapa Lily seraya menunjukkan wajahnya dari pintu ruang makan.

“Hi.. aku mandinya nanti yach,” ujarnya seraya kembali ke kamarnya terburu-buru.

“Eehh.. kakak mana?” Lily bertanya dengan nada yang cuku p keras.

“Masih bobo..,” terdengar balasan dari balik pintu kamar tidur.

“Pagi Mas,” sapa Lily sambil tersenyum manis.

“Pagi juga,”

“Pagi Bu,” sapaku melanjutkan setelah bertemu dengan Ibu di ruang makan itu.

“Pagi,.. ini nasi goreng buatan Lyly nich,” promosi Ibu melanjutkan.

“Wah.. terima kasih nich sudah merepotkan,” ujarku sedikit berbasa basi.

“Sudah buruan makan.. nanti keburu dingin jadi nggak enak, biar Ibu bangunkan anak-anak dulu,” tukas Ibu.

Dengan cekatan Lily melayaniku dengan mengambilkan nasi goreng tersebut sementara aku sendiri menyeruput secangkir teh manis sebagaimana kebiasaanku sejak dulu. Di kantor pikiranku juga masih berkutat dengan pembicaraan Ibu tadi pagi, sehingga sebenarnya tidak seluruh pikiranku terkonsentrasi untuk pekerjaan. Masih terngiang-ngiang kemungkinan aku untuk memperistri Lily.. mungkinkah?

Sore hari saat pulang kerja..

Sementara Lily berlutut untuk mencapai rak lemari yang paling bawah, sedangkan aku berdiri di samping sambil memperhatikannya. Tanpa sadar pandanganku tertuju pada buah dadanya yang nampak indah dipandang dari atas tersebut. Nampak jelas lekukan buah dadanya oleh karena dia menggunakan kaos yang longgar sehingga bagian depannya agak terbuka saat dia dalam posisi yang sedikit membungkuk tersebut. Melihat pemandangan yang demikian mempesona, penisku terus saja menegang sehingga memperlihatkan tonjolannya di balik handuk yang kukenakan tersebut.

“Nach ini kaos..,” suaranya terputus di tengah jalan ketika dalam posisi berlutut seperti itu menyerahkan kaos yang kuminta padaku oleh karena pandangannya terpaku pada batanganku yang mengeras di balik handuk. Kusadari waktu 2 bulan telah berlalu tanpa hubungan sex tentunya sulit bagiku, namun tertutup oleh kesibukanku. Sedangkan baginya.. dimana Mas Indra, suaminya, yang sejak semalam berjanji untuk menjemputnya, setelah selama ini Lily membantu rumah tanggaku yang porak poranda sejak ditinggal kepergian almarhum Linda, istriku yang juga kakak dari Lily, mengurus anak-anakku, rumah tangga dan sebagainya.

Lily terdiam dan tertunduk malu yang bagiku itu adalah isyarat bahwa dia tidak menolakku, sehingga kuberanikan diriku untuk membuka handuk tersebut sehingga sekarang tersembullah batangku yang telah tegak menantang dengan tubuh telanjang seperti ini, dimana masih ada tetesan air yang masih belum mengering, kuyakin menambah sexy penampilanku malam itu.

Perlahan kubangunkan Lily dan segera kukecup keningnya perlahan turun ke arah pipi dan menelusuri lehernya. Dengusan nafas yang memburu membuat adrenalinku terus meningkat, kuusap lembut pundaknya, telinganya, disertai dengan kecupan hangat yang kulaku kan dengan sepenuh hati.

“Mas El.. jangan,” pintanya sesaat sebelum kucoba untuk melepaskan kaosnya.

“Lily,” gumamku dengan pandangan mata memohon sehingga kuyakin sulit baginya untuk menolakku terlebih deru birahinya juga terus merayap keatas ubun-ubun.

Kukulum putingnya yang masih kecil bak anak gadis, membuatku gemas.

“Mas.. ergh,” rintihnya perlahan.

Belaian hangat jariku terus mengusap seluruh permukaan kulitnya yang putih mulus halus terawat disertai dengan jilatan dan pijatan ringan. Perlahan kudorong Lily sehingga rebah di kasurku.

“Mas janji jangan dimasukkan yach.., aku masih milik Indra,” rintihnya kembali ketika kucoba mencopot celana pendeknya. Ternyata Lily tidak mengenakan celana dalam di balik celana pendeknya tersebut sehingga segera nampak rerumputan hitam dengan panjang yang seragam dan terawat dengan rapih.

“Iya aku janji,” sahutku tanpa berhenti melepaskan celana pendeknya tersebut.

Harum bau tubuhnya terus memompa birahiku namun perlakuanku tetap saja lembut dan tidak terburu -buru untuk membawa Lily menikmati belaian asmara ini. Jilatan mandi kucing yang kulancarkan ini membuat Lily semakin terlena dan pasrah. Jilatan demi jilatan yang menyusuri setiap inci permukaan kulit dadanya, turun ke lembah buah dadanya, terus turun menelurusi garis tengah untuk mencapai kubangan di tengah pusaran perut, membuat otot perutnya tertarik tertahan menahan geli nikmat yang tidak terkira.

Kulewatkan bagian padang ilalang hitam di sana, namun kumulai dari lipatan paha bagian dalam kanan dan kiri yang terus menuruni jenjang kakinya dari bagian dalam hingga mencapai punggung kakinya dan berakhir dengan teriakan tertahan yang disertai hentakan kakinya, “Akhh..”

Kubalikan tubuhnya dan kini jilatannya merayap naik dari bagian tumitnya menelusuri betis indahnya sedikit ke bagian dalam, tidak kupaksa untuk membuka lipatannya namun terus naik hingga ke punggung dan berakhir di sekitar tengkuknya yang mulus, disertai dengan bulu kuduknya yang telah berdiri membuatku semakin gemas, sehingga gigitan sedikit keras kuberikan padanya yang menambah sensasi nikmat, disertai dengan remasan jemari lentiknya pada bantal yang sempat diraihnya untuk berbagi kenikmatan.

Puas bermain di punggungnya kembali kubalikkan tubuhnya, sesaat mata kami sempat beradu pandang, terlihat sayu tertutup perlahan dan menggodaku untuk mengecup lembut bibirnya. Kulumanku mendapat balasan yang malu-malu dan segera kuterobos dengan lidahku untuk mengait lidahnya sehingga pagutan lidahku bagaikan aliran listrik untuk mencetuskan butiran keringat halus bagaikan tetesan embun di dahinya.

Perlahan namun pasti sambil berpagutan tersebut kunaiki tubuh mungilnya dan Lily sempat melirik ke kaca yang ada di lemari pakaian dan jelas nampak tubuh mungilnya sekarang berada dibawah tubuhku yang tinggi besar, sensasi tersendiri melihat tubuhku menindih tubuh mungilnya dimana baru kali ini dialaminya bahwa seorang pria yang bukan suaminya tengah menindihnya dalam keadaan tubuh yang bugil, telanjang bulat.

Batanganku yang telah mengeras tepat berada di atas perutnya dan ketika seluruh berat tubuhku telah menindihnya jelas sekali kurasakan getaran tubuhnya laksana menggigil akibat menahan birahi. Kulumanku belum kulepaskan dan lidahku terus bermain dengan lidahnya dengan respon yang semakin menggila disertai lenguhan birahi.

Ketika kulepaskan pagutan liar itu, segera ku buka lebar pahanya sehingga jelas terlihat ilalang hitam di bagian bawah telah lepek dan tanpa rasa malu-malu lagi Lily jelas membentangkan kakinya lebar-lebar, memberiku jalan untuk menerobos masuk. Namun tak kulakukan itu, sebaliknya perlahan kubuka lipatan bibirnya sehingga nampak celah memanjang bagaikan irisan roti dan diikuti dengan mengalirnya secara perlahan cairan kental mirip lem anak SD.

Setelah kujilat 1-2 kali sapuan, segera kuhisap kuat di antara celah yang terbuka itu dan segera kurasakan beberapa cc cairan kental bening itu bagaikan benang yang ditarik dari sumur paling dalam dibetot keluar, akibatnya..

“Mas..,” lengkingan tinggi Lily disertai dengan hentakan berulang kali dari pinggulnya yang tertarik ke atas dan kemudian berakhir dengan kekakuan pada tungkai kakinya selama beberapa saat dan berakhir dengan selesainya hisapanku pada celah vaginanya.

Kubiarkan Lily yang telah mencapai orgasme pertamanya, matanya masih tertutup rapat tak bergerak menikmati gulungan birahi yang mulai mereda menyisakan kelelahan yang teramat sangat. Sesaat kemudian belaian jari lentiknya yang mengusap wajahku menyadarkanku dari lamunanku.

“Thanks yach.., Mas belum yach?” tanyanya sendu merasa bersalah.

Segera kukembangan senyum manisku yang menusuk kalbu, “Enak..,” tanyaku suatu pertanyaan bodoh yang seharusnya tak perlu kutanyakan.

Anggukan halus dari Lily membenarkan pertanyaanku dan segera kulanjutkan “Pernah diberikan oleh Mas Indra?” selidikku untuk membandingkan kemampuanku.

Lily meraih penisku dan mengocoknya perlahan. “Mas Indra tidak pernah membelai, dia lebih suka tembak langsung dan itu juga nggak lama, sebentar juga keluar setelah itu tertidur tapi..,” sahutnya memutus di tengah jalan.

“Kenapa?” tanyaku penasaran.

“Kalo besar sich lebih besar Mas Indra, jadi tiap kali sakit sesudahnya. Mungkin kurang foreplay kali yach,” sahutnya untuk memberikan alasan.

“Oh..,” sahutku yang yakin bahwa apa yang kuberikan pasti lebih berkesan dibandingkan dengan Indra suaminya.

Buliran keringat halus di keningnya dan sepanjang lehernya menggodaku untuk kembali menjilatnya dan kali ini Lily mengelinjang geli. Namun tak kuperdulikan. Kujilat habis seluruh buliran keringat di dahi dan sepanjang lehernya menelusuri uratnya kanan dan kiri yang berkilau tertimpa sinar lampu dan tanpa terasa tubuhku yang besar kembali menindihnya dan sempat terdiam tatkala kurasakan batanganku terjepit di atas perutnya. Senyum penuh rasa malu berkembang di bibir Lily tatkala kedutan penis kuberikan padanya sehingga jelas terasa di atas perutnya. Pagutan lidahku kembali menghisap bibirnya disertai pilinan jari jemariku yang lincah bermain di antara kedua putingnya.

“Mas.. jangan,” pekiknya terkejut ketika kucoba untuk memasukkan penisku ke vaginanya.

“Iya dach.. aku bermain di depan aja yach,” janjiku menenangkannya.

“Aku kocok saja yach,” pintanya tergetar menahan birahi yang berusaha menerjang masuk oleh karena ujung kepala penisku telah berhasil membuka bibir kemaluannya dan bergesek di muara vaginanya. Aku menggeleng tanda tak setuju.

“Tapi jangan dimasukkan yach.. aku ngga mau merusak perkawinanku dengan Mas Indra, aku masih miliknya,” rintihnya tertahan antara sadar dan nafsu.

“Aku janji dech,” sahutku sekenanya oleh karena gesekan kepala penisku terus memberikan sensasi nikmat yang tiada taranya.

Hisapanku pada kedua putingnya, memaksa puting itu telah membesar sekitar 2 kali lipat dari semula, antara bengkak dan juga rangsangan yang ada aku tak mempedulikan itu, namun permainan lidahku di putingnya membawa kenikmatan tersendiri sehingga tanpa ada penolakan lagi yang kuterima tahu-tahu seluruh batang penisku telah tertanam di rongga vaginanya dan ketika Lily tersadar..

“Mas, kok dimasukkan, tadi janjinya nggak masuk,” protesnya dengan nada pasrah.

“Tanggung Li.., aku bener-bener nggak tahan,” kataku seraya mulai memompa.

Busyet bener dach otot-otot vagina Lily, masih sangat kencang walaupun dia pernah melahirkan, ototnya masih kencang sekali akibatnya tentu nikmat yang kurasakan ini bak bermain dengan anak ABG saja. Hal sama juga dirasakan Lily bahwa dinding vaginanya masih ketat sehingga ketika aku memompa, dia juga mengimbangi dengan goyangan pinggulnya untuk menekan ke atas, saat kutusukan masuk sedalam-dalamnya, dan itu juga dikombinasikan dengan kontraksi otot kegelnya yang sangat baik, sehingga yang kurasakan dan kunikmati adalah empotan vagina yang luar biasa.

Irama genjotanku semakin kuat dan menemukan iramanya dengan goyangan pinggul Lily, yang secara mencuri juga memandang di dinding kaca sehingga saat ini jelas nampak tubuh mungilnya timbul tenggelam di kasur busa mengikuti hentakan tubuhku. Buliran keringat sebesar jagung telah membasahi tubuhku dan tubuh Lily yang menetes ke kasur busa dan bantal, seiring dengan dengus nafasku yang terus berpacu ditimpali oleh lenguhan dan rintihan Lily yang berkejaran.

Semakin lama kurasakan semakin sempit liang vagina Lily, sehingga gesekan yang terjadi semakin mantap dan ketika kulirik jelas terlihat lipatan bibir vagina Lily saat ini mengikuti gerakan penisku, yang jelas menonjolkan urat darahnya berwarna kebiru-biruan keluar masuk laksana mengurut batang penisku.

Secara refleks sekarang Lily telah mengangkat secara maksimal kedua tungkainya ke atas untuk memaksimalkan nikmat dunia yang kuberikan dan kubantu dengan mengangkat kakinya lebih tinggi lagi dan meletakkannya dipundakku.

“Hhh.. hh..,” desisku seraya menghunjam-hunjamkan penisku ke dalam liang vaginanya sedalam mungkin.

“Aak..,” desisan halusnya juga tak kalah gencarnya mengiringi tingkatan birahi yang terus mendaki untuk mencapai kepuasan tertinggi. Tak lama kemudian kurasakan rasa penuh, gatal dan kurasakan adanya desakan dari dalam yang akan segera memuntahkan lahar sperma.

“Ugh.. ahh..,” pekik Lily tak tertahankan disertai dengan kejangnya ke dua tungkai kakinya dan tentu saja jepitan vagina itu menjadi maksimal sehingga akupun tidak tahan.

“Lily.. aku.. sampai,” teriakku tanpa tertahankan disertai dengan hentakan kuat menghantam vaginanya.

Crot.. crot.., bendungan lahar spermaku tak tertahankan lagi menyembur dengan dahsyatnya menghantam dinding mulut rahim Lily. Luluh lantak rasanya tulang belulang di tubuh, sehingga tubuh besarku bagaikan tak bertenaga ambruk menindih tubuh mungil Lily. Campuran keringat kami berdua di atas permukaan kulit memberikan sensasi tersendiri, sementara kesadaran kami juga hilang untuk sesaat.

Antara sadar dan tak sadar sempat kulihat bayangan Ibu diuar pintu kamar sesaat sebelum terdengar pintu yang ditutup, memang tadi pintu itu tidak tertutup rapat sich.

“Ibu yach?” tanya Lily memandangku terkejut.

Aku tersenyum dan mengecup keningnya dan membiarkan penisku untuk tetap berada di vagina Lily, sebaliknya Lilypun membiarkan vaginanya untuk tetap menampung penisku dan kamipun tertidur pulas karena kelelahan.

TAMAT

Tags : Kisah dewasa,Cerita panas,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,cewek smu bugil,hp tante girang,info tante girang,telepon tante girang,video tante girang,cynthiara alona bugil,artis bugil telanjang

Kisah Dewasa – Hypersex Party

13 Juni 2010 pada 15:29 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sejak sore tadi hujan menggericik tak deras. Luisa berbaring di ranjangnya berselimut tebal. Pintu kamarnya terkunci rapat. Luisa mendehem-dehem nikmat, matanya sayu tapi nafasnya memburu. Sesekali kain selimut tersingkap sehingga beberapa bagian tubuhnya yang tak berbusana nampak dari luar.

“Ahh.. ehg.. emhh..”

Gadis itu terduduk dan menyingkap selimut tebalnya. Keringat dingin membasahi tubuhnya yang memang bugil sama sekali. Kepalanya mendongak-dongak menahan ilusinya ketika sebatang dildo bergoyang-goyang di liang vaginanya. Buah dadanya yang berukuran 36 lengkap dengan putingnya yang kenyal membengkak menggairahkan. Lendir kawinnya sudah menggenang di sprei kasur. Tepat diatas lendir itu pussy Luisa yang besar berbulu tipis merekah disodok batang dildo ukuran L.

“Uahh..”

Orgasme telah diraihnya. Luisa terlentang lemas. Batang dildo itu masih menancap di pussy-nya. Enggan rupanya Luisa mencabutnya. Matanya terpejam, nafasnya masih terengah-engah. Tiba-tiba dering telpon mengganggunya.

“Kring.. kring..”

“Hallo..” Luisa menerima telpon sambil menjilati ujung dildo yang barusan bersarang di pussy nya.

“Luisa, hujan-hujan gini enaknya ngapain?” tanya suara di seberang.

“Enaknya dikelonin kamu,” jawab Luisa sekenanya.

“Hi.. hi.. kalau gitu, kamu saya undang deh. Sekarang ke Star Pub deh, kita tunggu. Jangan lupa be a sexy girl, okey?”

“Klik..”

Luisa segera meletakkan gagang telepon di induknya.

*****

Luisa masuk ke dalam café kecil itu. Pintu masuk café nampak tertulis “CLOSE”, tapi tidak bagi anggota pub. Suasana di café sepi, tapi sayup-sayup Luisa mendengar gemuruh tawa di lantai atas. Luisa segera menuju ruang atas. Begitu Luisa masuk beberapa anggota lain segera menyambutnya.

“Hai Luisa,” sapa Sidney yang hanya memakai CD transparan sedangkan susunya yang sekal bergelantungan dengan bebas.

“Hai, makin motok saja susumu,” balas Luisa sambil meremas susu kiri Sidney.

“Saya baru main sama Leo,” ujar Sidney menunjuk pria tegap telanjang yang duduk jongkok di sudut ruangan. Pistolnya mengayun-ayun tegang sejak tadi.

“Hai Luisa, kita sudah nunggu kamu dari tadi loh,” sapa Sari yang memakai CD merah dan BH hitam, kontras banget tapi seksi banget. Kemudian mereka saling berciuman beberapa menit. Sembari berciuman, tangan Luisa sudah nakal menyusup ke CD Sari.

“Kamu baru aja cukur ya?” tanya Luisa ketika jemarinya merasakan bulu-bulu pussy Sari.

Sari tersenyum malu.

“Nggak pa-pa lagi, rasanya malah geli-geli nikmat. Hi.. hi..,” Sari tertawa cekikikan lalu berlalu.

Mata Luisa memedar berbinar-binar ke seluruh ruangan. Ada dua belas orang di ruangan itu. Kesemuanya saling bersaing memperlihatkan keseksian tubuhnya. Wita memakai bikini putih tipis sehingga puting susunya nampak menyembul menggoda. Lia cantik banget malam itu, rambut panjangnya meriap-riap seksi. Apalagi Lia memakai CD putih berenda dan BH putih yang kelihatan puting susunya karena dilubangi pada bagian putingnya, Luisa bener-bener pingin melumat susunya. Maka Luisapun segera mendekati Lia

“Li, kamu cantik sekali malam ini.” Sapa Luisa sambil mempermainkan puting susu Lia yang sengaja disembulkan itu.

“Inikan maksud kamu? Kalau kamu mau, isep aja.” Bagai gayung tersambut.

“Ntar kamu main sama aku yah?”

Lia mengangguk lalu pergi menghampiri Si ganteng Ricko yang pakai CD pink, sejak tadi pistolnya tegang terus melihat pemandangan yang merangsang itu.

Jude (tokoh: Jude, Guru Privatku) memakai BH yang ketat banget hingga susu “Pamela Anderson” nya bagai berebut ingin keluar kain tipis itu, sedang pussynya dibiarkan saja dipelototin sama Tino yang sejak tadi penny nya pingin menerobos jaring tipisnya. Ayu yang pakai daster pendek transparan tanpa CD dan BH memamerkan pahanya di atas meja. Hanya orang nggak waras saja yang nggak berminat sama paha mulusnya. Cindylah yang paling sexy, doski hanya mengenakan stocking hitam sebatas paha dan duduk dengan santainya sambil memamerkan pussynya yang berambut tipis. Pengen banget Luisa melumat klitoris mungil Cindy.

Luisa sendiri memakai CD tipis bertali dan BH bertali yang hanya menutup nipplesnya saja. Sedang Mbak Sarah sang ketua party yang polos los sedang sibuk menjilati dildo barunya. Begitu melihat Luisa datang Mbak Sarah segera menepuk tangannya bertanda party akan segera dimulai. Semuanya segera berkumpul di tengah ruangan.

“Nah, gimana nih? Siapa yang pengin main duluan?” ujar Mbak Sarah membuka acara.

“Saya!” Ayu menunjuk jari.

“Kebetulan Ayu, sudah lama kita nggak liat lagi tarian pecut asmaramu itu.” Sambut si Ricko.

“Okey, Cin, nyalakan tapenya!” kata Ayu.

Cindy segera menyalakan tape recorder kecil. Lalu terdengar suara music yang memancarkan suasana erotic bagi siapa saja yang mendengarnya. Ayu segera berdiri di tengah lalu menari mengikuti suara tape recorder. Tarian gemulai itu semakin memancing hasrat, Ayu memang bekas penari latar yang piawai. Luisa yang sudah sejak tadi menahan birahinya tanpa sadar meremas-remas susunya sendiri. Apalagi kemudian Ayu meminta Ricko melucuti onderdil nya. Maka seperti diberi aba-aba yang lain segera melucuti pakaian milik pasangan yang dipilihnya.

Dengan segera Ricko mendorong Ayu untuk berbaring lalu Ricko segera melumat bibir kenyal Ayu penuh nafsu sedang tangannya meremas-remas penisnya sendiri. Jude yang sudah terbakar segera ikut melumat susu kiri Ayu disusul oleh Cindy yang kebagian susu kanannya. Luisa sendiri segera menyusup ke selakangan Ayu yang terbuka. Lalu dengan semangat Luisa mengerjain pussy Ayu. Dijilatinya pussy Ayu yang sudah penuh dengan lelehan lendir kawinnya. Lalu diobok-oboknya liang vagina Ayu dengan jarinya.

“Aaghh..,” erang Ayu dan Luisa bersamaan karena saat itu Ricko sudah menyodokkan pistolnya ke pussy Luisa dari belakang. Posisi Luisa yang menungging membuat Ricko semakin mudah menancapkan senjata pamungkasnya. Sedang posisi Ricko sebelumnya sudah digantikan oleh Mbak Sarah yang menyekokkan nipplesnya ke mulut mungil Ayu.

Di sudut lain, Tino yang setengah menungging sedang mengerang-erang keenakan ketika diserbu dari dua arah. Sidney yang mengganyang pistolnya dari depan dan Leo yang menyodomi pantatnya. Sedangkan di sisi lain Lia, Wita dan Sari bergumul sendiri. Lia dan Wita saling memagut susu lawan mainnya sedang Sari menyerang pussy Lia yang posisinya terlentang. Beberapa kali dildo masuk keluar pussy Lia dengan mudah lalu bergoyang-goyang membuat Lia bergelinjangan keenakan. “Agh.. enak.. terus Sar..,” erang Lia.

Ricko masih memainkan pistolnya di pussy Luisa. Pantat Luisa bergoyang-goyang naik turun mengikuti gerakan penis Ricko. Berulang kali Luisa mencapai puncak asmaranya, berulang kali pula mani Ricko muncrat ke liang vaginanya. Tapi mereka masih ingin mengulangi dan mengulanginya lagi.

“Rick, saya mau keluar lagi Rick.. oh.. enghh..,” rintih Luisa.

“Kita keluar sama-sama yah, yang..”

Kemudian Ricko semakin memperkuat tekanan batang penisnya keliang vagina Luisa, sehingga tidak lama setelah itu muncratlah air mani Ricko ke dalam vagina Luisa bersamaan dengan keluarnya cairan kawin Luisa.

“Engg.. ah..,” jerit Ricko dan Luisa bebarengan.

Luisa tergeletak di atas karpet. Wajahnya sudah nampak kepayahan, tapi birahinya belum terpuaskan. Ricko sudah meninggalkannya untuk mencari petualangan lain. Mata Luisa memandang sayu kepada Lia yang berdiri di atasnya. Susu Lia yang sudah sangat bengkak membuat Luisa ingin sekali mengunyah nipplesnya yang tegang kecoklat-coklatan. Pussy Lia yang berbulu agak lebat nampak mengkilap basah oleh lendir kawinnya. Lia tahu betul kalau Luisa menginginkannya. Dia segera merunduk dan menyerahkan susunya untuk dilumat oleh Luisa. Luisa melumat susu dan bibir Lia secara bergantian. Tangannya pun agresif menyusuri lorong goa vagina Lia, memelintir klitoris Lia berkali-kali. Lalu masuk dalam dan semakin dalam membuat Lia makin terlena.

“Kamu.. enak banget.. egh..,” rintih Lia.

Luisa mendesis-desis, nafasnya menghembus di bukit montok Lia membuat Lia semakin terbakar. Tapi Luisa juga kembali terbakar ketika Sari datang dan menghisap puting susu Luisa. Lia juga berebut mencaplok susu kanan Luisa. Luisa merem melek manahan semua rasa syur yang tercipta. Semakin syur ketika Leo menjejalkan penisnya yang besar dan tegang banget ke mulutnya.

“Isep sayang.. ayo..”

Luisa menghisap penis Tino. Menggigit-gigit nakal membuat Tino melenguh-lenguh keasyikan. Tino menekan pistolnya dan maninya muncrat ke dalam mulut Luisa. Luisa menelan lendir itu hingga tandas. Segala keindahan terasa ketika entah lidah siapa lagi yang menggerayangi pussy Luisa. Hingga ia merasa tubuhnya dijunjung ke atas dan..,

“Augh..”

Sebatang daging tegang kembali bersarang di pussy Luisa. Kembali dialaminya orgasme yang dialaminya bersamaan dengan si pemilik pistol.

“Ehg.. kau hebat banget Luisa, hebat! Makasih ya..”

Itu suara Leo.

“Bajingan! Mau nyodok nggak bilang-bilang!” umpat Luisa dalam hati.

Lalu semua yang tadi ngerjain Luisa pergi ngerjain yang lain. Luisa tidak lagi memperhatikan orang-orang disekelilingnya. Rasa capeknya telah membawanya terlelap. Dua jam pun berlalu, suasana hening. Party itu sudah selesai, pemain-pemainnya sudah terlelap tidur.

Luisa yang terbangun paling awal. Dipandangi sekelilingnya dengan senyum simpul. Semua dalam keadaan telanjang bulat, termasuk dirinya. Berbagai CD dan BH berserakan berserakan dimana-mana Pantat Sari merah bengkak begitu juga puting susu Ayu. Luisa tersenyum sendiri melihat ujung susu si bule Jude yang masih dikenyot Ricko. Pantat Sidney juga memerah, mungkin karena di kerjain sama temen-temen yang lain. Dalam party itu tidak hanya cowok saja yang disodomi, cewek juga bisa disodomi. Yang paling suka menyodomi cewek, ya.. si Tino itu. Luisa berpaling kepada Mbak Sarah. Wajah Mbak Sarah penuh dengan mani dan lendir vagina yang mulai mengering. Ruangan itu menebarkan aroma mani dan lendir vagina yang khas.

Mata Luisa tertuju pada Cindy. Gadis itu masih terlelap. Kadangkala mengigau sambil senyum-senyum sendiri. Wajah gadis itu cantik. Tubuhnya kecil tapi susunya montok bener. Vaginanya polos tanpa bulu, warnanya putih kemerahan seperti pipi gadis yang sedang malu. Klitorisnya mungil menyembul. Gairah Luisa kembali bangkit. Luisa berjongkok di depan Cindy kemudian memainkan jemarinya di atas vagina yang merekah itu. Dengan penuh nafsu segera dilumatnya klistoris yang sejak awal tadi membuatnya ngiler itu. Cindy menggeliat-geliat, tapi Luisa tak perduli. Bibir Luisa melumat gundukan vagina Cindy sedang kedua tangannya menggapai meremas-remas daging kenyal nan montok di dada Cindy. Antara sadar dan tidak Cindy menjamak-jaMbak rambut Luisa dan menjepit kepalanya dengan kedua pahanya.

“Ah.. uh.. ah.. uh..,” suara Cindy mendesis lirih.

Nafas keduanya kembali memburu. Luisa menumpahkan segala birahi yang tersisa di kepalanya. Seakan-akan Cindy itu hanya miliknya sendiri. Cindy dipaksa untuk bangun dari lelapnya. Matanya memicing merasakan surga yang kembali datang untuknya. Tapi Cindy sudah tak punya daya untuk membalas. Ia pasrah saja ketika Luisa menjejalkan sebatang dildo masuk ke dalam liang vaginanya.

“Sruup..”

Tanpa banyak perlawanan pistol mainan itupun amblas ke dalam liang kenikmatan Cindy. Cindi sempat terpekik beberapa kali, tapi lemah, rupanya dia sudah tak punya daya kecuali menikmati permainan Luisa. Luisa menarik si dildo maju mundur beberapa kali. Pantat Cindy bergoyang mengikuti iramanya. Makin lama dildo itu bergerak makin cepat.

“Sruup.. sruup..”

Suaranya menyibak lendir-lendir kental yang keluar dari vagina Cindy. Mata Luisa berbinar memandangi vagina bermandikan lendir itu. Langsung ia merunduk dan

“Sruup..”

Dihisapnya si lendir dari pussy Cindy hingga tandas.

“Ah, puasnya..,” kata Luisa dalam hati. Dikecupnya kening Cindy yang tak sadarkan diri. Kemudian dia segera pergi dari tempat itu dengan senyum penuh kepuasan.

TAMAT

Tags : Kisah dewasa,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,gambar seks,gadis hangat,tante kesepian,Cerita Berahi, Cerita Dewasa, Cerita Ghairah, Cerita Panas, Gambar, MelayBoleh, Melayu Boleh, Skandal Melayu, Skodeng, cewek cantik

Kisah Dewasa – Family Education of Sex 02

11 Juni 2010 pada 14:32 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,
Sambungan dari bagian 01

Kemudian ibu dan anak tersebut mulai saling bersentuhan bibir.

“Hmm buka mulutmu sayang dan keluarkan lidahmu biar Mama isap lidahmu, hmm.. hmm ya begitu..”

“Intan coba kamu raba susu Mamamu ya..”

“Ya Pap,” kemudian tangan Intan mulai menyentuh dada mamanya.

“Aaakhh.. kamu lagi ngapain sayang?” tanya Dewi kaget karena tiba-tiba dadanya dielus-elus oleh putrinya.

“Hmm.. ya gitu sayang.. ough terus sayang..” kata Dewi memberi semangat kepada anaknya sambil dia terus berciuman dengan putranya.

“Hmm.. nah sayang sekarang gantian kamu yang Mama ajarin ya.. sini sayang,” panggil Dewi kepada Intan.

“Dan kamu Ton coba kamu cium susunya Mama.”

Sekarang gantian Dewi dan putrinya yang saling berciuman sambil perpelukan dan putranya menciumi susu Mamanya.

“Akhh.. hmm..” erang Dewi di sela-sela aktivitasnya dengan Intan dikarenakan nikmatnya susunya diemut-emut, disedot, dan dijilat oleh Anton berganti-gantian antara yang kiri dan kanan.

“Hmm.. ya! anak-anak coba berhenti dulu,” kata Tony menyuruh kedua anaknya untuk berhenti.

“Kenapa Pap?” tanya mereka kebingungan.

“Coba kalian perhatikan ini,” sambil berkata demikian Tony menurunkan gaun istrinya yang sudah acak-acakan sehingga akhirnya tubuh istrinya tidak tertutup dengan selembar benangpun.

“Ini tempat dimana dulu kalian lahir dan merupakan sumber dari segala kenikmatan,” ujar Tony kepada kedua anaknya.

“Coba Mam kamu naikkan dan pegang kedua kakimu agar anak-anak dapat melihatn memekmu dengan jelas!” perintah Tony kepada istrinya.

Kemudian Anton dan adiknya berpindah posisi di samping papanya sambil melihat belahan vagina mamanya yang jelas terlihat dikarenakan diangkatnya kedua kaki mamanya hingga hampir menyentuh perut.

“Coba kalian lihat indah bukan milik Mamamu ini,” kata Tony sambil menunjuk ke arah vagina istrinya.

“Sekarang Ton coba kamu sentuh punya Mamamu ini, pelan-pelan!”

“Aaakhhk.. esstt..” desis Dewi perlahan seiring vaginanya disentuh oleh putranya.

“Tu.. kan Ton kamu lihat Mamamu keenakkan disentuh punyanya.”

“Pap, Intan boleh ikutan nggak?”

“Loh ya boleh dong sayang,” kata Tony.

“Sini kamu duduk di samping kakakmu dan ikutin apa yang dia lakukan!”

Kemudian keduanya sibuk mengelus-elus vagina mamanya secara bersama-sama. Naik-turun membelah bibir vagina mamanya.

“Ahh.. ahh.. ahh.. aduh.. Pap anak-anakmu kok pinter sich.. ah.. ah.. ah.. terus sayang terus.. ahh akk..” tiba-tiba Dewi menjerit keenakan karena tiba-tiba jari tangan Anton masuk ke dalam vaginanya.

“Ahh.. ststt.. sayang.. kamu pinter ya.. ahh.. ahh.. Intaan.. kamu apain itilnyaa Mamaa? Akhh.. eestss..” Dewi semakin histeris ketika klitorisnya digosok-gosok oleh putrinya.

“Ton, sekarang kamu tengkurap dech!” kata Tony kepada putranya.

“Buat apaan Pap?”

“Udah deh kamu turutin aja. Nah sekarang coba kamu cium punya Mamamu, kaya kamu ciuman tadi sama Mama ya..”

“Hmm kayak gini Pap?”

Sambil berkata demikian Anton kemudian langsung mencium bibir bawah mamanya.

“Ough.. Ton.. stt.. ah.. ah.. enak banget sayang..” kata Dewi.

Karena tidak tahan menahan nikmat yang dirasakannya sekarang pahanya Dewi menjepit kepala anaknya sembari tangannya menjambak-jambak dengan penuh nafsu rambut putranya.

“Akkhh.. ough.. ough.. ha.. ah.. ah.. terus.. sayang.. terus..”

Anton yang semakin bernafsu terus menjilat dan menghisap seluruh kemaluan mamanya sembari tangannya terus mengocok-ngocok vagina mamanya dengan cepatnya.

“Ahh.. Pap.. anak kita cepat pintarnya.. yachh.. esstt.. Pap..” kata Dewi kepada suaminya.

Sementara itu Tony tidak memperdulikan ucapan istrinya dikarenakan ia sendiri sibuk mencium payudara istrinya sebelah kanan dan Intan menghisap-hisap di sebelah kiri. Mendapat rangsangan dari mana-mana Dewi makin tidak dapat menahan birahinya yang semakin lama semakin memuncak.

“Ahh.. Anton sayang.. Udah.. dulu ya.. udah.. Ton.. ampun.. estt.. ah.. ah.. ah.. udah dulu.. ya sayang..”

Dewi berusaha melepaskan kepala anaknya dari selangkanganya, tetapi tiba-tiba tangan Tony memegang dengan kuat tangan istrinya sementara kakinya juga ditumpangkan di atas paha Dewi agar istrinya tidak bergerak-gerak.

“Stt.. tahan ya sayang.. nikmatin aja ya.. Int coba kamu tahan tangan dan kaki Mamamu kayak Papa ini biar kakakmu tidak terganggu.”

Akhirnya Dewi hanya bisa pasrah terlentang tidak dapat bergerak-gerak karena kedua tangannya dipegang oleh suami dan putrinya dan kakinya terkangkang dengan lebar karena ditarik ke kiri dan ke kanan oleh kaki suami dan putrinya.

“Oh.. oh.. akhh.. akhh.. Pap.. udah dulu Pap.. Mama.. estt.. ah.. hah udakhh nggak tahan nich Pap.. akhh.. akhh.. Anton.. ahh.. serrt.. sertt..” dan tanpa dapat ditahan lagi akhirnya Dewi menyemprotkan puncak kenikmatannya ke muka dan mulut putranya.

“Ahkhh.. khaa.. ahh.. Wah Mama jadi lemes nich gara-gara kalian semua,” ucap Dewi sambil mengusap wajah dan tubuhnya yang telah basah karena terkena keringatnya sendiri dan keringat suami dan anak-anaknya.

Tak lama kemudian setelah Dewi beristirahat sebentar.

“Ton, sekarang giliran kamu yang mempraktekkan apa yang telah papa-mama ajarkan sama kamu ke adikmu, oke. Tapi sebelumnya biar Mama dulu yang melakukannya, agar Intan tidak menjadi tegang.”

Kemudian Dewi mendekat ke arah putrinya dan secara perlahan baju tidur yang dikenakan oleh putrinya itu dibukanya.

“Hmm.. badanmu bagus juga ya nak.. Mama sampai tidak tahu kalau kamu punya badan seindah ini,” ucap Dewi setelah melepas seluruh penutup tubuh dari putrinya itu.

Diperhatikannya tubuh anaknya yang putih itu, rupanya walaupun Intan masih berumur 15 tahun dan berbadan mungil tetapi payudara yang dimilikinya sudah cukup menonjol dengan puting susu yang berwarna kemerah-merahan, warna khas puting anak remaja, kemudian vaginanya yang bisa dibilang masih botak itu juga berwarna kemerah-merahan.

“Ahh.. Mama jangan gitu ah, kan Intan jadi malu,” kata Intan sambil menutup dadanya yang telanjang itu.

“Eh, jangan ditutup gitu dong masa kamu malu sama keluarga sendiri,” kata Tony sambil sesekali menelan air liurnya sendiri demi melihat tubuh telanjang putrinya dengan payudara mungilnya itu sementara itu bagian vaginanya masih terlihat mulus dengan dihiasi bulu-bulu halus yang baru mulai tumbuh itu.

“Hmm.. sini sayang!” panggil Dewi sambil mendekap erat putrinya Dewi mencium dengan lembut bibir putrinya.

“Hmm.. mmh.. mm.. ibu dan anak itu kemudian berciuman sambil mereka berbaring berpelukan seolah-olah mereka sedang memeluk guling, sehingga kedua susu dan vagina mereka saling bertemu dan bergesek-gesek sehingga menimbulkan kenikmatan tersendiri baik bagi Dewi maupun Intan.

“Ohh.. ahkhh.. oh.. estt.. stt, Mam Intan diapain nich Mam?” erang Intan keenakan karena sambil berbaring telentang mamanya menciumi leher dan kemudian perlahan-lahan menjilat-jilat payudaranya yang makin lama makin mengeras itu.

Dewi makin bernafsu menciumi payudara anaknya itu dan dengan matanya ia menyuruh Tony untuk mendekat dan mencium payudara anaknya yang satu lagi.

“Mmm.. mm.. ehh.. Pap.. estt..” tanpa sadar Intan memegang kepala kedua orang tuanya dan makin menekan ke arah dadanya.

“Ahh.. Mas Anton.. khaa.. mu.. lagi.. ngapain Mas? stt..” jerit Intan.

Rupanya tanpa sepengetahuan mereka diam-diam Anton menyorongkan mukanya ke arah vagina adiknya dan terus menjilat-jilat dengan penuh nafsu. Dihisapnya bibir luar vagina dan lidahnya menyapu seluruh bagian dalam dari vagina adiknya itu terutama pada bagian daging yang dirasakannya mulai makin menonjol (rupanya secara tidak sadar Anton menjilati klitoris adiknya) yang mana hal ini makin membuat Intan makin merintih keenakan.

“Intan coba kamu sekarang menungging deh!” ujar Dewi.

“Mama mau memberikan pelajaran baru kepada kakakmu.”

Intan kemudian berganti posisi, sekarang ia dalam posisi menungging sehingga payudaranya tergantung ke bawah dan pantatnya yang putih itu terpampang dengan bebasnya.

“Ton, coba kamu sekarang liat apa yang Mama akan ajarkan kepadamu.”

Kemudian Dewi memegang kedua belah pantat putrinya kemudian diremas dan dibuka belahan pantatnya itu sehingga lobang anus Intan mulai tampak merekah karena kulit pantatnya tertarik.

“Kamu lihat ini Ton, ini juga merupakan sumber kenikmatan baik bagi laki, apalagi bagi perempuan,” kata Dewi sambil tetap menahan posisi pantat anaknya.

“Masa sih Mam?” tanya Anton tidak percaya.

“Hm.. baik kamu liat sekarang bagaimana reaksi adikmu ini,” jawab Dewi dan Dewi pun kemudian menjulurkan lidahnya dan pelan-pelan mulai menyapu belahan pantat anaknya.

“Ahh.. Mam gelii Mam.. stt Mam ampun.. Mam.. stt..” jerit Intan kegelian berusaha menjauhkan pantatnya dari muka mamanya tetapi apa daya ia tidak dapat bergerak kemana-mana karena papanya menahan tubuhnya dengan memeluk punggungnya dari bawah tubuh Intan dengan posisi berlawanan sambil mulutnya mengisap-isap payudara anaknya.

“Oughh.. Mam.. udah.. Mam.. geli.. Mam.. estt.. ahh..” erang Intan karena sekarang lidah mamanya mulai masuk ke dalam lubang anusnya yang masih sempit itu. Dewi yang melihat anaknya merintih-rintih makin berafsu mengeluar-masukkan lidahnya ke dalam lubang anus anaknya itu dan dengan tangannya iapun menyuruh Anton untuk mulai menjilat vagina adiknya.

“Ahh.. estt.. enak Mas.. iiyaa.. estt Mas.. di situ.. Mas.. jilat terus.. Mas.. ah.. ah.. ah.. hmm.. stt stt.. terus.. Mas..” racau Intan demi menerima rangsangan dari seluruh keluarganya dimana mamanya terus mengocok lubang pantat, kakaknya menjilat-jilat seluruh bagian vaginanya dan papanya menyedot-nyedot pentil susunya yang terus meruncing itu.

“Hu.. hu.. ah.. udah dong dulu Mam, Intan udah nggak kuat nich.. aggh.. Pap, ammpun lepasin dulu.. dong.. Intan nggak tahan.. stt.. aghh.. aghh.. ah..”

“Agghh.. Mama.. Intan udah nggak tahan Mam.. Maamma.. aghh.. ah.. ah.. ah.. Serrtt.. serrtt,” lalu mendorong dengan kuat bagian pantatnya ke arah muka kakak dan mamanya akhirnya Intan mengeluarkan air maninya ke arah muka kakaknya.

“Ahh.. ohh.. udah dulu Kak, Intan capek banget nih,” kata Intan karena walaupun sudah tersiram cairan kenikmatan dari adiknya, Anton masih terus saja menjilat-jilat vagina adiknya sambil berusaha menghisap seluruh cairan yang ada pada adiknya itu.

Akhirnya merekapun semuanya berbaring kelelahan tetapi walau hal tersebut terasa melelahkan tetapi tampaknya penis dari Tony dan anaknya masih tetap mengacung dengan kerasnya.

“Bagaimana anak-anak, Mam udah capek belum? Kalau belum capek nanti Papa terusin pelajarannya.”

“Pelajaran apa lagi Pap, bukannya udah cukup pelajaran yang kita kasih tadi?” tanya Dewi kebingungan kepada suaminya.

“Loh Mama ini gimana sich, ini kan baru pembukaanya saja belum kepelajaran inti beserta variasi-variasi,” jawab Tony sambil tersenyum-senyum.

“Haa.. maksud Papa..?”

TAMAT

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,cerita bugil,cerita nafsu,cerita daun muda,Kisah 18sx,Foto toket gede abg,Cerita setengah baya,memek basah,memek abg,memek gadis,memek tante girang

Kisah Dewasa – Family Education of Sex 01

11 Juni 2010 pada 14:29 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

“Aaahh.. hh.. huh enaknya ya Mam, rasanya kalau sudah keluar nich,” begitu kata Tony seorang bapak berumur 45 tahun, bapak dari dua orang anak kepada istrinya Dewi, ibu berumur 38 tahun.

“Iya nich Pap, Mama juga rasanya masih lemes, abis Papa mainnya kok masih kuat aja, masa udah hampir satu jam tidak keluar-keluar.”

“Iya tapi Mama kan juga kuat melayani Papa,” ujar Tony.

“Ah Papa bisa aja nich ngerayu Mama..”

Akhirnya setelah mereka bermain cinta selama hampir dua jam Tony dan istrinya sama-sama terdiam untuk mengumpulkan energi mereka yang telah terkuras dan masing-masing sibuk dengan pikirannya sendiri-sendiri. Akhirnya Tony mulai membuka percakapan sambil memeluk tubuh telanjang istrinya,

“Mam tidak terasa ya kita sudah menikah selama dua puluh tahun dan telah dikaruniai dua orang anak si Anton dan Intan, rasanya baru kemarin mereka kita timang-timang sekarang kok taunya si Anton sudah kelas 1 SMA (17 tahun) dan Intan sudah kelas 2 SMP (15 tahun), dan mereka pintar-pintar lagi”.

“Iya-ya Pap, memang tidak terasa ya, tapi menurut Papa untuk urusan seks apakah mereka sudah cukup tau nggak ya? Soalnya mama takut mereka mendapat informasi yang salah tentang apa seks itu, menurut Papa bagaimana?” tanya Dewi kepada suaminya.

Lama Tony terdiam memikirkan perkataan istrinya tadi dan akhirnya dia berkata,

“Mam bagaimana kapan ada waktu yang tepat kita berempat berkumpul bersama untuk membahas masalah tersebut. Bagaimana Mam?”

“Hmm.. boleh juga, tapi.. bagaimana kalau sekarang aja Pap ini kan juga belum terlalu malam baru jam sepuluh dan lagian juga khan mereka besok tidak ada sekolah.”

“Ya udah Papa bersihin ‘burung’ Papa dulu ya, rasanya lengket nih, sekalian ambil piyama dulu oke.”

“Yaa, Papa nggak usah ambil piyama segala.. dibersihin aja tapi nggak usah pake piyama lagi!”

“Loh Mama gimana sih masa Papa telanjang gini?”

“Loh katanya mau diskusiin masalah seks, jadi sekalian ada contohnya gitu.”

“Dan Papa jadi contohnya?” kata Tony kebingungan.

“Lah iya , nanti kalo giliran Papa yang ngajarin nanti gantian Mama yang jadi contohnya, gimana oke!”

“Tapi Mama yakin ini tidak apa-apa?”

“Iya..” kata Dewi tidak sabar, “Udah deh Papa abis cuci ‘burungnya’ Papa, Papa tunggu di sini ya dan jangan pake apa-apa lagi ya, Mama mau keluar manggil Anton dan Intan.”

Setelah berkata demikian Dewi dengan hanya mengenakan daster tipisnya, (tipis di sini coba dibayangkan bagian dada dan bagian vitalnya hanya tertutupi oleh hiasan renda-renda di dasternya tersebut dan tingginya hanya sejengkal dari lutut), langsung keluar untuk memanggil anak-anak mereka.

“Anton!! Intan!! coba kalian ke sini sebentar!” panggil Dewi dari lantai atas.

“Ya Mam, ada apaan sih Mam?” kata Anton dan Dewi.

“Gini mulai malam ini kalian tidur di atas ya, sama Papa dan Mama!”

“Loh kok tumben Mam, emangnya adapan sich lagian tempat tidurnya muat apa?” kata Anton bertanya.

“Iya nih Mama ada-ada aja,” sambung Intan.

“Nggak.. mulai malam ini Papa dan Mama ada yang mau diomongin bersama kalian jadi kita ngomong-ngomong sebelum tidur gitu. Udah deh sekarang kalian ke kamar aja, Papamu udah nungguin tuh!” kata Dewi dengan sabar kepada anak-anaknya.

Setelah itu Dewi dan anak-anaknya berjalan menuju ke kamar orang tuanya, dimana Tony telah menunggu istri dan anak-anaknya sambil berselimut untuk menutupi tubuh telanjangnya. Kemudian setelah mereka telah berkumpul di kamar yang luas itu sambil bersila di ujung ranjang kedua anaknya pun menanyakan ada apa karena tidak biasanya mereka disuruh tidur bersama orang tuanya mereka.

“Begini Anton, Intan..” kata Dewi memulai percakapan, “Kalian kan sudah besar, kamu Ton sudah kelas I dan sebentar lagi mau kelas II dan kamu Wi sudah kelas II dan tidak lama lagi kamu akan masuk ke SMA dan kamu tau khan pergaulan kayak sekarang gini, Papa dan Mama tidak mau kalau kalian terjerumus dengan pergaulan yang tidak-tidak. Hmm ngomong-ngomong Mama dan Papa pengen tau kalian udah punya pacar belum sih?”

“Kalau Anton sih belum punya Pap, nggak tau tuh kalau Dewi udah punya apa belum?”

“Kalau Dewi sama kayak Mas Anton belum punya juga.”

“Ya udah kalau gitu Mama sekarang mau ngasih pelajaran mengenai seks kepada kalian oke.”

“Sekarang Mam?” tanya Anton dan Dewi kebingungan.

“Iya sekarang, khan mumpung kalian masih libur, udah sekarang Ton coba kamu berbaring di samping Papamu and kamu Tan sini deketan sama Mama!”

“Sekarang Mama mau memberikan penjelasan mengenai bentuk anatomi seorang laki-laki, udah Pap buka dong selimutnya masa masih selimutan aja,” kata Dewi kepada suaminya. Tony yang dari tadi hanya terdiam memperhatikan istrinya yang cantik itu memberikan penjelasan kepada anak-anaknya kemudian membuka selimutnya secara perlahan-lahan.

“Ih Papa kok telanjang sih?” ujar Intan terkejut.

“Iya nih Papa kok telanjang sih?” sambung Anton yang tidak kalah terkejutnya melihat papanya sendiri berbaring telanjang dengan batang kemaluannya yang masih kecil mengkerut dengan bulu kemaluan yang tidak terlalu lebat dan terpotong rapi (untuk soal itu Dewi cukup rajin merawat rambut suaminya yang satu ini).

“Loh kan Papa dan Mama mau ngasih pelajaran seks kepada kalian, gimana sih kalian ini,” ujar Tony kepada kedua anaknya.

“Ayo Mam sekarang Mama yang ngasih pelajaran terlebih dahulu.”

“Oke Pap,” ujar Dewi kepada suaminya.

“Nah anak-anak coba kalian duduk di sini!” sambil menyuruh agar Anton duduk di samping kanan papa dan Dewi dan Intan sendiri duduk di sisi kiri papanya semetara itu Tony hanya berbaring setengah duduk saja di tengah-tengah ranjang dikelilingi istri dan anak-anaknya.

“Coba kalian perhatikan tubuh Papa kalian!” ucap Dewi kepada anak-anaknya, “Begini ini bentuk tubuh seorang laki-laki, buat kamu Ton ini bukan hal yang aneh tapi buat kamu Intan jangan merasa jijik atau ngerinya ini kan juga Papa sendiri oke!”

“Oke Mam!” ujar Intan.

Kemudian dengan secara perlahan Intan memperhatikan tubuh papanya yang walaupun sudah berumur badan papanya itu tetap berotot dan belum terlalu kendor. “Coba kamu Int ikuti Mama ya!” sambil berkata demikian Dewi mengelus dada suaminya secara perlahan kemudian Intan mengikuti gerakan mamanya mengelus dada papanya. Tony yang dadanya dielus-elus oleh dua tangan yang halus itu mulai merasa keenakan juga. Kemudian setelah cukup lama, perlahan-lahan tangan Dewi makin turun ke arah selangkangan suaminya bersama dengan tangannya Intan dan ketika sampai pada kemaluan suaminya Dewi berujar,

“Nah Intan ini yang namanya Penis.”

“Oooh..” Intan hanya dapat berkata demkian.

“Dan kamu tau Intan, kalau kontol pria jika sedang bernfsu dapat membesar.”

“Emangnya bisa Mam?” tanya Dewi dengan lugu.

“Ya bisa sayang. Coba kamu lihat Mama ya, nanti kamu coba sendiri.”

Kemudian Dewi memegang batang kemaluan suaminya dengan lembut, kemudian secara perlahan dikocoknya penis suaminya itu.

“Aaah stt.. Mam hmm..” ucap Tony kepada istrinya ketika penisnya mulai dikocok-kocok dan makin lama ukuran penis Tony makin lama makin membesar (tapi belum menyampai ukuran maksimal).

“Eh iya.. Mam, Mama bener juga tu kontolnya Papa mulai gede tuh,” kata Intan.

“Nah sekarang coba kamu ke sini Int.. sekarang kamu yang coba ya..”

“Tapi Mam, Intan nggak bisa..”

“Intan sini sayang nanti Papa yang kasi tau oke, sini sayang, biar Mamamu gantian yang ngajarin Anton, tuh Mam anakmu kasian dari tadi dia diamin aja,” kata Tony kepada istrinya.

Anton yang dari sedari tadi melihat perbuatan mamanya itu hanya dapat terdiam dan sesekali menelan air ludahnya dan tanpa disadarinya penisnya pun mulai membesar.

“Ton panggil Dewi, coba kamu berbaring di samping Papamu!”

Anton pun tanpa berkata-kata berbaring sambil setengah duduk di sisi papanya. Kemudian Dewi pun bergeser di samping anaknya dan secara perlahan mulai menurunkan celana pendek anaknya itu.

“Wau.. Pap coba lihat punya anakmu ini, sampai tidak muat loh celana dalamnya,” kata Dewi kepada suaminya dan kemudian dengan perlahan pula celana dalam Anton dibukanya pula.

“Ton kamu tenang aja ya kamu lihat, pelajari dan nikmatin saja apa yang Mama ajarin kepada kamu ya, kamu juga Intan kamu dengerin yang Papamu ajarin ya..”

“Ya Mam,” jawab mereka berdua.

“Wah.. Ton punyamu tidak kalah sama Papamu yah.. tapi ini kok bulu jembutnya berantakan gini sih. Nanti kapan-kapan Mama cukurin ya.”

Kemudian sama dengan suaminya, Dewi pun mulai mengocok penis anaknya secara perlahan-lahan.

“Ahh stt.. Mama kok enak banget sih Mam, ah.. ah aduh Mam stt..” ucap Anton ketika mamanya terus mengocok penisnya itu.

“Hmm.. stt kamu cepet pinter juga ya Int..” kata Tony memuji anaknya (walaupun masih kaku gerakannya).

“Nah gitu nak.. ngocoknya, aduh ahh.. jangan kenceng-kenceng dong megangnya!” kata Tony kepada putrinya, “Nah.. gitu stt.. hmm.. ya gitu baru bener. Sekarang coba kamu lebih cepet deh ngocoknya.”

Intan pun mulai mempercepat kocokan tangannya di batang kemaluan papanya.

“Ah.. ah.. ah..” Tony hanya dapat menegangkan seluruh tubuhnya demi menahan rasa nikmat yang diberikan putrinya ditambah lagi dilihatnya istrinya masih sibuk mengocok penis putranya.

“Aduh.. stt Mam.. enak banget Mam!! aduh.. ah.. ah.. terus Mam..”

“Gimana yang enak nggak Mama kocokin?” tanya Dewi kepada putranya.

“Ii.. ii. iya Mam enak Mam.. stt.. akhh aduh Mam.. Mam.. Anton.. hmm.. udah dulu Mam Anton mau pipis dulu nih, udah nggak tahan Mam! Mam.. udah Mam!”

Dewi tanpa memperdulikan teriakan anaknya terus mengocok-ngocok penis anaknya dengan cepatnya.

“Udah Ton kalau kamu mau pipis, pipis di sini aja..” ucap Dewi sambil terengah-engah menahan birahinya yang dirasakan mulai meninggi itu dikarenakan melihat suami dan putra mengeliat-geliat keenakan dan semakin lama dirasakan penis anaknya makin membesar dan makin keras denyutannya dan tanpa disadari vaginanya pun mulai terasa lembab dikarenakan mulai merembesnya cairan yang keluar dari dalam vagina Dewi.

“Yaa.. Mama khaan malu Mam sama Papa dan Intan, masa di sini akhh.. Sih.. akh.. ahh..” protes Anton.

“Udah nggak apa-apa nanti Papamu juga kayak kamu,” ujar Dewi dengan sabar.

“Bener nih Mam stt.. Ah.. ah.. akh.. Mam udah Mam.. ah.. hah.. hah.. akhh..”

“Crett.. creett.. crreet..” dan tanpa dapat ditahan lagi Anton mengeluarkan air maninya dengan derasnya kurang lebih empat sampai enam kali semburan mengalir dengan derasnya membasahi perut, dada, tangan mamanya, bahkan sampai sempat mengenai wajah Dewi dikarenakan kuatnya semburan maninya tersebut. Kemudian dengan penuh kasih sayang dibersihkan penis anaknya dengan handuk yang ada.

“Ahh Mam ngilu Mam,” ujar Anton ketika kepala penisnya tersentuh oleh tangan mamanya.

Di dalam hati Dewi bergumam, “Ini anak udah keluar kok kontolnya masih tegak sih persis seperti papanya.”

“Ih.. Papa, Mas Anton kenapa itu?” tanya Intan melihat kakaknya.

“Masmu itu namanya baru mengalami puncak kenikmatan,” jawab Tony.

“Kok Papa kok belum kayak Mas Anton sih, khan Intan udah pegel nih ngocokin terus.”

“Ya.. udah kamu istirahat dulu biar Mamamu yang gantiin, Mam sini coba kamu terusin kasian anakmu udah capek..”

“Hmm Papa nich..” sambil berkata demikian tangan Dewi mulai mengocok penis suaminya.

“Akhh.. akhh.. ah.. ah.. Mam rasanya kok kurang pas ya.. coba Mama pake mulut dong!” kata Tony.

“Intan, Anton kamu liat Mamamu ini ya..” kata Tony kepada anaknya.

“Loh Mam.. kok kontolnya Papa dimasukin ke mulut Mama sih, nggak jijik Mam?” tanya Intan.

“Ya nggak dong yang malah rasanya enak loh, nah kamu liat ya..”

Kemudian penis suaminya pun dilahapnya dengan penuh nafsu, dimainkannya penis suaminya dengan lidahnya di dalam mulut.

“Akhh.. stt.. hmm enak Mam.. Wau Mam.. enak ba.. nget Mam..” teriak Tony ketika penisnya mulai dikocok-kocok dengan mulut Dewi.

“Ahh dijepit dong Mam.. nah gitu terus Mam..” sambil terus meracau tangan Tonya mulai menaik-turunkan kepala istrinya dengan cepat seolah-olah dia sedang menyetubuhi mulut istrinya dan sepuluh menit kemudian, “Mam.. ahkkhhk Mam.. Papa mau keluar nich.. Mam stt.. stt..”

“Creett.. Crreet.. Crreett..” dan akhirnya tertumpahlah seluruh air mani itu di dalam mulut istrinya.

“Ah enak sekali Mam.. Nah Anton gimana kamu tadi rasanya enak nggak dikocokin sama Mamamu?”

“Enak banget Pap,” jawab Anton sambil memperhatikan kelakuan orang tuanya ia terus mengelus-elus kepala penisnya.

“Oke Anton, Intan sekarang gantian Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian.”

“Yap, sekarang Papa yang memberikan pelajaran kepada kalian berdua, coba Mam kamu sekarang berbaring!”

Kemudian Dewi membaringkan tubuhnya yang masih ditutupi oleh gaun tidur di tengah tempat tidur sambil dikelilingi oleh anak-anaknya dan suaminya sendiri duduk di antara selangkangannya.

“Nah anak-anak coba kalian buka baju Mama kalian!” perintah Tony kepada kedua anaknya.

Secara perlahan-lahan kedua tangan anaknya menurunkan tali penahan baju ibunya dari bahunya hingga sebatas perut dan tampaklah kedua payudara ibunya yang besar dengan puting susunya yang mulai menonjol karena menahan birahi sedari tadi.

“Mam, coba kamu ajarin Anton ciuman, biar nanti kalo dia sudah punya pacar, dia sudah tau caranya.”

“Sini sayang, Mama ajarin kamu ya..”

Bersambung ke bagian 02

Tags : cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang,gambar Toket,cerita bugil,cerita nafsu,cerita daun muda,Kisah 18sx,Foto toket gede abg,Cerita setengah baya,memek basah,memek abg,memek gadis,memek tante girang

Kisah Dewasa – Aku dan Tiga Sepupuku

9 Juni 2010 pada 14:07 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Sebelumnya kuperkenalkan diri namaku Rudy tinggi 170 cm berat badan 55 kg umurku sekarang 20 tahun asalku dari Sragen sekarang aku telah masuk jenjang perguruan tinggi negeri di kota Solo.

Pengalaman seks yang pertama kualami terjadi sekitar 4 tahun lalu, tepatnya waktu aku masih duduk di bangku SMU kelas 1 berumur 16 tahun. Karena rumahku berasal dari desa maka aku kost dirumah kakakku. Saat itu aku tinggal bersama kakak sepupuku yang bernama Mbak Fitri berusia 29 tahun yang telah bersuami dan mempunyai 2 orang putri yang masih kecil-kecil, namun di tempat tinggal bukan hanya kami berempat tapi ada 2 orang lagi adik Mbak Fitri yang bernama Wina waktu itu berumur 18 tahun kelas 3 SMK dan adik dari suami Kak Fitri bernama Asih berusia 14 tahun.

Kejadian tersebut terjadi karena seringnya aku mengintip mereka betiga saat mandi lewat celah di dinding kamar mandi. Biarpun salah satu dianatara mereka suadah berumur kepala 3 tapi kondisi tubuhnya sangat seksi dan menggairahkan payudaranya montok, besar dan belahan vaginanya woow..terlihat sangat oh..ooght nggak ku-ku bo..

Saat malam hari saat aku tidur dilantai beralaskan tikar, di ruang tamu yang gelap bersama Mbak Wina, awalnya sich aku biasa-biasa saja tapi setelah lama seringnya aku tidur bersama Mbak Wina maka aku akhirnya tak tahan juga. Malam-malam pertama saat dia tertidur pulas aku cuma berani mencium kening dan membelai rambutnya yang harum. Malam berikutnya aku sudah mulai berani mencium bibirnya yang seksi mungil, tanganku mulai meremas-remas buah dadanya yang padat berisi lalu memijat-mijat vaginanya yang, oh ternyata empuk bagai kue basah yang..oh..oh.., aku melihat matanya masih terpejam pertanda ia masih tertidur tapi dari mulutnya mendesah dengan suara yang tak karuan.

“Ah..ught..hh..hmm” desahan Mbak Wina mulai terdengar.

Tanganku terus bergerilya menjamah seluruh tubuhnya.saat aku menciumi vaginanya yang masih tertutup calana, ia mulai terbangun aku takut sekali jangan-jangan ia akan berteriak atau marah-marah tapi dugaan ku meleset.

Ia malah berkata, “Dik teruskan.. aku sudah lama mendambakan saat-saat seperti ini ayo teruskan saja..”

Bagai mendapat angin segar aku mulai membuka t-shirt yang ia gunakan kini terpampang buah dada yang seksi masih terbungkus BH. BH-nya lalu kubuka dan aku mulai mengulum putingnya yang sudah mengeras gantian aku emut yang kiri dan kanan bergantian.

“Mbak, maafkan aku tak sanggup menahan nafsu birahiku!”

“Nggak apa-apa kok Dik aku suka kok adik mau melekukan ini pada Mbak karena aku belum pernah merasakan yang seperti ini” jawab Mbak Wina.

Setelah puas kupermainkan payudarnya lalu aku mulai membuka rok bawahannya.biarpun kedaan gelap gulita aku tahu tempat vagina yang menggiurkan, terus kubuka CD nya, lalu kuciumi dengan lembut.

“Cup..cup..sret.. srett”, suara jilatan lidahku.

“Ought..ought..terus Dik enak..!!”

Karena takut ketahuan penghuni rumah yang lain aku dengan segera mengangkan kedua kakinya lalu kumasukkan penisku yang mulai tegang kedalam vaginanya yang basah.

“Ehmm..oh..ehh.. mmhh”, rintih kakakku keenakan.

Setelah kira-kira setengah jam aku mulai merasakan kenikmatan yang akan segera memuncak demikian juga dengan dia.

“Crot..cret..crett.. crett”, akhirnya spermaku kukeluarkan di dalam vaginanya.

“Oh..”

Rupanya ia masih perawan itu kuketahui karena mencium bau darah segar.

“Terima kasih Dik kamu telah memuaskan Mbak, Mbak sayang padamu lain kali kita sambung lagi yach?”

“Ok deh mbak”, sahutku.

Setelah selesai memakai pakaian kembali aku dan dia tidur berpelukan sampai pagi. Sebenarnya kejadian malam itu kurang leluasa karena takut penghuni rumah yang lain pada tahu, sehingga suatu ketika kejadian itu aku ulang lagi.

Masih ingat dalam ingatan hari itu minggu pagi, saat Mbak Fitri dan adiknya Asih bersama keuarga yang lain pergi ke supermarket yang tidak terlalu jauh dari rumah kami.Karena keadaan rumah yang sepi yang ada hanya aku dan Mbak Wina, aku mulai menutup seluruh pintu dan jendela. Kulihat Mbak Wina sedang menyeterika dengan diam-diam aku memeluknya dengan erat dari balakang.

“Dik jangan sekarang aku lagi nyetrika tunggu sebentar lagi yach.. sayang..!” pinta Kak Wina.

Tapi aku yang sudah bernafsu nggak memperdulikan ocehannya, segera kumatikan setrika, kuciumi bibirnya dengan ganas.

“Hm..eght.. hmm.. eght..!”

Karena masih dalam posisi berdiri sehingga tak leluasa melakukan cumbuan, aku bopong ia menuju ranjang kamar.

Kubaringkan ia di ranjang yang bersih itu lalu segera kulucuti semua pakaiannya dan pakaian ku hinggas kami berdua telanjang bulat tanpa sehelai benang pun yang menempel. Wow..tubuh kakakku ini memang benar sempurna tinggi 165 cm berat sekitar 50 kg sungguh sangat ideal, payudaranya membusung putih bagaikan salju dengan puting merah jambu dan yang bikin dada ini bergetar dibawah pusarnya itu lho.. bukit kecil kembar ditengahnya mengalir sungai di hiasai semak-semak yang rimbun.

Kami berdua tertawa kecil karena melihat tubuh lawan jenis masing-masing itu terjadi sebab saat kami melakukan yang pertama keadaan sangat gelap gulita tanpa cahaya. Sehingga tidak bias melihat tubuh masing-masing.

Aku mulai menciumi muka tanpa ada yang terlewatkan, turun ke lehernya yang jenjang kukecupi sampai memerah lalu turun lagi ke payudaranya yang mulai mengeras, kujilati payudara gantian kanan kiri dan kugigit kecil bagian putingnya hingga ia menggelinjang tak karuan.

Setelah puas bermain di bukit kembar tersebut aku mulai turun ke bawah pusar, ku lipat kakinya hingga terpampang jelas seonggok daging yang kenyal di tumbuhi bulu yang lebat. Lidahku mulai menyapu bagian luar lanjut ke bagian dinding dalam vagina itu, biji klitorisnya ku gigit pelan sampai ia keenakan menjambak rambutku.

“Ught..ugh..hah oh..oh..”desahan nikmat keluar dari mulut Kak Wina.

Setelah kira-kira 15 menit aku permainkan vaginanya rasanya ada yang membanjir di vaginanya rasanya manis asin campur aduk tak karuan kusedot semua cairan itu sampai bersih, rupanya ia mulai orgasme. Mungkin saking asyiknya kami bercumbu tanpa kami sadari rupanya dari tadi ada yang memperhatikan pergumulan kami berdua, Mbak Fitri dan adik suaminya, Asih sudah berdiri di pinggir pintu. Mungkin mereka pulang berdua tanpa suaminya dan kedua anaknya yang masih mampir ke rumah Pakdhenya mereka ketuk pintu tapi nggak ada sahutan lalu mereka menuju pintu daur yang lupa tak aku kunci. Aku dan Mbak Wina kaget setengah mati, malu takut bercampur menjadi satu jangan-jangan mereka marah dan menceritakan kejadian ini pada orang lain. Tapi yang terjadi sungguh diluar dugaan kami berdua, mereka bahkan ikut nimbrung sehingga kami menjadi berempat.

“Dik main gituan kok kakak nggak di ajak sich kan kakak juga mau, sudah seminggu ini suami kakak nggak ngajak gituan”, ucap Mbak Fitri.

“Ini juga baru mulai kak!” sahutku.

“Mas aku boleh nyoba seks sama Mas?” tanya Asih.

“Boleh”.

Aku dan Kak Wina selanjutnya menyuruh mereka berdua melepas seluruh pakaiannya.

“Ck.. ck..ck..ck..”, guman ku.

Sekarang aku dikerubung 3 bidadari cantik sungguh beruntung aku ini.

Mbak Fitri tubuhnya masih sangat kencang payudaranya putih agak besar kira-kira 36 B vaginanya indah sekali. Sedangkan Asih tubuhnya agak kecil tapi mulus, dadanya sudah sebesar buah apel ukuranya 34 A vaginanya kelihatan sempit baru ditumbuhi bulu yang belum begitu lebat. Pertama yang kuserang adalah Mbak Fitri karena sudah lama aku membayangkan bersetubuh dengannya aku menciumi dengan rakus pentilnya kuhisap dalam-dalam agar air susunya keluar, setelah keluar kuminum sepuasnya rupanya Mbak Wina dan Asih juga kepingin merasakan air susu itu sehingga kami bertiga berebut untuk mendapatkan air susu tersebut, sambil tangan kami berempat saling remas, pegang dan memasukam ke dalam vagina satu sama lain.

Setelah puas dengan permainan itu, aku meminta agar mereka berbaring baris sehingga kini ada 6 gunung kembar yang montok berada di depanku. Aku mulai mengulum susu mereka satu per satu bergantian sampai 6, aku semakin beringas saat kusuruh mereka menungging semua, dari belakang aku menjilati vagina satu persatu rasanya bagai makan biscuit Oreo di jilat terus lidahku kumasukkan ke dalam vagina mereka.

Giliran mereka mengulum penisku bergantian.

“Hoh.. hoo.. hh.. ehmm”, desah mereka bertiga.

Aku yang dari tadi belum orgasme semakin buas memepermainkan payudara dan vagina mereka, posisi kami sekarang sudah tak beraturan. Saling peluk cium jilat dan sebagainya pokok nya yang bikin puas, hingga mereka memberi isyarat bahwa akan sampai puncak.

“Dik aku mau keluar”

“Mas aku juga”

“Aku hampir sampai”, kata mereka bergantian.

“Jangan di buang percuma, biar aku minum!”, pintaku

“Boleh”, kata Mbak Fitri.

Aku mulai memasang posisi kutempelkan mulutku ke vagina mereka satu persatu lalu kuhisap dalam-dalam sampai tak tersisa, segarnya bukan main.

“Srep.., srep”.

Heran, itulah yang ada di benakku, aku belum pernah nge-sex sama mereka kok udah pada keluar, memang mungkin aku yang terlalu kuat.

Karena sudah tidak sabar aku mulai memasukkan penisku de dalam vagina Mbak Wina kugenjot naik turun pinggulku agar nikmat, sekitar 5 menit kemudian aku gantian ke Kak Fitri, biarpun sudah beranak 2 tapi vaginanya masih sempit seperti perawan saja.

“Dik enak.. Uh.. oh..teruss!”, desahnya.

“Emang kok Kak.. hh ehmm..”

“Mas giliranku kapan..?”, rupanya Asih juga sudah tak tahan.

“Tunggu sebentar sayang.”

Sekitar 10 menit aku main sama Kak Fitri sekarang giliran Asih, dengan pelan aku masukkin penisku, tapi yang masuk hanya kepalanya. Mungkin ia masih perawan, baru pada tusukan yang ke 15 seluruh penisku bisa masuk ke liang vaginanya.

“Mas.. sakit.. mas.. oght.. hhohh..”, jerit kecil Asih.

“Nggak apa-apa nanti juga enak, Sih!”, ucapku memberi semangat agar ia senang.

“Benar Mas sekarang nikmat sekali.. oh.. ought..”

Rupanya bila kutinggal ngeseks dengan Asih, Kak Fitri dan Kak Wina tak ketinggalan mereka saling kulum, jilat dan saling memasukkan jari ke vaginanya masing-masing. Posisiku di bawah Asih, di atas ia memutar-mutar pinggulnya memompa naik turun sehingga buah dadanya yang masih kecil terlihat bergoyang lucu, tanganku juga tidak tinggal diam kuremas-remas putingnya dan kusedot, kugigit sampai merah.

Karena sudah berlangsung sangat lama maka aku ingin segera mencapai puncak, dalam posisi masih seperti semula Asih berjongkok di atas penisku, kusuruh Mbak Fitri naik keatas perutku sambil membungkuk agar aku bisa menetek, eh.., bener juga lama-lama air susunya keluar lagi, kuminum manis sekali sampai terasa mual. Mbak Wina yang belum dapat posisi segera kusuruh jongkok di atas mulutku sehingga vaginanya tepat di depan mulutku, dan kumainkan klitorisnya.

Ia mendesah seperti kepedasan.

“Ah.. huah.. hm..!”

Tanganku yang satunya kumasukkan ke vagina Mbak Fitri, kontolku digarap Asih, mulutku disumpal kemaluan Mbak Wina, lengkap sudah.

Kami bermain gaya itu sekitar 30 menit sampai akhirnya aku mencapai puncak kenikmatan.

“Ought.. hmm.. cret.. crot..”

“Enak Mas..!” desah Asih.

Spermaku ku semprotkan kedalam vagina Asih dan keluarlah cipratan spermaku bercampur darah menandakan bahwa ia masih perawan. Kami berempat sekarang telah mencapai puncak hampir bersamaan, lelah dan letih yang kami rasakan.

Sebelum kami berpakaian kembali sisa-sisa sperma di penisku di jilati sampai habis oleh mereka bertiga. Setelah kejadian itu kami selalu mengulanginya lagi bila ada kesempatan baik berdua bertiga maupun berempat.

Namun sekarang kami sudah saling berjauhan sehingga untuk memuaskan nafsu birahiku aku sering jajan di kafe-kafe di kota Solo ini ataupun dengan teman-teman wanita di tempat kuliah yang akrab denganku. Tapi tak satu pun dari mereka yang menjadi pacarku. Nah, bagi teman-teman yang ingin berkenalan silakan kontak emailku. Pasti aku balas.

TAMAT

Tags : Kisah dewasa,cerita dewasa,cerita sex,gadis seksi,cewek telanjang,cerita 17 tahun,cerita sexs,cerita seks,foto telanjang,tante girang, cewek cantik, toket, cewek abg, cerita saru, Cerita Setengah Baya, Cerita Daun Muda, toket montok, Foto Toket Gadis Abg

Kisah Dewasa – Gelora Putri Sulung Tante

8 Juni 2010 pada 14:37 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | Tinggalkan Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Belum lama ini aku kembali bertemu Nana (bukan nama sebenarnya). Ia kini sudah berkeluarga dan sejak menikah tinggal di Palembang. Untuk suatu urusan keluarga, ia bersama anaknya yang masih berusia 6 tahun pulang ke Yogya tanpa disertai suaminya. Nana masih seperti dulu, kulitnya yang putih, bibirnya yang merah merekah, rambutnya yang lebat tumbuh terjaga selalu di atas bahu. Meski rambutnya agak kemerahan namun karena kulitnya yang putih bersih, selalu saja menarikdipandang, apalagi kalau berada dalam pelukan dan dielus-elus. Perjumpaan di Yogya ini mengingatkan peristiwa sepuluh tahun lalu ketika ia masih kuliah di sebuah perguruan tinggi ternama di Yogya. Selama kuliah, ia tinggal di rumah bude, kakak ibunya yang juga kakak ibuku. Rumahku dan rumah bude agak jauh dan waktu itu kami jarang ketemu Nana.

Aku mengenalnya sejak kanak-kanak. Ia memang gadis yang lincah, terbuka dan tergolong berotak encer. Setahun setelah aku menikah, isteriku melahirkan anak kami yang pertama. Hubungan kami rukun dan saling mencintai. Kami tinggal di rumah sendiri, agak di luar kota. Sewaktu melahirkan, isteriku mengalami pendarahan hebat dan harus dirawat di rumah sakit lebih lama ketimbang anak kami. Sungguh repot harus merawat bayi di rumah. Karena itu, ibu mertua, ibuku sendiri, tante (ibunya Nana) serta Nana dengan suka rela bergiliran membantu kerepotan kami. Semua berlalu selamat sampai isteriku diperbolehkan pulang dan langsung bisa merawat dan menyusui anak kami.

Hari-hari berikutnya, Nana masih sering datang menengok anak kami yang katanya cantik dan lucu. Bahkan, heran kenapa, bayi kami sangat lekat dengan Nana. Kalau sedang rewel, menangis, meronta-ronta kalau digendong Nana menjadi diam dan tertidur dalam pangkuan atau gendongan Nana. Sepulang kuliah, kalau ada waktu, Nana selalu mampir dan membantu isteriku merawat si kecil. Lama-lama Nana sering tinggal di rumah kami. Isteriku sangat senang atas bantuan Nana. Tampaknya Nana tulus dan ikhlas membantu kami. Apalagi aku harus kerja sepenuh hari dan sering pulang malam. Bertambah besar, bayi kami berkurang nakalnya. Nana mulai tidak banyak mampirke rumah. Isteriku juga semakin sehat dan bisa mengurus seluruh keperluannya. Namun suatu malam ketika aku masih asyik menyelesaikan pekerjaan di kantor, Nana tiba-tiba muncul.

“Ada apa Na, malam-malam begini.”

“Mas Danu, tinggal sendiri di kantor?”

“Ya, Dari mana kamu?”

“Sengaja kemari.”

Nana mendekat ke arahku. Berdiri di samping kursi kerja. Nana terlihat mengenakan rok dan T-shirt warna kesukaannya, pink. Tercium olehku bau parfum khas remaja.

“Ada apa, Nana?”

“Mas.. aku pengin seperti Mbak Tari.”

“Pengin? Pengin apanya?” Nana tidak menjawab tetapi malah melangkah kakinya yang putih mulus hingga berdiri persis di depanku. Dalam sekejap ia sudah duduk di pangkuanku.

“Nana, apa-apaan kamu ini..” Tanpa menungguku selesai bicara, Nana sudah menyambarkan bibirnya di bibirku dan menyedotnya kuat-kuat. Bibir yang selama ini hanya dapat kupandangi dan bayangkan, kini benar-benar mendarat keras. Kulumanya penuh nafsu dan nafas halusnya menyeruak. Lidahnya dipermainkan cepat dan menari lincah dalam rongga mulutku. Ia mencari lidahku dan menyedotnya kuat-kuat. Aku berusaha melepaskannya namun sandaran kursi menghalangi. Lebih dari itu, terus terang ada rasa nikmat setelah berbulan-bulan tidak berhubungan intim dengan isteriku. Nana merenggangkan pagutannya dan katanya, “Mas, aku selalu ketagihan Mas. Aku suka berhubungan dengan laki-laki, bahkan beberapa dosen telah kuajak beginian. Tidak bercumbu beberapa hari saja rasanya badan panas dingin. Aku belum pernah menemukan laki-laki yang pas.”

Kuangkat tubuh Nana dan kududukkan di atas kertas yang masih berserakan di atas meja kerja. Aku bangkit dari duduk dan melangkah ke arah pintu ruang kerjaku. Aku mengunci dan menutup kelambu ruangan.

“Na.. Kuakui, aku pun kelaparan. Sudah empat bulan tidak bercumbu dengan Tari.”

“Jadikan aku Mbak Tari, Mas. Ayo,” kata Nana sambil turun dari meja dan menyongsong langkahku.

Ia memelukku kuat-kuat sehingga dadanya yang empuk sepenuhnya menempel di dadaku. Terasa pula penisku yang telah mengeras berbenturan dengan perut bawah pusarnya yang lembut. Nana merapatkan pula perutnya ke arah kemaluanku yang masih terbungkus celana tebal. Nana kembali menyambar leherku dengan kuluman bibirnnya yang merekah bak bibir artis terkenal. Aliran listrik seakan menjalar ke seluruh tubuh. Aku semula ragu menyambut keliaran Nana. Namun ketika kenikmatan tiba-tiba menjalar ke seluruh tubuh, menjadi mubazir belaka melepas kesempatanini.

“Kamu amat bergairah, Nana..” bisikku lirih di telinganya.

“Hmm.. iya.. Sayang..” balasnya lirih sembari mendesah.

“Aku sebenarnya menginginkan Mas sejak lama.. ukh..” serunya sembari menelan ludahnya.

“Ayo, Mas.. teruskan..”

“Ya Sayang. Apa yang kamu inginkan dari Mas?”

“Semuanya,” kata Nana sembari tangannya menjelajah dan mengelus batang kemaluanku. Bibirnya terus menyapu permukaan kulitku di leher, dada dan tengkuk. Perlahan kusingkap T-Shirt yang dikenakannya. Kutarik perlahan ke arah atas dan serta merta tangan Nana telah diangkat tanda meminta T-Shirt langsung dibuka saja. Kaos itu kulempar ke atas meja. Kedua jemariku langsung memeluknya kuat-kuat hingga badan Nana lekat ke dadaku. Kedua bukitnya menempel kembali, terasa hangat dan lembut. Jemariku mencari kancing BH yang terletak di punggungnya. Kulepas perlahan, talinya, kuturunkan melalui tangannya. BH itu akhirnya jatuh ke lantai dan kini ujung payudaranya menempel lekat ke arahku. Aku melorot perlahan ke arah dadanya dan kujilati penuh gairah. Permukaan dan tepi putingnya terasa sedikit asin oleh keringat Nana, namun menambah nikmat aroma gadis muda.

Tangan Nana mengusap-usap rambutku dan menggiring kepalaku agar mulutku segera menyedot putingnya. “Sedot kuat-kuat Mas, sedoott..” bisiknya. Aku memenuhi permintaannya dan Nana tak kuasa menahan kedua kakinya. Ia seakan lemas dan menjatuhkan badan ke lantai berkarpet tebal. Ruang ber-AC itu terasa makin hangat. “Mas lepas..” katanya sambil telentang di lantai. Nana meminta aku melepas pakaian. Nana sendiri pun melepas rok dan celana dalamnya. Aku pun berbuat demikian namun masih kusisakan celana dalam. Nana melihat dengan pandangan mata sayu seperti tak sabar menunggu. Segera aku menyusulnya, tiduran di lantai. Kudekap tubuhnya dari arah samping sembari kugosokkan telapak tanganku ke arah putingnya. Nana melenguh sedikit kemudian sedikit memiringkan tubuhnya ke arahku. Sengaja ia segera mengarahkan putingnya ke mulutku.

“Mas sedot Mas.. teruskan, enak sekali Mas.. enak..” Kupenuhi permintaannya sembari kupijat-pijat pantatnya. Tanganku mulai nakal mencari selangkangan Nana. Rambutnya tidak terlalu tebal namun datarannya cukup mantap untuk mendaratkan pesawat “cocorde” milikku. Kumainkan jemariku di sana dan Nana tampak sedikit tersentak. “Ukh.. khmem.. hss.. terus.. terus,” lenguhnya tak jelas. Sementara sedotan di putingnya kugencarkan, jemari tanganku bagaikan memetik dawai gitar di pusat kenikmatannya. Terasa jemari kanan tengahku telah mencapai gumpalan kecil daging di dinding atas depan vaginanya, ujungnya kuraba-raba lembut berirama. Lidahku memainkan puting sembari sesekali menyedot dan menghembusnya. Jemariku memilin klitoris Nana dengan teknik petik melodi.

Nana menggelinjang-gelinjang, melenguh-lenguh penuh nikmat. “Mas.. Mas.. ampun.. terus, ampun.. terus ukhh..” Sebentar kemudian Nana lemas. Namun itu tidak berlangsung lama karena Nana kembali bernafsu dan berbalik mengambil inisitif. Tangannya mencari-cari arah kejantananku. Kudekatkan agar gampang dijangkau, dengan serta merta Nana menarik celana dalamku. Bersamaan dengan itu melesat keluar pusaka kesayangan Tari. Akibatnya, memukul ke arah wajah Nana. “Uh.. Mas.. apaan ini,” kata Nana kaget. Tanpa menunggu jawabanku, tangan Nana langsung meraihnya. Kedua telapak tangannya menggenggam dan mengelus penisku.

“Mas.. ini asli?”

“Asli, 100 persen,” jawabku.

Nana geleng-geleng kepala. Lalu lidahnya menyambar cepat ke arah permukaan penisku yang berdiameter 6 cm dan panjang 19 cm itu, sedikit agak bengkok ke kanan. Di bagian samping kanan terlihat menonjol aliran otot keras. Bagian bawah kepalanya, masih tersisa sedikit kulit yang menggelambir. Otot dan gelambiran kulit itulah yang membuat perempuan bertambah nikmat merasakan tusukan senjata andalanku.

“Mas, belum pernah aku melihat penis sebesar dan sepanjang ini.”

“Sekarang kamu melihatnya, memegangnya dan menikmatinya.”

“Alangkah bahagianya MBak Tari.”

“Makanya kamu pengin seperti dia, kan?”

Nana langsung menarik penisku. “Mas, aku ingin cepat menikmatinya. Masukkan, cepat masukkan.”

Nana menelentangkan tubuhnya. Pahanya direntangkannya. Terlihat betapa mulus putih dan bersih. Diantara bulu halus di selangkangannya, terlihat lubang vagina yang mungil. Aku telah berada di antara pahanya. Exocet-ku telah siap meluncur. Nana memandangiku penuh harap.

“Cepat Mas, cepat..”

“Sabar Nana. Kamu harus benar-benar terangsang, Sayang..”

Namun tampaknya Nana tak sabar. Belum pernah kulihat perempuan sekasar Nana. Dia tak ingin dicumbui dulu sebelum dirasuki penis pasangannya. “Cepat Mas..” ajaknya lagi. Kupenuhi permintaannya, kutempelkan ujung penisku di permukaan lubang vaginanya, kutekan perlahan tapi sungguh amat sulit masuk, kuangkat kembali namun Nana justru mendorongkan pantatku dengan kedua belah tangannya. Pantatnya sendiri didorong ke arah atas. Tak terhindarkan, batang penisku bagai membentur dinding tebal. Namun Nana tampaknya ingin main kasar. Aku pun, meski belum terangsang benar, kumasukkan penisku sekuat dan sekencangnya. Meski perlahan dapat memasukirongga vaginanya, namun terasa sangat sesak, seret, panas, perih dan sulit. Nana tidak gentar, malah menyongsongnya penuh gairah.

“Jangan paksakan, Sayang..” pintaku.

“Terus. Paksa, siksa aku. Siksa.. tusuk aku. Keras.. keras jangan takut Mas, terus..” Dan aku tak bisa menghindar. Kulesakkan keras hingga separuh penisku telah masuk. Nana menjerit, “Aouwww.. sedikit lagi..” Dan aku menekannya kuat-kuat. Bersamaan dengan itu terasa ada yang mengalir dari dalam vagina Nana, meleleh keluar. Aku melirik, darah.. darah segar. Nana diam. Nafasnya terengah-engah. Matanya memejam. Aku menahan penisku tetap menancap. Tidak turun, tidak juga naik. Untuk mengurangi ketegangannya, kucari ujung puting Nana dengan mulutku. Meski agak membungkuk, aku dapat mencapainya. Nana sedikit berkurang ketegangannya.

Beberapa saat kemudian ia memintaku memulai aktivitas. Kugerakkan penisku yang hanya separuh jalan, turun naik dan Nana mulai tampak menikmatinya. Pergerakan konstan itu kupertahankan cukup lama. Makin lama tusukanku makin dalam. Nana pasrah dan tidak sebuas tadi. Ia menikmati irama keluar masuk di liang kemaluannya yang mulai basah dan mengalirkan cairan pelicin. Nana mulai bangkit gairahnya menggelinjang dan melenguh dan pada akhirnya menjerit lirih, “Uuuhh.. Mas.. uhh.. enaakk.. enaakk.. Terus.. aduh.. ya ampun enaknya..” Nana melemas dan terkulai. Kucabut penisku yang masih keras, kubersihkan dengan bajuku. Aku duduk di samping Nana yang terkulai.

“Nana, kenapa kamu?”

“Lemas, Mas. Kamu amat perkasa.”

“Kamu juga liar.”

Nana memang sering berhubungan dengan laki-laki. Namun belum ada yang berhasil menembus keperawanannya karena selaput daranya amat tebal. Namun perkiraanku, para lelaki akan takluk oleh garangnya Nana mengajak senggama tanpa pemanasan yang cukup. Gila memang anak itu, cepat panas.

Sejak kejadian itu, Nana selalu ingin mengulanginya. Namun aku selalu menghindar. Hanya sekali peristiwa itu kami ulangi di sebuah hotel sepanjang hari. Nana waktu itu kesetanan dan kuladeni kemauannya dengan segala gaya. Nana mengaku puas.

Setelah lulus, Nana menikah dan tinggal di Palembang. Sejak itu tidak ada kabarnya. Dan, ketika pulang ke Yogya bersama anaknya, aku berjumpa di rumah bude.

“Mas Danu, mau nyoba lagi?” bisiknya lirih.

Aku hanya mengangguk.

“Masih gede juga?” tanyanya menggoda.

“Ya, tambah gede dong.”

Dan malamnya, aku menyambangi di hotel tempatnya menginap. Pertarungan pun kembali terjadi dalam posisi sama-sama telah matang.

“Mas Danu, Mbak Tari sudah bisa dipakai belum?” tanyanya.

“Belum, dokter melarangnya,” kataku berbohong.

Dan, Nana pun malam itu mencoba melayaniku hingga kami sama-sama terpuaskan.

TAMAT

Tags : Kisah dewasa,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,tante telanjang, tante girang, foto telanjang, tante bugil,gambar lelaki,gambar perempuan,gambar orang,gambar payudara,gambar gadis,gambar penis,gambar memek,gambar perawan,gambar seksi,gambar telanjang

Kisah Dewasa – Asmara Dewi Laut

7 Juni 2010 pada 11:31 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , , , , , , , , ,

Pada suatu hari aku bersama temanku, Siska sedang bersantai-santai di pantai Carita. Kami ingin menikmati keindahan pantai dan menunggu terbenamnya matahari. Aku dan Siska sudah lama berkenalan karena kami satu kelas di Fakultas MIPA tetapi beda jurusan. Kalau Siska berasal dari jurusan Fisika sedangkan aku aberasal dari jurusan Matematika.

Setelah bersantai-santai kami berjalan-jalan menyusuri pantai sambil menikmati indahnya ombak yang saling berkejar-kejaran di permukaan laut. Saat kami jalan-jalan tiba-tiba kami melihat ada seekor ikan berwarna keemasan yang sedang megap-megap di suatu kubangan kecil. Lalu kami menghampiri ikan itu dan aku memegangnya. Sesaat setelah aku pegang ikan itu suatu keanehan terjadi, ikan itu berkedip-kedip dan mengeluarkan air mata seperti menangis.

“Wah, ikan ini aneh sekali. Kok bisa berkedip-kedip ya?”

“Iya ya, itu bukan ikan sembarangan atau jangan-jangan itu ikan siluman.”

“Mungkin pendapatmu betul juga, Sis. Soalnya seumur-umur aku belum pernah melihat ada ikan bisa berkedip-kedip bahkan menangis.”

“Sebaiknya taruh saja ikan itu di laut, Yas. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak-tidak kalau kita membawa ikan ini.”

Setuju atas saran temanku akhirnya aku berjongkok untuk melepaskan ikan itu ke laut. Kemudian hal aneh terjadi lagi, setelah aku lepas, kami melihat ikan itu melompat-lompat setinggi kurang lebih 10 meter sebanyak 7 kali.

Aku pun berdecak kagum.

“Wah, luar biasa baru kali ini aku melihat ikan bisa melompat setinggi itu. Mungkin pendapatmu benar juga ya, Sis. Ikan itu mungkin ikan siluman.”

Kami cukup lama terpana melihat keanehan tersebut. Setelah terdiam cukup lama akhirnya Siska membuka pembicaraan.

“Yas, kamu mau ikut aku nggak ke Kalimantan pas liburan nanti, sekalian berkenalan dengan orang tua dan nenekku?”

Aku berpikir sejenak.

“Ya, boleh juga sekalian aku mau menikmati suasana di luar Jawa.”

Setelah kami berbincang-bincang cukup lama, tak lama kemudian matahari pun terbenam dan kami pun pulang ke rumah masing-masing.

Saat liburan yang dinantikan pun tiba. Aku bersama Siska pergi ke Kalimantan dengan menggunakan kapal laut. Kami mendapatkan tempat di dek 3.Dan mendapatkan pinjaman kasur lipat yang merupakan fasilitas dari pihak kapal. Kapal itu berangkat dari Tanjung Priok sekitar pukul 6 sore yang kira-kira akan tiba di Kalimantan 36 jam kemudian. Tak terasa waktu telah menunjukkan pukul 10 malam dan kami pun memgantuk setelah ngobrol cukup lama.

Tak lama kemudian aku terbangun dan merasakan gelisah. Kemudian aku berjalan-jalan di sekitar kapal tetapi aku melihat semua penumpang di kapal ini tertidur pulas. Aku berjalan sendirian di kapal itu. Sampai aku berniat untuk pergi menuju pinggir kapal untuk melihat-lihat air laut. Kemudian tibalah aku di pinggir kapal tetapi sesaat setelah itu aku merasakan ada sepasang tangan kokoh yang mengangkatku dan melemparkanku ke laut. Pada saat itu aku tak bisa berbisa apa-apa. Dan aku tercebur ke laut sambil berteriak-teriak minta tolong, tetapi hal iti sia-sia karena tak seorang pun yang mendengar teriakanku. Karena percuma saja aku berteriak kemudian aku mencari-cari benda di sekitarku untuk di jadikan pelampung. Dan lagi-lagi usahaku sia-sia karena permukaan laut itu sangat bersih dan tak di jumpai benda apapun untuk di jadikan pelampung dan kapal yang aku tumpangi semakin jauh dari pandanganku. Setelah semuanya sia-sia akhirnya aku kelelahan dan tak sadarkan diri.

Pada saat aku siuman aku mendapatkan diriku berada di kamar yang sangat indah dan mewah dan aku terbaring di sebuah dipan berukir indah dengan tilam yang tebal dan empuk serta bersepreikan kain sutera halus yang dihiasi dengan benang dari emas. Saat aku bangun aku menjumpai seorang wanita yang sangat cantik luar biasa yang mengenakan mahkota emas di kepalanya dan memakai pakaian seorang ratu yang dihiasi dengan emas intan permata yang melekat di bagian tertentu.

“Di mana aku ini dan siapakah anda?”

“Sekarang engkau berada di istanaku dan akulah penguasa di isatana ini. Kalau engkau ingin tahu namaku panggil saja aku Asmarani dan siapakah namamu?” Tanya Asmarani seraya mengulurkan tangannya.

Aku sangat terpesona memandang kecantikannya yang tak dapat di tandingi oleh seluruh wanita cantik di dunia ini. Kemudian sambil mengulurkan tanganku aku memperkenalkan diri kepadanya.

“Namaku Yasir dan aku masih kuliah. Lalu mengapa engkau membawaku kesini?”

“Aku membawamu kesini karena engkaulah yang telah menolongku.”

“Kita kan baru berkenalan bagaimana caranya aku telah menolongmu?” tanyaku dengan heran.

“Kau masih ingat saat engkau bersama temanmu di pantai Carita dan menemukan seekor ikan yang megap-megap?”

Kemudian aku berpikr sejenak.

“Ya, saya ingat menemukan seekor ikan di pantai itu. Lalu apa hubungannya denganmu?” tanyaku.

“Karena akulah ikan itu.”

Aku sangat terkejut mendengar pengakuannya.

“Bagaimana ceritanya engkau menjadi seekor ikan?”

“Pada intinya begini, suatu saat iblis pengusa laut Cina Selatan ingin merampas daerah kekusaanku. Kemudian aku bertarung dengannya dan berhasil mengalahkan iblis tersebut tetapi setelah itu aku kehabisan tenaga sehingga tidak dapat berjalan menuju ke laut. Maka dari itu aku berubah menjadi ikan dengan harapan ada orang yang mau memindahkanku ke laut. Dan saat itu aku punya nazar barang siapa yang menaruh ikan itu ke laut jika dia laki-laki maka akan kujadikan pendamping hidupku.”

Aku sangat terkejut mendengar ucapannya pada kalimat terakhir.

“Berarti aku akan menjadi suamimu. Dan setelah menjadi suamimu apakah aku bisa kembali ke dunia?”

“Bisa, tetapi setelah engkau kembali ke dunia aku harap engkau menjengukku di sini secara rutin.”

Akhirnya aku pun menyetujui permintaannya. Setelah itu kami pun keluar kamar untuk melaksanakan akad nikah di sekitar istana tersebut. Saat diluar kamar aku sangat mengagumi kemegahan dan keindahan istana itu. Tak ada satu istanapun di dunia ini yang dapat menandingi istana milik Asmarani.

Pelaksanaan akad nikah berjalan dengan lancar dan disertai dengan pesta yang sangat mewah dan meriah selama sebulan penuh. Kami pun duduk di singgasana pelaminan yang sangat indah sambil menikmati hiburan yang di selenggarakan oleh istana.

Setelah cukup lama menikmati hiburan tersebut Asmarani menggandengku untuk menuju ke kamar pengantin yang telah di persiapkan semenjak pesta di mulai. Akhirnya kami tiba di kamar pengantin dan Asmarani mengunci pintu kamar.

Aku berdecak kagum atas keindahan dan kemewahan kamar pengantin itu. Kamar yang cukup luas bahkan lebih luas daripada rumah kontrakanku dan aroma wewangian kamar yang sangat harum semerbak.

Kemudian Asmarani membimbingku untuk menuju ke ranjang pengantin. Aku kembali kagum atas keindahan ranjang pengantin itu. Ranjang itu bersepreikan kain sutera halus mengkilat dan berwarna merah muda dan dihiasi dengan aneka ragam bunga surgawi.

“Hai Yasir, sekarang kita telah resmi menjadi suami istri.”

“Ya, Aku telah resmi menjadi suamimu.”

“Kalau begitu ayolah tunggu apalagi?”

Kemudian aku mendekati Aamarani dan duduk berhadapan diatas ranjang pengantin. Aku menatapnya sambil membelai-belai rambutnya yang panjang hitam mengkilap dan sangat bagus sekali.

“Asmarani..

“Ya?”

“Rambutmu bagus sekali.”

“Ah, Yasir. Nanti dari ujung rambut sampai ujung kaki diriku semuanya akan menjadi milikmu karena aku resmi menjadi istrimu.”

Kami terdiam sejenak.

“Yasir..

“Ya?”

“Apakah engkau mencintaiku?”

“Ya, selain kecantikanmu tak ada yang dapat menandingi, engkau telah resmi menjadi istriku. Makanya aku sangat mencintaimu.”

“Sungguh?”

“Ya.”

Kami saling menatap dan aku tahu apa yang sangat diharapkan oleh Asmarani. Lalu aku mendekati wajahnya dan melabuhkan ciuman ke bibirnya yang lembut itu. Dan Asmarani pun menyambut ciuman itu dengan hangat. Kemudian kami saling melumat bibir, saling memilin lidah dan saling menggelitik di rongga mulut masing-masing. Hingga kami larut dalam ciuman yang cukup panjang. Asmarani begitu agresif dalam permainan itu, membuat nafsu birahiku sedikit memuncak. Dan kami saling melepas ciuman itusetelah hampir kehabisan nafas dan terengah-engah.

Kami saling menarik nafas dan menghempaskannya berlahan.

“Ahh..!desah Asmarani.

Lalu aku merebahkan tubuh Asamarani dan memeluknya di atas ranjang pengantin. Dan Asmarani pun balas memelukku dengan hangat.

“Yasir..

“Ya?”

“Aku sangat bahagia berada di pelukanmu.”

“Oh ya?”

“Ya, aku tak mau lepas dari pelukan hangatmu.”

“Tidak, sayang. Aku tak akan melepaskan pelukanku yang membuatmu begitu hangat.”

Kami saling menatap dan saling melabuhkan ciuman lagi. Kali ini cumbuan begitu dahsyat dan keduanya melepaskan pakaian. Asmarani melepaskan pakaianku dan aku melepaskan pakaian pengantin Asmarani beserta atribut keratuannya. Kami sama-sama membiarkan tubuh telanjang tanpa sehelai benangpun yang melekat, hingga dalam beberapa saat saja kedua pakaian pengantin kami sudah berserakan di atas permadani yang sangat indah.

Asmarani sangat menikmati sentuhan-sentuhan bibirku, dan berulang kali aku mencumbunya dengan bibirku. Setelah itu aku mengalihkan ciuman ke leher jenjang Asmarani, menjilati, mencium di balik telinga, dan lidahku menggelitik di lubang telinganya yang bersih dan harum, Asmarani mendesah karena kenikmatan yang menggelora dalam tubuhnya mengalir deras.

“Ouuhh..”desah Asmarani.

Aku mengalihkan ciuman agak ke bawah dan menatap dua buah payudara yang lembut bagai salju dan masih kencang, meremas dengan tangan secara berlahan dan mulutku mencucup puting susu yang mungil yang membuatku gemas untuk mempermainkannya. Asmarani makin menggelinjang dan menggeliat-geliat.

“Oouuhh..” desah Asmarani lirih.

Lalu aku menjilati seluruh tubuhnya yang putih mulus tanpa cacat itu, hingga sampai ke bawah pusar dan menatap vagina Asmarani yang di tumbuhi bulu-bulu lembut. Aku terus menatap vaginanya yang belum di jamah oleh siapapun, dan baru kali ini Asmarani menyerahkan kesuciannya kepadaku yang telah resmi menjadi suaminya.

“Oh Yasir lakukanlah, aku sudah tak tahan lagi.”

Lalu aku menelentangkan tubuh Asamarani di atas ranjang pengantin. Dan dan aku siap menghujamkan senjata andalanku yang sudah menegang ke dalam gua pribadi Asmarani yang sudah lembab.

Kemudian aku merangkak naik dan menindih tubuh Asmarani yang susah sangat bergairah itu. Kemudian Asmarani membantu penis milikku untuk masuk ke vaginanya dengan nerenggangkan pahanya., tetapi senjata milikku itu tidak bisa langsung menembus benteng bertahanannya, dan sesekali terpeleset. Asmarani memang masih suci dan belum pernah melakukan itu, dan wajar jika aku agak kesulitan memasukkan senjataku ke gua pribadinya.

Setelah berkali-kali mencoba dengan bersusah payah akhirnya senjata andalanku bisa melesak ke dalam secara perlahan-lahan.

“Ouuhh..” desah Assamarani lirih karena merasa sedikit nyeri pada kedua pahanya.

Kami berhenti sejenak saat kepala penisku sudah berada dirahimnya. Lalu dengan gerakan perlahan aku menggerakkan pantat naik turun teratur, dan Asmarani membantu dengan menggoyangkan pantatnya. Cukup lama kami memacu dalam birahi kenikmatan di atas ranjang pengantin itu. Hal itu terus kami lakukan sampai suatu saat Asmarani yang berada di bawah tubuhku dengan memeluknya sangat ketat mendorongku ke samping sampai aku terlentang diatas ranjang pengantin itu, kemudian Asmarani menindih tubuhku dan memeluknya dengan ketat seakan tak mau lepas, dalam posisi itu kami kembali memacu dalam birahi dan Asmarani menggyangkan pantatnya sambil melumat bibirku.

Kami melakukan itu berulang-ulang selama semalam suntuk sampai kami berkeringat dan puncak kepuasan akan kami rengkuh. Kami melenguh puas sambil terkulai di atas ranjang pengantin yang sepreinya sudah acak-acakan tak karuan karena kebinalan Asmarani dan aku juga. Dan saat itu letupan spermaku meleleh karena cukup lama menyetubuhi Asamarani, istriku. Serta kami sama-sama merasakan kepuasan dan kenikmatan yang begitu dahsyat yang baru kami dapatkan.

TAMAT

Tags :Kisah dewasa,cerita sex, cerita sexs, cerita seks, foto bugil, mahasiswi bugil, ngentot, memek, cewek telanjang,melayu telanjang,gadis bali bugil,gambar,lalat,gadis bogel,tante girang bugil,cerita bugil,17 tahun telanjang,bogel,ngentot,memek,indocari,gadis ngentot,gadis mandi,wanita berjilbab

Halaman Berikutnya »

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.