Kisah Dewasa – Cewek Misterius 02

16 Mei 2010 pada 14:14 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , ,

Sambungan dari bagian 01

Kulepaskan mulutku dari putingnya dan jariku dari vaginanya. Ia tersentak kaget seakan tak ingin sedetik pun melepaskan kenikmatan ini. Maka dengan cepat aku berpindah posisi sehingga kepalaku tepat berada di kedua pahanya yang telah lebar mengangkang dengan pantatnya yang seakan menantangku. Kujilat seluruh vaginanya dari bawah ke atas, lalu dengan lembut kumainkan bibir vaginanya dengan ujung lidahku, lalu kembali kujilat dari bawah ke atas. “Ohh.. teruss.. Maass..” desahnya nikmat.

Kuangkat pantatnya dan kuremas dengan kedua tanganku, sambil lidahku menjilati lubang pantatnya, lalu bergerak menyapu vaginanya, lalu dengan lembut dan nakal, kujilati klitorisnya yang telah mengacung. “Aaaggaahh.. Maass.. teruss.. Maass..” Erangan tak henti ini membuatku semakin bernafsu dan semakin liar menjilati klitoris dan vaginanya. Menjawab permohonannya, kumasukkan lidahku ke dalam vaginanya dan kugerakkan menari dengan liar di dalam vaginanya sambil mulutku menghisap bibir vaginanya dan klitorisnya. Mbak Lasmini pun menjawab keganasan lidahku dengan semakin cepat dan bernafsu memaju-mundurkan pantatnya membuat vaginanya menghantam wajahku. Sungguh liar dan nakal cewek cantik ini.

“Ohh.. ohh.. ohh.. Mas.. oohh..”

Semakin liar Mbak Lasmini mengerang dan menghantamkan vaginanya pada mulutku, semakin bernafsu aku memainkan vaginanya dengan lidahku, sementara gairahku yang terus terpancing membuat penisku kembali menegang keras.

“Ah.. ah.. ah.. Mass.. aakkhh!”

Mendadak tubuhnya menggelinjang hebat dan jeritan keras menyertai sentakan terakhir pantatnya maju menancapkan vaginanya pada mulutku yang menghisap lendir orgasme yang meleleh dari vagina Mbak Lasmini, sementara pahanya kaku menjepit kepalaku dengan erat dan kedua tangannya yang menahan posisi tubuhnya mencengkeram sprei dengan erat. Manis dan nikmat kurasakan lendir orgasmenya.

“Nnngghh.. nikmat..ohh..” dia mengerang sambil terus mempertahankan jepitan kakinya pada kepalaku dan tekanan vaginanya pada mulutku yang terus menghisap bibir vagina dan klitorisnya.

“Ohh..Mass..” mendadak tubuhnya melemas dan jatuh di kasur, melepas kepalaku dari jepitannya. Aku memanjat tubuhnya dan mengecup bibirnya dengan lembut yang disambut dengan pagutan liar lidah dan bibir bernafsu. Kami berciuman dan saling melilit lidah beberapa saat hingga akhirnya ia melepas bibirku dengan napas terengah-engah dan kami berpelukan erat.”Hhh, Mas Sonyy.. nikmat, Mas..”

Kami berpelukan beberapa saat, sambil aku dengan lembut dan perlahan-lahan mulai menggesekkan penisku yang telah kembali menegang. Ia lalu melepaskan pelukannya dan turun dari ranjang. Aku melihat tubuhnya yang indah dengan rambutnya yang panjang dan tubuhnya yang putih dan sexy. Tak lama dia kembali membawa sebotol air dingin dan sebuah gelas. Ia mengisi gelas dan memberikannya padaku. “Ayo Mas Son, airnya diminum, dengan air ini Mas akan menjadi kekasihku selamanya. Di manapun Mas berada, saya akan di samping Mas. Mas cukup panggil namaku maka saya akan datang.. ingat itu ya Mas..” katanya agak sedikit aneh tapi tidak kuhiraukan. Kuambil gelas dari tangannya lalu meminum air dingin itu. Kutarik tubuh Mbak Lasmini hingga berbaring, lalu kutempel bibirnya dengan bibirku. Ia membuka mulutnya dan kugigit lidahnya yang menjulur ke mulutku. Ia terkejut, namun ia tersenyum, “Mas Sony nakal ah..” Wajahku masih di atas wajahnya, dan dengan nakal kuteteskan air liurku ke bibirnya. Ia kembali tersentak, namun dengan nakal menerima air liurku dan mempermainkannya dengan lidahnya sebelum menghisap seluruhnya ke dalam mulutnya.

“Nakal nih! Bikin saya tambah terangsang aja!” katanya sambil mencubit hidungku. Kami sama-sama tersenyum, lalu kembali saling berciuman beberapa saat hingga ia membuka kakinya hingga terkangkang sambil meraba-raba penisku yang sudah tegang itu di depan selangkangannya.

“Mas, ayo dong.. Masukin lagi.. nggak tahan nich..”

“Oke.. sayang..”

Sambil berkata begitu, kutekan penisku yang dituntun oleh tangannya ke bibir vaginanya yang ternyata telah kembali basah oleh lendirnya.

“Ssllpp..” dengan mudah seluruh penisku masuk tertelan oleh liang vaginanya. Kugerakkan pantatku maju-mundur perlahan sambil menikmati gesekan dinding vaginanya yang basah berlendir itu.

“Hhh.. mmhh.. Mini sayang.. hhmm..”

“Ohh, Mas Sony.. mmhh..”

Sambil terus menggerakkan pantat maju-mundur seirama sehingga kenikmatan persetubuhan terasa dengan lembut oleh kami berdua, kami pun berciuman dengan lembut dan tidak liar seperti tadi. Kecupan dan hisapan pada bibirnya benar-benar kunikmati dengan lembut seirama dengan sodokan lembut penisku pada vaginanya.

“Hhh. hh. hh..”

“Mmmhh.. Mbak, I Love You, ohh..”

“Ohh, Mas.. ohh, Minii.. juuggaa.. ohh.. teerruuss.. Maass..”

“Oh Mbak.. ohh.. hngk.. hngk.. hngk..”

“Oh Sayanghh.. sayanghh.. terus sayangghh.. ohh..”

Semakin lama, semakin liar kami saling menyerang satu sama lain. Pantat kami sama-sama maju-mundur semakin cepat dan keras. Kuremas buah dadanya dan kujilati sekali-sekali sementara dia menjambak rambutku. Kedua kakinya melingkari pahaku seakan ingin membantu gerakan pantatku agar sodokan penisku menancap semakin keras dan dalam pada vaginanya.

“Ohh.. Mass.. teruuss.. ohh..”

“Ohh.. “

Gerakan pantat kami sudah semakin liar dan cepat, dan tubuhnya pun terbanting-banting lepas kendali di atas kasur dengan mata terpejam rapat. Mendadak ia menggigit bibir sesaat lalu melepasnya dengan sebuah pekikan kecil.

“Akhh! Maass.. Minii.. ngghhaak tahh.. aahh.. aahh!” Kembali jeritan panjangnya menyertai sentakan pantatnya yang liar dan keras menancapkan penisku sedalam-dalamnya pada vaginanya, sementara tubuhnya dengan liar tersentak bangkit dari posisi tidur menjadi setengah duduk dan tangannya menarik pantatku sekuat tenaga hingga penisku benar-benar menancap sedalam-dalamnya di dalam vaginanya yang berkontraksi dengan liar beberapa detik sebelum akhirnya meledakkan orgasme hebat yang melepas tumpahan demi tumpahan lendir orgasme. “Aaahh..” Tubuh Mbak Lasmini mengejang hebat dan kepalanya terlempar ke belakang dengan liar sementara tangannya yang kiri meremas pantatku dengan keras hingga kukunya menancap di pantatku. Tanpa tersadar dia menggigit dadaku hingga keluar darah sedikit.

“Mass.. Sonn.. ohh..”

Pemandangan liar menggairahkan di depan mataku ini memancing ledakan kenikmatan dalam tubuhku yang menyerbu ke batang penisku yang seakan tersumbat itu. “Ohh.. akhh..” dan pertahananku pun jebol juga. “Crraatt.. Crriitt.. Crroott..” semprotan demi semprotan air mani kental dan panas kembali muncrat dari penisku, memenuhi vaginanya hingga begitu penuh dan meleleh keluar membasahi paha kami berdua. Aku memeluk erat tubuhnya yang telah basah kuyup oleh keringat kami berdua dan kuhisap dadanya dengan tak terkendali sehingga kembali tercetak cupang membiru di atas putingnya. “Crraatt!” Dengan muncratan terakhirku, aku pun melemas dan kami ambruk bersama-sama di atas kasur. Aku terasa sangat lemas, sehingga aku pun menjatuhkan diri di samping Mbak Lasmini yang juga telah tergolek lemas.

Kami diam tergeletak beberapa saat dengan napas tersengal-sengal. Lalu aku memandang Mbak Lasmini yang menggairahkan itu dan membelai-belai rambutnya. Dia pun menoleh memandangku dan kami sama-sama tersenyum bahagia. Lalu, kami pun berbaring berpelukan.

Sekilas kulihat jam dinding menunjukkan waktu pukul 04:30 WIB. aku hanya punya waktu sedikit lagi untuk tidur. Kupeluk erat-erat tubuh Mbak Lasmini dan kulihat dia tidur pulas di sampingku. Tak terasa, aku pun tertidur.

Namun baru sekelumit, pintu diketok dari luar. Aku segera bangkit dan turun dari ranjang dan membuka pintu. Aku sudah tahu, pastilah si Andrey atau Erik yang mengetuk pintu, sebab hari sudah pagi dan kami harus bergegas pulang. Ternyata memang si Andrey yang mengetuk pintu.

“Sudah jam setengah lima Son, cepetan siap-siap..” katanya.

“Sorry, aku masih ada tamu..” kataku tersenyum.

“Biar kubangunkan dulu..” kataku lagi.

“Tamu?” tanya Andrey sambil melongok ke dalam ke kamar.

“Mana?”

Aku pun menoleh dan menunjukkan dengan jariku ke ranjang. Tetapi alangkah kagetku ketika melihat ranjang sudah kosong. Tak ada tubuh Mbak Lasmini yang telanjang, tak ada BH dan CD serta pakaiannya yang berserakan di lantai, tak ada sandalnya, tak ada siapa-siapa. Bagaimana mungkin Mbak Lasmini begitu cepat pergi? Kulihat jam dinding menunjukkan waktu pukul 04:40 WIB. Bagaimana mungkin dalam waktu cuma 10 menit Mbak Lasmini pergi dengan membawa semua pakaiannya yang berserakan? Ah, mungkin dia malu dan sembunyi di kamar mandi.

Maka, aku pun segera melihat ke kamar mandi, sementara si Andrey melangkah masuk sambil melihat ke segala sudut kamar tidur. Ternyata kamar mandi juga kosong. Aku benar-benar kaget dan ketakutan. Lantas kemana perginya Mbak Lasmini?

“Mana tamunya Son?” tanya Andrey.

“Kamu ini ada-ada saja lha wong tadi kamu datang dan masuk ke kamar sendirian gitu lho!”

“Aku tadi sama cewek cantik namanya Lasmini, Ndrey..” kataku setengah takut.

“Aku tadi melihat masuk kamar sendiri Son. Aku nggak lihat ada cewek bersamamu.” katanya.

“Tidak Ndrey.. aku bawa teman cewek tadi. Lihat ini di sebelah atas dadaku ini ada bekas gigitannya masih ada..!” aku ngotot.

“Lantas dimana dia sekarang koq nggak ada?” desak Andrey.

“Kalau tidak percaya.. ayo kita tanya sama resepsionis,” ajakku sambil mengenakan sarung. Kami pun lalu ke loby dan kebetulan resepsionis yang tugas semalam belum pulang. Aku segera menghampirinya dan bertanya, apakah tadi pagi aku pulang sendirian atau membawa teman cewek? Dengan santai kedua resepsionis itu menjawab bahwa aku pulang sendirian. Ah Masa?

“Iya Pak, anda tadi pulang sendirian.. Masak kami bohong?” jawab keduanya.

“Jadi saya tidak membawa wanita tadi?” desakku kurang percaya.

“Tidak Pak, anda sendirian tadi..”

Saat itu Erik yang sudah selesai mengatur tas di bagasi mobil Masuk. Dia bertanya ada apa dan aku mencoba menjelaskan. Erik tertawa, “Kamu ini ada-ada saja Son,” katanya. “Wong aku lihat kamu Masuk kamar sendirian koq..”

Semula disangkanya aku mengada-ada dan kedua temanku itu menanggapinya dengan seloroh pula. Namun setelah aku bersumpah “pocong” dan bicara serius, keduanya ikut ketakutan. Menurut mereka aku telah bercinta dengan hantu penunggu pemandian Watugede yang berubah wujud jadi cewek cantik.

“Makanya jangan suka keluyuran di tempat-tempat begitu,” kata Erik.

“Kalau mau nyepi ya sungguh-sungguh bersih, jangan ngawur, ada cewek cantik di jalan diembat saja.” katanya lagi.

“Kapok!!”

Aku tak berani kembali sendiri ke kamarku. Ketika aku berkemas, kusuruh Andrey dan Erik duduk di ranjang. Aku benar-benar takut dan tak habis mengerti bagaimana hal itu bisa terjadi pada diriku. Melihat ranjang yang masih lusuh itu aku jadi ngeri. Apalagi ketika kulihat bekas spermaku membasahai sprei dan guling.. hii.. ternyata aku telah bercinta dengan hantu! Tapi enak lho pembaca.. upss.

Persis jam enam kami meninggalkan hotel untuk ke Surabaya. Mobil berjalan santai di tangan Andrey yang memang bertugas sebagai sopir kami. Tapi pas melewati “Patung Ken Dedes”, aku kaget minta ampun di depan duduk bersila Mbak Lasmini dengan pakaian kerajaan kuno dia tersenyum padaku.

“Jangann.. ohh.. tidakk..” teriakku.

“Ada apa Son, koq teriak-teriak..?” tanya Erik.

“Itu.. dia ada di depan patung itu..” kataku sambil menunjuk ke arah patung.

“Ah.. kamu ada-ada saja. Wong nggak ada siapa-siapa disitu,” kata Erik.

“Sudahlah.. nggak usah bicara itu lagi. Sebaiknya loe tidur aja Son.. ya,” kata Andrey.

Kurang dari setengah jam kami sudah mendekati tapal batas Singosari. Erik dan Andrey menepikan kendaraan di sebelah kanan untuk membeli apel Batu di pasar buah Mandoroko. Karena masih diselimuti rasa takut dan resah, aku tidak ikut turun. Aku titip saja 5 kilo rambutan Aceh dan 5 kilo apel manalagi.

Duduk diam memandang kesibukan para pedagang buah dan orang-orang kaya yang membelinya, hatiku sedikit tenteram. Kucoba menghilangkan bayangan Mbak Lasmini dari mataku. Cewek itu sungguh luar biasa dalam ngeseks tadi malam. Mungkin karena dia bukan manusia maka dia bisa melakukannya dengan sangat baik. Tetapi, apakah nanti tidak ada efeknya pada diriku karena telah bersetubuh dengan hantu cantik?

Ketika aku sedang merenung itulah tiba-tiba mataku melihat sesosok tubuh ramping di seberang jalan, di depan pompa bensin. aku benar-benar terkejut sampai terlonjak dari tempat dudukku. Mbak Lasmini berdiri di sana sambil memandang ke arahku. Bibirnya tersenyum dan wajahnya ceria sekali. aku ketakutan sampai berkeringat. dan mataku melotot ke arah seberang jalan.

“Hah.. kenapa lagi kamu Son?” teriak Erik sambil memegang keningku.

“Keringatmu dingin dan banyak sekali!”

“Ada apa lagi sih Son?” tanya Andrey.

Aku tak bisa menjawab karena takut. Aku berusaha menyebut nama Mbak Lasmini, tetapi tak ada suara yang keluar dari mulutku yang cuma bisa komat-kamit. Namun aku berhasil mengangkat tangan dan menunjuk ke seberang jalan. Kedua temanku segera mengikuti arah yang kutunjuk.

“Ada Son? Pompa bensin?” tanya Andrey heran.

“Bensinnya sudah diisi koq!”

“Las.. Lasm.. mini!”

Akhirnya nama itu meluncur juga dari mulutku meski terucap amat perlahan.

“Mana?” Erik ikut melihat ke seberang jalan.

“Itu!” jariku tetap menunjuk ke seberang jalan sebab Lasmini memang masih berdiri tegak di sana dengan masih menggunakan pakaian kerajaan kuno. Dia memang cantik sekali bagai dewi dari kahyangan. Mungkin bila dia ikut pemilihan “Miss Universe” dia akan keluar sebagai juara. Lalu, dia kini melambai-lambaikan tangan ke arahku. Namun kedua rekanku tetap saja menyatakan tidak melihat siapa-siapa. Meski aku ketakutan setengah mati, kedua rekanku santai-santai saja. Andrey segera menstater mobil meluncur kembali di jalan raya dengan cepatnya.

Mataku tak lepas memandangi Lasmini yang masih berdiri disana sambil melambaikan tangan. aku sampai membalikkan tubuh dan memandangnya terus sampai hilang di kejauhan. Aku tidak pura-pura, tidak mengada-ada. Yang kulihat itu benar-benar Lasmini, cewek cantik yang dini hari tadi bercinta denganku! Semua tak percaya, tetapi itulah yang kualami dan Tuhan pasti tahu apa yang sebenarnya terjadi! Oh.. nasibku..

TAMAT

Tags : gadis telanjang gambar bugil,gadis telanjang indonesia,gadis telanjang indonesia gadis,gambar anak telanjang,gambar cewe telanjang,gambar telanjang mahasiswa bandung,kontol anak telanjang,kumpulan foto abg telanjang,luna maya telanjang,nurul syuhada nurul ain telanjang,photo dewi persi telanjang,pns telanjang,pondok putri gadis telanjang,sandra dewi telanjang,skodeng awek telanjang

Kisah Dewasa – Mba Indah, Aku Rindu Kamu

18 April 2010 pada 12:40 | Ditulis dalam Kisah Dewasa | 1 Komentar
Kaitkata: , , , , , , , , , , , , , ,

Cerita ini terjadi waktu aku masih berumur 12 tahun. Walau cerita ini udah lama terjadi, tapi peristiwa ini masih membekas dipikiranku. Tentu aja masih membekas, soalnya peristiwa inilah yang membentuk aku jadi maniak seks seperti sekarang.

Mba Indah adalah keponakan jauh ibuku yang ikut tinggal dirumahku. Ya, dia ikut keluargaku sebab keluarganya kurang beruntung. Dia ikut keluargaku sejak kelas dia 2 SMP. Kejadian ini terjadi saat mba indah duduk di kelas 3 SMA

Mba indah adalah seorang perempuan yang sangat menarik. Wajahnya cantik, rambutnya panjang, kulitnya putih dan bodynya… hmmm.. masih tergambar jelas bodynya yang aduhai. Aku masih ingat bagaimana dulu aku sering sekali memelototi dadanya yang ranum. Sebenarnya dadanya tidak terlalu besar, tapi membusung kedepan, benar-benar bulat sempurna. Aku juga senang sekali memperhatikan lekukan pinggangnya yang seperti gitar spanyol itu, pantatnya yang membulat dan pahanya yang putih. Apalagi kalau dia memakai celana pendek favoritnya, terlihat jelas paha mulusnya dan betis bulir padinya yang aduhai. Hmmm…. Pantas saja banyak teman prianya yang mengejar-ngejarnya.

Kejadian ini terjadi waktu aku tinggal berdua denga mba indah dirumah. Bapakku seperti biasa pergi ke kantor dan ibuku pergi kerumah temannya dengan membawa adikku yang masih kecil.

Awalnya aku bermain diluar bersama teman-temanku, tapi karena turun hujan akhirnya aku pulang kerumah dan tinggal berdua dengan mba indah. Dari pada tidak ada kerjaan, aku menonton tv. Selagi asik menonton kartun di tv swasta satu-satunya waktu itu, mba indah keluar dari kamarnya dan memanggilku. Saat itu mba indah memakai kaos putih dan rok SMA nya. Aku menebak pasti dia tidak pakai bra, soalnya puting payudaranya tercetak di kaus putih yang tipis itu.

“Rian ! Ke kamar mba indah yuk sebentar” panggil mba indah. aku yang sebenarnya lagi asik menonton dengan agak malas akhirnya masuk ke kamar mba indah.

“Ada apa mba ?” tanyaku.

“Dari pada nonton tv, mendingan main sama mba indah” katanya

“Main apa ?” tanyaku.

“Kita main dokter-dokteran yuk” ajaknya

Aku tertawa.. “Wah itu kan mainannya anak perempuan, lagian aku kan udah gede” jawabku. Padahal adikku sering mengajakku bermain dokter-dokteran.

“Ini beda, kan mba udah dapet pelajarannya di SMA” katanya merayuku.

“Hmmm… ya udah, jadi gimana mainnya ?” tanyaku.

“Mba yang jadi dokternya, kamu yang jadi pasiennya. Sudah kamu tiduran dulu ditempat tidur, mba siap-siap” suruhnya.

Kemudian aku naik ke tempat tidurnya dan berbaring terlentang.

“Sakit apa de ? saya periksa dulu ya…” kata mba indah berakting. Kemudian dia menaikkan bajuku dan mengetuk-ngetuk dadaku layaknya seorang dokter.

“Wah de ini sakitnya parah” katanya. Aku tertawa kecil karena mba indah pandai sekali meniru seorang dokter. Kemudian tangannya turun mengetuk-ngetuk perutku sambil berkata “Sepertinya penyakitnya ada dibawah sini” kemudian dia berusaha membuka kancing celanaku.

Tanganku memegang tangannya, menahan dia membuka celanaku. “Kok celananya dibuka mba ?” tanyaku. Walaupun aku masih kecil, tapi waktu itu aku sudah mengerti perbedaan antara pria dan wanita.

“Mau disembuhin penyakitnya gak ?” katanya sambil pura-pura melotot. Aku terdiam, kemudian melepaskan tangannya. Dia tersenyum kemudian berkata “Gitu dong, kan mau diobatin”.

Kemudian dia melepas kancing celanaku dan resletingnya. Kemudian dia melorotkan celanaku hingga terpampanglah burung mudaku. Aku hanya diam menahan malu.

“Wah ini dia sumber penyakitnya” katanya riang kemudian memegang burungku. Kemudian dia duduk disebelahku. Mukaku semakin merah, apalagi burungku secara perlahan tapi pasti menegang membesar.Mba indah malah tertawa “Nah aku bilang apa, ini dia masalahnya, tuh dia makin keras, makin besar !” sambil mengelus-ngelus lembut burungku.

Tubuhku tergetar karena nikmat yang menjalari tubuhku. Burungku makin tegang dan makin membesar.

“Mba…” kataku lemah karena keenakan. “Tenang ya rian, mba obatin dulu ya” katanya. Celanaku dibuka secara penuh kemudian dia menaruhnya di kursi dekat meja belajarnya. Selangkanganku dilebarkan, kemudian dia berpindah posisi, dia duduk diantara kedua pahaku.

Kemudian mba indah mulai mengulum penisku. Aku semakin menerawang, inilah kenikmatan yang belum pernah aku rasakan sebelumnya.

Saat mba indah mengulum dan menyedot-nyedot penisku, dia mengeluarkan suara-suara erotis diantara keluar masuknya penisku di mulutnya. Ternyata saat aku melihat, tangan kirinya meremas-remas payudaranya. Hmm tak heran badannya ikut bergetar saat mengulum penisku.

Tiba-tiba mba indah berhenti mengulum penisku. “Sebentar ya” kata mba indah yang kemudian berdiri. Aku hanya menatapnya dengan tatapan tidak rela karena tidak ingin kehilangan kenikmatan tadi.

Ternyata mba indah melorotkan celana dalamnya. Karena dia memakai rok, celana dalamnya langsung turun, kemudian dia membuangnya kelantai. Dia kembali duduk diantara selangkanganku, tapi kali ini dia agak melebarkan pahanya.

Mba indah kembali mengulum penisku. Badanku kembali bergetar keenakan. Diantara sadar dan tidak, aku mulai mencium suatu bau khas, yang sekarang aku tau kalau bau itu adalah vagina.

Aku melihat mba indah yang terus mengulum penisku. Tangan kirinya yang tadi meremas-remas payudaranya sekarang berada di selangkangannya, tapi aku tidak bisa melihat apa yang dilakukan tangan itu sebab tertutup kain rok yang masih dipakainya. Tapi aku menduga bau khas tadi pasti berasal dari selangkangannya itu.

Kenikmatan naik sampai ubun-ubunku, badanku bergetar hebat.

“Mba… aku mau pipis…” kataku sambil menahan dorongan hebat dipenisku. Tapi mba indah tidak memperdulikan, bahkan mempercepat kulumannya. Aku merasa gila karena keenakan.. “Crotz… Crotz.. Crot..” akhirnya aku mengeluarkan pipisku di mulutnya, aku baru tau kemudian kalo itu adalah cairan sperma

Mba indah menyedot semua cairan spermaku, kemudian dia tersenyum padaku. “Enak kan diobatin sama mba ?” tanyanya sambil mengelap sisa-sisa sperma dipenisku.

Aku cuma menganggu kecil. Aku sangat lelah ! Rasa kantuk menyerangku.

“He..he..he.. abis diobatin langsung ngantuk” tawa mba indah.

Aku berusaha menahan kantukku, tapi rasanya berat sekali. “Ya udah tidur aja dulu gih” suruh mba indah yang kemudian berbaring terlentang disebelahku.

Diantara terbuka dan tertutupnya mataku, aku melihat mba indah menaikkan kaosnya sehingga terpampanglah payudaranya. Kemudian dia meremas-remas kedua payudaranya sendiri. Suara-suara lenguhan mulai terdengar dari mulutnya.

Sepertinya dia tidak puas hanya meremas payudaranya, dia menyibak roknya keatas. Dari samping aku melihat selangkangannya yang ditumbuhi bulu-bulu halus. Aku tidak bisa melihat jelas, tapi aku melihat jari tengahnya keluar masuk dari lobang yang mengeluarkan bau harum tersebut.

Tangan kirinya meremas-remas payudaranya, jari tengah tangan kanannya keluar masuk memeknya. Badannya menegang, sesekali melengkung keatas, seperti selangkangannya mengejar sesuatu. Suara lenguhannya maikin keras dan makin cepat…. dan aku tertidur.

Entah berapa lama aku tertidur, tapi saat aku terbangun aku melihat mba indah tidur terlentang disampingku. Tangan kirinya masih dipayudaranya dan tangan kanannya masih diselangkangan, sama persis dengan keadaanya sebelum aku tertidur. Bedanya badannya seperti terkulai lemas, tidak setegang tadi.

Lama aku memandangi tubuhnya. Tenggorokanku tercekat, sebab baru kali ini aku melihat langsung payudaranya yang bulat itu. Apalagi memek yang ditumbuhi bulu-bulu halus itu. Aku menelan ludahku. Walau sering membicarakan dengan temanku tentang tubuh wanita, tapi melihat langsung memang jauh lebih nikmat.

Kemudian pandangannku tertumbuk pada memeknya. Aku jadi ingat bau khas yang aku cium tadi. Aku bergeser untuk duduk diantara selangkangannya yang masih terbuka lebar itu. Perlahan aku menggeser tangan kanan yang masih “hinggap” diselangkangan.

Dadaku berdebar, takut mba indah terbangun, tapi usahaku berhasil, tangannya kini berada di samping tubuhnya.Perlahan aku elus memek itu dengan jari tengahku. Hmm.. agak berlendir. Kemudian aku mencium jari berlendirku. Aha.. ! benar kan dugaanku, bau itu dari memeknya.

Tapi aku kurang puas. Aku elus lagi memeknya dengan jari tengahku. Aku coba untuk menusuk lebih dalam agar mendapat lendir lebih banyak. Aku tusuk keluar masuk walau tidak terlalu dalam, tapi aku belum mendapat lendir sebanyak yang aku mau.

Seiring aku menusuk-nusuk memeknya, perlahan pinggul mba indah bergoyang sedikit mengikuti jariku. Aku merasa memek mba indah makin berlendir, aku tersenyum puas. Saat jariku terasa cukup berlendir, aku mengangkatnya dan menciumnya. Wah… baunya sangat kuat tapi aku sangat menyukainya.

Suka akan baunya, keingintahuanku timbul untuk mencoba rasanya. Aku menjilat jari berlendirku itu. Hmm.. rasanya aneh, agak hambar, sedikit asin. Tapi entah mengapa aku suka sekali.

Kemudian aku mengambil lagi lendir itu dari memek mba indah dan menjilatnya lagi. Tapi aku kurang puas. Akhirnya aku dekatkan mukaku ke memek mba indah. Aku buka lipatan luar memeknya, terlihatnya bibir vaginanya yang berwarna merah muda. Memek tersebut basah dengan lendir.

Perlahan aku menjilat memek mba indah. Nikmat sekali menikmati lendir dari sumbernya .

“Uh..uh..uh…” lenguh mba indah setiap lidahku menyetuh dinding vaginanya. “Ahhhh…” lenguhnya panjang saat aku menjilat daging kecil di bagian atas lobang memeknya. Badannya semakin bergetar dan pinggulnya maju kedepan setiap lidahku lepas dari memeknya. Sepertinya memeknya mengejar lidahku, ingin dijilat lagi.

Tiba-tiba kepalaku terdorong masuk ke memeknya. “Aduh rian enak banget !!” pekik mba indah. Ternyata mba indah sudah bangun dan tangannya menekan kepalaku ke memeknya.

Aku mengangkat kepalaku dan tersenyum padanya. “Ayo rian lagi… mba gak tahan nih..”.

Aku kembali menjilati memeknya dengan lebih semangat. Tangannya tetap dikepalaku, menekan setiap aku mengangkat kepalaku.

“Ah..ah..ah.. aduh rian enak banget..” ujarnya sambil mengangkat-angkat pinggulnya mengejar lidahku. “Shit… enak banget” sambil menggerak-gerakkan kepalanya kekiri dan kekanan.

“Akhhh…… ” pekik mba indah yang kemudian menarik tubuhku keatas untuk menindihnya. Dia kemudian memegang kepalaku dan kemudian memagut bibirku. Dia nafsu sekali mencium bibirku yang penuh dengan lendir memeknya tersebut.

Akupun terangsang hebat. Aku membalas ciumannya. Tanganku meraba-raba payudaranya yang kenyal itu. Penisku tegang penuh karena ciuman itu.

Kami berciuman sangat hebat, “clop..clop…clop” bunyi diantara ciuman saling sedot kami. Tangan mba indah memegang penisku dan mengocok perlahan. Nikmat sekali, tapi aku lebih bisa mengendalikan diri sekarang.

“Rian, masukin ya sekarang, mba udah gak tahan !” ujarnya sambil menatapku dengan pandangan sayu. Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang dia maksud, tapi saat dia menarik penisku kearah memeknya, aku bergeser kebawah sedikit karena perbedaan tinggi kami.

Mba indah mengarahkan penisku ke memeknya, kemudian menggesek-gesekkan kepala penisku di bibir vaginanya. Tak lama kemudian dia menarik penisku untuk masuk lebih dalam, secara reflek aku mendorong pinggulku. Perlahan penisku masuk kememeknya. Akh.. nikmat sekali memasukkan penis ke lobang licin yang menjepit itu.

Mba indah menekan pantatku sampai penisku amblas masuk ke memeknya semua. Kemudian dia menahan pantatku. Aku melihat wajahnya. Matanya dipejamkan dengan kepala agak dimiringkan kekanan, aduh seksinya. Kemudian aku mulai merasa penisku seperti diurut-urut oleh jari-jari kecil didalam memeknya. tdak terbayang kenikmatan saat itu.

Mba kemudian menggerak-gerakkan pinggulnya sehingga penisku keluar masuk memeknya sedikit. Sensasi kenikmatannya lebih dahsyat dari urutan memeknya tadi. “Rian gerakin dong burungnya” pintanya memelas tapi tidak menghentikan goyangan pinggulnya.

Aku mulai menggoyangkan pinggulku mengikuti gerakkannya. Sekarang penisku keluar masuk memeknya lebih banyak. “Akh…akhh… akhh…” lenguhnya sambil menggoyangkan kepala kekiri kekanan.

Mukaku yang berada didepan lehernya menciumi dan menjilati leher mba indah dengan sangat bernafsu.Aku lengkungkan badanku, kemudian aku penyedot pentil payudara kirinya. Badannya ikut melengkung dan bergetar hebat. Aku pindah ke payudara kanannya, dia melenguh hebat “Akkhhh…” kemudian menggigit bibir bawahnya.

Setelah beberapa menit kami dalam posisi tersebut, kemudian mba indah bangkit “Rian gantian ya, kamu dibawah, supaya lebih enak”.

Aku setuju saja, kemudian aku tidur terlentang. Penisku berdiri menantang.

Kemudian mba indah jongkok diselangkanganku. Dia memegang penisku, mengarahkan kememeknya yang dia turunkan. Bless… penisku masuk seluruhnya kememeknya. Mba indah kemudian menjajarkan tubuhnya dengan tubuhku. Dia kemudian tersenyum padaku “Rian kamu hebat banget, kamu udah ngegagahin aku” katanya lirih menggoda. Kemudian dia memagut bibirku.

Perlahan dia menggoyangkan pinggulnya, dan aku juga berusaha menggarakkan pinggulku, tapi agak susah. Akhirnya aku cuma diam meremasi payudaranya.

Ciuman kami lepas saat goyangannya makin kencang. “Agh.. akh.. agh..” pekiknya setengah berteriak. Goyangan mba indah makin kencang, sesekali dia memutar kepalanya untuk meyibak rambutnya yang jatuh kebawah.

“Akh..akh… akh..AGGHHHHHH…” tiba-tiba tubuhnya menegang. Dia menekan memeknya ke penisku. Gerakkannya terhenti. Matanya terpejam. Setelah beberapa lama dia membuka matanya kemudian berkata “Ahh…. rian enak bangetth..” dengan nafas terengal-engal. Kemudian tubuhnya amburk ketubuhku.

Aku yang belum puas coba menggerakkan pinggulku. Memeknya terasa jauh lebih licin dari sebelumnya. Cairannya makin banyak.

“Kamu belum puas ya ??” tanyanya sambil memandangku dengan wajah puas. “Iya mba, sedikit lagi” jawabku.Kemudian mba indah bergeser, kemudian tidur terlentang. Kemudian dia membuka selangkangannya lebar. Aku mengerti maksudnya, kemudian aku memposisikan tubuhku diantara selangkangannya. Aku mengarahkan penisku ke memeknya dan menekannya masuk. “Hgkh..” pekiknya saat penisku masuk.

“Rian yang cepet ya..” katanya lirih. “Udah gak enak lagi ya mba ?” tanyaku. “Masih enak, tapi mba capek banget” jawabnya lirih.Aku menggoyangkan pinggulku dan memusatkan untuk mengejar kepuasanku. Tak lama kemudian aku merasa ada yang ingin keluar dari penisku, aku menekan penisku dalam-dalam kememeknya dan mengeluarkan spermaku banyak-banyak didalam memeknya.

Aku mencabut penisku, dia terseyum lebar. Kemudian kami tidur saling berpelukan.

================================

Semenjak itu setiap ada kesempatan aku dan mba indah selalu melakukan hubungan sex. Selalu dikamarnya, dan tidak ada orang lain yang curiga.

Setelah mba indah lulus, dia kerja di kota sebelah, kemudian dia menikah di kota tersebut. Hmm.. aku merindukan saat-saat aku bersama mba indah….

TAMAT

Tags : Kisah dewasa,17 tahun keatas,cerita seru 17 tahun,cewek 17 tahun,gadis 17 tahun,memek 17 tahun,film dewasa,cerita lucu,gadis telanjang gambar bugil,gadis telanjang indonesia,gambar cewe telanjang,gambar telanjang mahasiswa,kumpulan foto abg telanjang,pns telanjang,pondok putri gadis telanjang

Blog pada WordPress.com. | Tema: Pool oleh Borja Fernandez.
Tulisan dan komentar feeds.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.